
2 hari kemudian...
Dara berjalan dengan sangat pelan, saat ini ia sudah berada didepan pintu gerbang rumah Arham. Dara sendiri bingung kenapa kakinya terus melangkah menuju kediaman Arham. Namun tanpa Dara sadari pintu gerbang pun kini sudah terbuka dan menampakkan seorang wanita paruh baya.
"Dara!!" seru wanita itu sangat terkejut, begitu pun dengan Dara yang tak kalah terkejut.
"Ya allah, ini beneran kamu sayang? Alhamdulillah, ternyata Arham benar jika kamu masih hidup" ujar wanita itu yang tak lain adalah Hesti. Hesti memeluk Dara dengan begitu erat. Dara hanya bisa diam, ia sama sekali tidak mengenal Hesti.
"Ayo masuk" ajak Hesti menarik Dara untuk masuk, Dara sama sekali tidak menolak. Ia mengikuti langkah Hesti dengan pelan, Dara memperhatikan sekeliling rumah Arham yang sudah tidak asing lagi untuknya.
Langkah Dara terhenti saat Hesti membuka pintu rumah, kepalanya kembali berdenyut dan sekilas bayangan itu kembali muncul.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Hesti panik saat melihat Dara menyentuh kepalanya.
"Maaf, saya mau pulang" ucap Dara melepaskan tangan Hesti.
"Pulang? Ini rumah kamu sayang, ayok masuk" ucap Hesti begitu semangat.
"Maaf tapi... " Dara menghentikan ucapannya saat mendengar suara tangisan bayi. Tanpa pikir panjang Dara langsung masuk kedalam untuk mencari suara itu. Dara langsung berjalan menuju pintu kamar utama karena ia bisa mendengar dengan jelas suara itu berasal dari sana. Dengan ragu Dara memutar handle pintu dan membuka pintu.
Tatapan Dara langsung tertuju pada Arham yang kini sedang menggendong Ara yang masih menangis. Tidak ada lagi rasa ragu di hati Dara, ia langsung masuk untuk menghampiri Arham. Bukan Arham yang menjadi tujuan Dara melainkan bayi mungil yang di gendong Arham.
"Maaf, boleh saya yang gendong?" tanya Dara pada Arham. Arham mengangguk dan langsung memberikan Ara pada Dara.
"Sssuutt, anak bunda tidak boleh nangis" ucapan itu terlontar begitu saja dari mulut Dara, Arham yang mendengar itu pun sangat bahagia.
"Kamu sudah mengingat semuanya?" tanya Arham menatap Dara penuh harap dan hendak mendekati Dara. Namun dengan cepat Dara menghindar dan menggelengkan kepalanya. Arham terdiam sesaat, namun tak lama Arham tersenyum dan mengangguk.
"Aku akan keluar dan tidak akan mengganggu kalian" ucap Arham yang langsung beranjak keluar dari kamar. Dara menatap Arham yang kini sudah menghilang di balik pintu. Lalu pandangan Dara berlaih pada sebuah foto yang terpajang begitu besar didinding. Ya, itu adalah foto dirinya dan Arham memakai gaun pengantin.
"Oek... oek... " tangisan Ara kini semakin kencang, Dara pun sangat terkejut dan berusaha untuk menenangkan Ara.
"Cup cup cup... Ini bunda sayang, jangan menangis. Ara haus ya?" ucap Dara mengelus wajah Ara dengan lembut, seulas senyuman terlihat di bibir Dara saat tangisan Ara berhenti.
"Anak bunda sangat cantik, bunda minta maaf sudah melupakan kamu sayang" ucap Dara meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Bunda janji, bunda tidak akan pergi lagi" ucap Dara mencium Ara dengan lembut. Tanpa Dara sadari, Arham melihat semua itu lewat celah pintu. Arham tersenyum bahagia melihat dua orang yang begitu berharga untuknya bersatu kembali.
"Aku akan menunggumu" ucap Arham yang langsung beranjak pergi.
"Maaf bunda tidak bisa kasih kamu asi" ucap Dara menatap wajah Ara yang kini sudah tertidur.
"Bisa sayang, mama akan membantu kamu agar kamu bisa memberikan asi pada Ara. Mulai sekarang kamu harus banyak makan sayur dan minum susu" ujar Hesti yang tiba-tiba muncul dan berhasil membuat Dara terkejut.
"Tapi Dara tidak suka susu" ucap Dara menatap Hesti.
"Tapi dulu saat kamu hamil Ara kenapa kamu selalu rutin minum susu? Bahkan kamu tidak bilang pada mama kalau kamu tidak suka susu" ujar Hesti menatap Dara bingung.
"Maaf, Dara tidak mengingatnya" ucap Dara, Hasti pun merasa bersalah karena ia lupa jika Dara saat ini masih belum mengingat apapun.
"Tidak apa-apa sayang, kita akan usahakan agar kamu bisa menyusui Ara" ucap Hesti mengelus pundak Dara. Dara pun tersenyum dan kembali menatap Ara yang begitu lelap dalam tidurnya.
"M-ma, apa dulu Dara selalu menyusahkan kalian?" tanya Dara dengan gugup.
"Tidak sayang, selama ini kamu tidak pernah sekali pun menyusahkan kami" ucap Hesti mengelus kepala Dara.
"Apa Dara juga sudah buat kesalahan pada kalian? Kenapa Dara tidak bisa mengingat kalian? Bahkan Dara juga melupakan anak Dara sendiri" ujar Dara begitu pilu.
