
"Ra, aku.. aku gugup" ucap Syila menggenggam tangan Dara begitu erat. Dara saat ini sudah berada di rumah Syila, yang tepatnya di kamar Syila.
"Kenapa gugup, kamu tinggal bilang aja mau atau tidak menikah dengan bang Ical. Ikuti kata hatimu, kamu juga sudah minta petunjuk bukan?" ucap Dara menatap Syila.
"Iya Ra, tapi tetap aja aku gugup" ucap Syila sambil menggigit bibirnya, ia terlihat sangat pucat.
"Tarik napas, bismillah kamu harus yakin dengan keputusan kamu. Aku tidak akan menyuruh kamu untuk menerima abangku, semua keputusan ada pada kamu Syil" ucap Dara mengelus pundak Syila untuk memberikan kekuatan. Syila menatap Dara begitu lekat, lalu ia menunduk sambil mengangguk pelan.
"Ya sudah, kalau begitu kita keluar ya? Mereka sudah menunggu kamu" ucap Dara yang dijawab anggukan oleh Syila. Lalu mereka pun beranjak keluar dari kamar menuju ruang tamu.
Sesampainya di ruang tamu Dara duduk sebelah Zahra, sedangakan Syila duduk diantara kedua orangtuanya.
"Ara tidur?" tanya Dara saat melihat Ara tertidur di gendongan Zahra.
"Dia sudah capek bermain, jadi tertidur" ucap Zahra tersenyum.
"Bagaimana?" tanya Raffi meminta jawaban dari Syila. Syila menelan air ludahnya karena tenggorokannya terasa sangat kering.
"S.. Saya, saya setuju" ucap Syila dengan begitu gugup, namun jawabannya berhasil membuat semua orang bernafas lega.
"Alhamdulillah, kami sangat senang mendengarnya. Kami sangat beruntung bisa mendapatkan menantu cantik dan baik seperti kamu" ujar Zahra menatap Syila penuh kagum, siapa yang tak jatuh hati pada gadis cantik berhijab itu. Ia memiliki hati yang tulus dan sifat yang begitu lembut.
"Bunda, jadi Dara sekarang panggil Syila kakak dong. Ck, gak asik banget kan jadinya" ucap Dara mengerucutkan bibirnya. Semua orang yang mendengar itu langsung tertawa. Sedangkan Syila hanya bisa tersenyum dan menunduk.
"Kalau sudah jodoh mau bagaimana lagi?" ucap Raffi merangkul pundak Dara.
"Tapi gak papa kok, Dara memang sudah anggap Syila seperti kakak sendiri. Jadi mulai hari ini, kita resmi jadi adik kakak" ujar Dara dengan penuh semangat, yang lain mengangguk antusias menyetujui ucapan Dara.
Setelah semua urusan selesai, keluarga Dara pun berpamitan untuk pulang. Diperjalanan, pandangan Dara tak sengaja menangkap sosok yang sangat ia kenal sedang bicara dengan seorang wanita.
"Abang stop!!" seru Dara yang berhasil membuat Haikal terkejut dan menghentikan mobilnya mendadak.
"Ada apa?" tanya Zahra panik.
"Bunda, Dara titip Ara sebentar. Abang pulang aja duluan ya? Dara ada keperluan, tolong jaga Ara" ucap Dara yang langsung keluar dari mobil.
"Ada apa dengannya?" tanya Haikal bingung.
"Mungkin dia ada sesuatu yang penting, Dara sudah dewasa jadi biarkan dia mengurus urusannya sendiri. Kita harus pulang, kasian cucu ayah pasti dia sangat lelah" ucap Raffi, namun Haikal masih saja termenung melihat kepergian Dara.
"Ical, ayah benar. Kita harus cepat pulang, kasian Ara" ucap Zahra saat melihat kekhawatiran diwajah Haikal.
