
"Mas cepat dong... Nanti kita terlambat." ucap Dara mengambil tas kecil miliknya.
"Iya sayang, tunggu sebentar. Ara sudah siap?" tanya Arham sambil membenarkan dasinya. Dara menghampiri Arham.
"Sudah." ucap Dara merapikan dasi dan kemeja Arham. Dara menatap wajah Arham begitu lekat.
"Ada apa?" tanya Arham bingung. Dara menggeleng. Ia hendak pergi, namun dengan cepat Arham mencekal tangannya. Arham menarik pinggang Dara hingga tak ada lagi jarak antara mereka.
"Terimakasih." ucap Arham mengecup mesra kening Dara. Dara memejamkan matanya merasakan darahnya berdesir hangat. Dara membuka matanya dan menatap Arham lekat. Ia meletakkan kedua tanganya di dada bidang Arham. Senyuman manis kini terbit dibibir tipisnya.
"Tidak perlu berterima kasih. Semua kebahagiaan yang mas berikan sudah lebih dari cukup. Dara sangat bahagia mas." ucap Dara memeluk Arham penuh kasih sayang.
"Bunda... Papa... " teriak seseorang yang berhasil membuyarkan kemesraan Dara dan Arham. Siapa lagi kalau bukan si kecil Ara yang menggemaskan. Ia berdiri diambang pintu dengan tangan terlipat rapi di dadanya.
"Bunda, papa. Ini sudah terlambat, tante Nissa pasti sudah menunggu kita. Papa, jangan terus-terusan menggoda bunda. Bunda bukan hanya punya papa, tapi juga punya Ara dan dek Azka." omel Ara. Arham menghela nafas berat. Jika sudah seperti ini ia hanya bisa mengangguk dan menuruti ucapan buah hatinya itu.
Dara tertawa renyah saat melihat wajah kesal Arham.
"Bun, apa bunda waktu kecil seperti itu?" tanya Arham menatap Ara dan Dara bergantian. Dara kembali tertawa dan mengangkat bahunya. Arham menarik tangan Dara dan mengecup pipi Dara.
"Papa..." teriak Ara kesal. Arham menjulurkan lidahnya dan beranjak pergi meninggalkan dua wanita yang sudah memporak porandakan hatinya.
"Sudah-sudah. Ayok kita berangkat." ucap Dara menarik tangan Ara lembut. Ia tersenyum geli melihat tingkah suami dan anaknya yang tak pernah akur.
***
"Happy anniversary Nis, semoga kalian selalu dilimpahkan kebahagiaan dan terus menjadi keluarga samawa." ucap Dara memeluk Nissa begitu mesra.
Arnold dan Nissa memang mengadakan hari ulang tahun pernikahannya yang ke empat. Namun Nissa tak pernah menyangka jika acaranya cukup mewah.
"Terimakasih Ra. Aku juga bingung, kenapa pestanya sangat besar." ucap Nissa seperti orang bingung.
"Suami kamu mana??" tanya Dara saat tak melihat batang hidung Arnold.
"Aku juga tidak tahu, tadi katanya mau ke toilet. Tapi belum balik." ucap Nissa ikut mencari keberadaan Arnold.
"Sudah lah, lebih baik kita makan. Aku sangat lapar." ucap Nissa menarik tangan Dara begitu semangat.
"Banyak banget kamu makannya?" tanya Dara bingung. Nissa tak menjawab, ia malah tersenyum sambil menikmati makanan.
"Nis, itu suami kamu tuh. Kayaknya nyari kamu." ucap Dara saat melihat Arnold berjalan kearah mereka.
"Biar aja, aku lagi makan." ucap Nissa masih asik dengan makanan.
"Sayang, bisa ikut sebentar?" ucap Arnold. Ia menatap Dara dan tersenyum.
"Ambil aja tuh, dari tadi asik makan." ucap Dara menatap Nissa yang masih asik mengunyah makanannya.
"Bentar lagi mas, makanan nya enak banget." ucap Nissa. Dara baru sadar ternyata sifat asli Nissa sudah kembali. Sifat tak tahu malu dan masa bodoh nya mulai terlihat kembali.
__ADS_1
Arnold berdecak kesal. Tanpa pikir panjang ia menarik tangan Nissa. Nissa yang terkejut langsung memberikan piringnya pada Dara. Dara membulatkan matanya tak percaya. Ia hendak protes, namun sahabatnya itu sudah menjauh.