"Dara minta maaf" ucap Dara menatap Hesti, Hesti pun tersenyum dan menggeleng.
"Tidak perlu minta maaf, kamu tidak salah sayang. Terimakasih sudah berjuang untuk melahirkan Ara, demi si cantik ini kamu rela mengorbankan nyawa kamu. Mama salut dengan pengorbanan kamu, kamu adalah ibu terbaik sayang" ucap Hesti merangkul pundak Dara dan mengelus wajah Ara.
"Benarkah ma? Apa Dara melakukan itu semua?" tanya Dara tersenyum menatap Ara.
"Iya sayang, kamu tahu saat itu tidak bisa melahirkan Ara karena kondisi kamu, tapi kamu tetap mempertahankan Ara hingga ia lahir. Bahkan kami tidak pernah tahu jika kandungan kamu ada masalah. Kamu tahu? Arham begitu terpukul saat mendengar kepergian kamu, dia tidak pernah menerima jika kamu sudah tidak ada. Arham selalu menangis setiap malam sambil memeluk foto kamu, dia selalu mengharapkan kamu pulang"
"Feeling nya begitu kuat, kamu kembali kesini. Lihat lah, kini Arham sudah kembali seperti semula. Ia sudah kembali rapi dan selalu tersenyum, sebelumnya ia sama sekali tak pernah tersenyum bahkan ia sangat jarang bicara kalau bukan bicara pada Ara"
Dara mendengar semua cerita Hesti dengan begitu seksama. Hesti benar, beberapa hari yang lalu penampilan Arham sedikit berantakan dengan bulu-bulu halus yang memenuhi sebagian wajahnya. Namun kini bulu-bulu itu sudah tak melekat lagi di wajah Arham, Arham terlihat lebih tampan dari yang pertama Dara temui. Dara terkejut dari lamunananya saat Ara bergerak dan hendak menangis.
"Sssttt,,, kamu haus ya? Tunggu sebentar bunda buatkan susu dulu"
__ADS_1
"Ma, boleh tunjukkan dimana dapur?" tanya Dara yang langsung dijawab anggukan oleh Hesti.
"Ayok ikut dengan mama sayang" ucap Hesti berjalan keluar dari kamar. Dara pun mengikuti langkah Hesti dibelakang. Dara berhenti saat melihat Arham turun dari lantai atas.
"Ara belum tidur?" tanya Arham pada Dara, Dara menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Ara haus" ucap Hesti.
"Biarkan Arham yang buat Ma" ucap Arham hendak pergi, namun dengan cepat ditahan oleh Dara. Arham menatap tangan Dara yang kini berada di lengannya. Dara yang tersadar akan hal itu langsung menarik tangannya.
"Maaf, biar saya yang buatkan susu untuk Ara" ucap Dara memberikan Ara pada Arham dan langsung berjalan menuju arah dapur.
"Sabar, semua butuh proses" ucap Hesti tersenyum pada Arham.
"Arham akan selalu menunggu ma" ucap Arham berjalan menyusul Dara kedapur. Arham tersenyum saat melihat Dara yang sedang sibuk membuatkan susu untuk Ara.
"Kamu sangat beruntung sayang, bunda kamu begitu perhatian" ucap Arham pada Ara yang terus mengeluarkan lidahnya.
Dara membalikan tubuhnya dan ia sedikit tersentak saat melihat Arham sudah berdiri di belakangnya.
"Maaf aku membuatmu terkejut" ucap Arham.
"Ya, tidak apa-apa" ucap Dara sambil mengambil Ara dari Arham.
"I love you" ucap Arham yang kemudian langsung pergi. Dara yang mendengar itu sangat terkejut, namun hatinya begitu senang saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut Arham. Semburat merah di pipi Dara kini mulai terlihat, Dara juga meraskan pipinya memanas.
"Ada apa dengan diriku?" tanya Dara yang bingung pada dirinya sendiri, ia menggelengkan kepalanya dan langsung beranjak kembali menuju kamarnya.
***
Dara membuka pintu balkon, matanya membulat saat melihat hamparan bunga mawar yang menghiasi taman.
"Lihat, cantik sekali sayang" ucap Dara menatap Ara yang tertidur di gendongnya. Dara tersenyum sendiri saat melihat taman yang memikat hatinya.
Selang beberapa waktu, sebuah tangan melingkar di perut Dara. Dara sangat terkejut dan hendak berbalik, namun sebuah tangan lagi menahan agar Dara tidak bergerak.
__ADS_1
"Jangan bergerak, biarkan seperti ini sebentar sayang. Aku sangat merindukanmu, terakhir kali aku memelukmu seperti ini saat perutmu masih besar" ujar Arham meletakkan dagunya di bahu Dara. Arham sadar jika saat ini tubuh Dara begitu tegang, namun Arham pura-pura tidak sadar akan hal itu karena ia memang sangat merindukan Dara. Arham akan memanfaatkan waktu berharga ini bersama keluarga kecilnya.
"Aku sangat mencintaimu, jangan pergi lagi Dara. Aku sangat takut kehilanganmu" ucap Arham, Dara yang mendengar itu masih tetap setia untuk diam. Dara bingung harus bicara apa, Dara belum mengingat apapun tentang Arham. Tapi Dara meraskan sebuah kehangatan dalam hatinya, sebuah kebahagiaan yang tak bisa Dara umpamakan.