__ADS_1
"Iya yah, bun" ucap Haikal yang langsung melajukan mobilnya. Sedangakan Dara sedikit berlari untuk menghampiri orang yang tadi ia lihat.
"Lepaskan aku, kau... "
"Mas.." teriak Dara saat melihat tangan seorang wanita menggenggam tangan Arham.
"Dara?!!" seru Arham sedikit terkejut, ia langsung melepaskan cengkraman wanita itu dengan kasar. Arham langsung mendekati Dara, ia menarik Dara kedalam dekapannya.
"Jangan salah faham, ini tidak seperti yang kamu lihat. Aku kesini untuk menemui temanku yang sakit, aku tidak tahu kenapa dia ada disini" ujar Arham menjelaskan semuanya pada Dara. Dara merasa senang karena Arham langsung menjelaskan semuanya pada Dara, walaupun Dara tak meminta penjelasanya.
"Dara percaya mas, tapi mbak itu yang dulu kerumah bukan?" ucap Dara melepaskan pelukan Arham dan menatap wanita itu yang tak lain adalah Linda. Linda memberikan tatapan bingung pada Dara dan Arham.
"Apa kau sekarang masih tak percaya? Dia istriku, sampai kapan pun hanya dia yang akan menjadi istri dan ibu dari anak anakku. Cut Dara Maristha Pratama, istri dari Arham Maulana Pratama dan dia masih sehat seperti yang saat ini kamu lihat" ujar Arham menatap Linda sengit.
"Tidak mungkin, semua orang mengatakan jika istri bapak sudah meninggal... Kenapa... "
"Kita pergi sayang" ucap Arham tak menghiraukan ucapan Linda dan membawa Dara masuk kedalam sebuah rumah sakit. Dara menoleh kebelakang untuk melihat Linda, disana Linda terlihat menunduk dengan tubuh sedikit bergetar.
"Mas, apa kalain dulu punya hubungan?" tanya Dara menatap Arham.
"Tidak" jawab Arham singkat, padat dan penuh penekanan. Dara terdiam, ia tak lagi ingin bertanya saat melihat wajah datar Arham.
"Tidak apa-apa mas, teman mas perempuan atau laki-laki?"
"Kamu lihat saja sendiri nanti" ucap Arham, Dara yang mendengar itu hanya mengangguk.
"Mana Ara?" tanya Arham saat menyadari Dara hanya sendirian.
"Dengan bunda, tadi Dara tidak sengaja melihat mas jadi Dara minta turun dijalan" ucap Dara. Arham mengangguk dengan tangan semakin erat mengeggam tangan Dara.
"Ini kamarnya?" tanya Dara saat Arham berhenti didepan ruang rawat inap. Arham mengangguk dan langsung membawa Dara masuk kedalam.
"Assalamualaikum" ucap Dara dan Arham bersamaan, Dara menatap Arham saat melihat seorang pria sedang tertidur.
"Rama, teman baruku. Kami bertemu kemarin" ucap Arham seakan mengerti dengan tatapan yang Dara berikan.
"Kamu ternyata" ucap pria yang bernama Rama itu saat melihat kedatangan Arham. Lalu pandangannya beralih pada Dara yang kini menundukan kepalanya.
"Dia istriku, Dara" ucap Arham merangkul pinggang Dara, Dara mengangkat kepalanya dan menatap Rama sekilas.
"Cantik, lebih cantik dari apa yang aku banyangkan" ucap Rama membenarkan posisi tidurnya, Arham membantu Rama dengan lembut.
__ADS_1
"Terimakasih, Arham ajak istrimu duduk" ucap Rama.
"Duduk lah" ucap Arham menarik kursi untuk Dara, Dara tersenyum dan langsung duduk.
"Kau sangat beruntung masih bisa melihat dan bersamanya Ham, jaga dia dan jangan kau sia-siakan. Seperti yang aku katakan, penyesalan hanya akan datang di akhir" ujar Rama berhasil membuat Dara bingung dan menatap Arham.