"Dasar." ucap Dara. Ia meletakkan piring Nissa disana dan beranjak menuju panggung utama.
"Ra, kamu sudah disini?" tanya seseorang yang berhasil membuat Dara terkejut. Ia tersenyum senang saat melihat siapa yang datang.
"Kakak Ipar, untung deh cepet datangnya. Kak, aku pinjam dulu ya kakak iparnya." ucap Dara menarik tangan Syila. Haikal yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia pun bergabung dengan beberapa orang yang ia kenal.
"Selamat siang semuanya, terimakasih sudah menyempatkan untuk hadir pada acara sederhana ini." ucap Arnold dari atas panggung. Dara dan Syila pun saling melempar senyuman saat melihat Nissa diatas panggung. Tangan Arnold melingkar sempurna pada pinggang Nissa. Seakan ia takut Nissa akan lepas.
"Kali ini saya akan memperkenalkan seseorang yang sangat berharga dalam hidup saya. Mohon maaf sebelumnya saya belum sempat memperkenalkannya pada kalian semua. Dia adalah istri saya, Anissa Hafisah Digantara." ucap Arnold yang berhasil mendapatkan perhatian semua orang. Para tamu saling berbisik dan kagum melihat pasangan yang begitu serasi.
"Dia adalah wanita sempurna. Wanita yang menjadi dasar utama hingga saya bisa kembali bangkit. Wanita yang selalu setia saat saya jatuh, wanita yang selalu ada saat saya butuh. Wanita yang akan selalu ada dihati saya selamanya." sambung Arnold. Nissa menunduk, ia tidak ingin semua orang melihat air matanya.
Di depan panggung. Dua wanita cantik itu juga ikut meneteskan air matanya. Mereka sangat tahu seperti apa perjuangan Nissa untuk mendapatkan cinta sang suami.
"Nissa." panggil Arnold. Ia menarik dagu Nissa dan menarik tubuh Nissa agar menghadap dirinya. Nissa menatap wajah tampan itu begitu dalam. Arnold tersenyum dan menghapus air mata Nissa.
"Tetap disampingku." ucap Arnold menarik Nissa kedalam dekapannya. Nissa semakin terisak. Ia memeluk sang suami begitu erat.
"Happy anniversary honey." ucap Arnold. Nissa mengangguk, ia tidak sanggup untuk bicara. Nissa melepaskan pelukannya.
"Nissa juga punya sesuatu, tunggu sebentar." ucap Nissa. Semua orang sangat penasaran dengan kejutan Nissa. Begitu pun dengan Dara dan Syila. Kedua wanita itu memberikan tatapan bingung.
Nissa kembali keatas panggung. Ditanganya terdapat sebuah surat. Arnold mengernyit bingung.
"Buka." ucap Nissa memberikan surat itu pada Arnold. Jantung Arnold berdetak kencang. Ia membuka surat itu dengan cepat. Arnold membaca isi surat begitu seksama. Arnold membulatkan matanya dan menatap Nissa tak percaya.
"Ahhh... Kalian lihat, dia selalu membuatku bahagia. Ini kejutan yang sempurna." ucap Arnold begitu senang. Ia kembali memeluk Nissa, kali ini air matanya lolos begitu saja.
Semua tamu bersorak dan memberikan tepuk tangan yang begitu meriah. Mereka ikut bahagia melihat pasangan yang begitu romantis.
"Aku ikut bahagia, akhirnya perjuangan kamu tidak sia-sia nis." ucap Dara menghapus air mata bahagianya.
"Aku juga bahagia bisa menjadi suami kamu." ucap Arham merangkul pinggang Dara. Dara sangat terkejut Arham muncul dengan tiba-tiba.
Haikal tersenyum menatap sang adik, ia merangkul pundak Syila dan memberi kecupan hangat.
"Kamu lelah?" tanya Haikal pada Syila. Syila mengangguk. Ia memang merasa lelah, apalagi usia kandungannya sudah masuk 9 bulan. Hanya menunggu esok atau lusa ia akan melahirkan.
"Kita duduk, biarkan mereka menikmati waktu berdua." ucap Haikal yang di jawab anggukkan oleh Syila. Keduanya berjalan untuk mencari tempat duduk.
"Syila." panggil seseorang, pemilik nama pun langsung menoleh. Ia mengernyit bingung saat melihat wanita tengah menatapnya lekat.
"Nadya? Itu kamu kan?" tanya Syila tidak yakin. Ia berjalan menghampiri wanita itu.
"Iya, ini aku. Sudah lama kita tidak bertemu." ucap Nadya memeluk Syila.
"Oh iya, udah ketemu Dara?" tanya Syila melerai pelukannya. Nadya mengangangguk.
__ADS_1
"Kemren aku pulang kerumah mama Hesti, jadi ketemu Dara disana pas titip Azka." ucap Nadya lembut. Lalau pandangan Nadya beralih pada perut Syila.
"Suami sama anak kamu mana?"
"Ada, tadi katanya mau ambil sesuatu di mobil."
"Wah besar banget? Kembar ya?"
"Alhamdulillah." ucap Syila mengangguk.
"Sayang, sudah cukup berdirinya. Ini sudah lebih dari 2 jam." ucap Haikal. Nadya tersenyum melihat perhatian Haikal pada Syila.
"Ya sudah, aku kesana dulu ya. Salam buat suami kamu." ucap Syila yang di jawab anggukkan oleh Nadya.
"Sayang, kita gak ada rencana nambah?" bisik Arham. Dara yang mendengar itu langsung mencubit perut Arham.
"Sssttt, sakit sayang. Cuma nanya aja kok." ucap Arham sambil mengelus perutnya yang terasa panas.
"Kalau nambah istri?" gurau Arham. Dara menatap Arham lekat. Ia tersenyum penuh arti.
"Boleh, asalkan mas bisa mengatur dengan adil. Dan sanggup menanggung resiko." ucap Dara yang langsung beranjak pergi. Arham tersenyum, ia mengikuti Dara dari belakang.
"Beneran sayang?" Arham masih ingin mengerjai Dara. Ingin sekali saja Arham melihat Dara marah.
"Ya, silahkan saja." ucap Dara duduk disalah satu bangku.
"Tinggal pilih aja, tuh banyak." ucap Dara sambil menunjuk beberapa kerumunan ibu-ibu.
"Aku mau yang muda." Arham tersenyum puas saat melihat wajah Dara yang mulai merengut.
"Apa Dara sudah terlihat tua?" tanya Dara memasang wajah sedih. Skak mat. Arham terjebak permainannya sendiri.
"Hahaha... Mas cuma becanda sayang. Satu saja sudah cukup. Kamu cantik, baik, dan begitu lembut. Kamu juga sudah memberikan aku anak yang cantik dan tampan, walaupun Ara sedikit cerewet. Tapi aku bahagia." ucap Arham menarik Dara kedalam dekapan.
"Gak jadi nambah lagi?" tanya Dara ambigu.
"Enggak kok, cukup satu aja." ucap Arham.
"Kok satu, kita kan udah punya dua anak." ucap Dara mendorong dada Arham kasar. Arham sangat terkejut, ia sudah salah mengartikan pertanyaan Dara.
"Eh, aku kira nambah istri." ucap Arham tersenyum. Dara mengerucutkan bibirnya sambil memukul lengan Arham.
"Ngeselin." ucap Dara bangun dari duduknya.
"Mau kemana?" tanya Arham saat Dara melangkah pergi.
"Mau cari yang lebih muda." ucap Dara yang berhasil membuat Arham terkejut. Arham tersenyum, ia pun mengikuti langkah Dara.
'Sangat menyenangkan memiliki istri masih muda, dia sangat menggemaskan. Terkadang dewasa, terkadang juga jiwa kekanakannya muncul. Dia benar-benar sempurna. Kau satu-satunya bidadari syurgaku, Cut Dara Maristha. Aku mencintaimu.'
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=Tamat\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Terimakasih pada semuanya yang udah mampir, like, komentar dan juga udah jadiin Novel favorit. Akhirnya tamat juga ceritanya, pasti banyak yang udah bosan ya... Maaf ya mungkin ceritanya membosankan dan banyak typo nya. Tapi aku tetap sanang kok ternyata lumayan banyak yang mampir. Terimakasih sekali lagi untuk kalian semua... Love you... 😘😘😘