"Aku tidak akan menyia-nyiakan istriku, dia sudah terlalu banyak berkorban demi aku dan juga anakku" ucap Arham menatap Dara, Dara yang mendengar itu hanya bisa menunduk.
"Baguslah, jangan jadi pria brengsek seperti ku. Setelah dia tiada, aku baru sadar jika aku sangat mencintainya" ujar Rama dengan tatapan yang penuh dengan luka. Dara sama sekali tak mengerti dengan pembahasan suaminya dan Rama pun hanya bisa diam.
"Aku juga bukan orang baik, sama seperti mu. Hanya saja Allah masih memberikan aku kesempatan. Aku juga pernah dalam posisi sulit sepertimu" ucap Arham.
"Ya, dari itu kau harus lebih bersyukur" ucap Rama. Dara sesekali menatap Arham, ia memberi kode untuk mengajak Arham pulang karena Ara akan menangis jika bangun tidur tak menemukan Dara.
"Rama, besok aku akan kesini lagi. Aku harus segera pulang, anakku akan menangis jika terlalu lama ditinggal oleh ibunya" ucap Arham yang dijawab anggukan oleh Rama. Dara menatap Rama dan tersenyum, Rama pun mengangguk.
"Istirahatlah, kau masih harus melanjutkan hidupmu" ucap Arham menepuk pundak Rama.
"Ya, kau benar" ucap Rama tertawa ringan. Arham pun berpamitan dan langsung membawa Dara untuk pulang.
"Mas" panggil Dara saat mereka sudah diperjalanan.
"Ya?"
"Yang tadi itu, em yang kalian bahas?" tanya Dara sedikit ragu. Arham yang mendengar itu tersenyum, sebelah tangannya terulur untuk mengelus kepala Dara.
"Dia mengalami kecelakaan kemarin, istrinya meninggal ditempat" ucap Arham yang berhasil membuat Dara sangat terkejut.
"Dia menceritakan jika selama ini ia tak pernah menganggap istrinya dan selalu memperlakukan istrinya dengan kasar. Mereka dijodohkan, Rama tak pernah menyukai istrinya karena menurutnya dia sangat kampungan dan kuno. Tapi sayang, saat hatinya mulai terbuka istrinya meninggal dalam keadaan sedang mengandung. Dia sangat menyesal, kemarin mas menemukan dia hendak bunuh diri" jelas Arham, Dara sama sekali tak bersuara. Air bening mengalir begitu saja dan ia meraskan hatinya begitu sakit.
"Kenapa begitu sakit" ucap Dara, Arham yang mendengar itu langsung menghentikan mobilnya ditepi jalan.
"Dengar sayang, aku minta maaf atas semua kesalahanku dimasa lalu. Tapi sekarang aku benar-benar sangat mencintai kamu, aku tidak ingin kehilangan kamu Dara. Aku minta maaf, aku tahu kamu tidak mengingat semuanya. Tapi aku mohon, jika kamu ingat tolong jangan tinggalkan aku" ujar Arham mengelus wajah Dara, Dara menatap wajah Arham yang begitu penuh penyesalan.
Dara menghapus air mata yang mengalir dipipi Arham, ia bingung dengan sikap Arham yang terlihat begitu rapuh. Dara menarik Arham kedalam dekapannya, Arham memeluk Dara dengan begitu erat.
"Jangan bicara lagi" ucap Dara saat mendengar Arham hendak bicara.
"Maaf" ucap Arham dengan suara parau, Dara mengelus punggung Arham dengan sangat lembut.
"Sebaiknya kita pulang, Ara pasti menunggu kita" ucap Dara, Arham melepaskan pelukanya. Ia menatap wajah Dara dan menganggukkan kepalanya. Lalu Arham pun kembali melajukan mobilnya untuk pulang.
__ADS_1