Kidung Cinta Alona

Kidung Cinta Alona
Bab 10


__ADS_3

Krieek


Suara pintu berdecit, menyambut kedatangan Neli yang telah tiba dirumah sakit.


"Ada apa dengannya Jack, kenapa wajahnya berantakan seperti itu?" tanya Neli keheranan.


Alona menatap kedatangan Neli dari kejauhan dengan tatapan lemah.


"Mam, ibuku telah tiada" ujar Alona lirih.


"Apa?" sahut Neli terkejut.


"Sial, kenapa secepat ini. Lantas bagaimana aku bisa menekan gadis ini kembali" gumam Neli cemas bercampur geram.


Bukannya merasa iba, Neli hanya memikirkan apa yang terbaik dan menguntungkan hanya untuk dirinya seorang.


"Mau seperti apapun kondisimu, aku tak mau tahu. Hutangmu padaku, adalah seumur hidupmu" tegas Neli yang kemudian menyibakkan kipas miliknya dan meninggalkan Alona.


Sebelum Neli pergi, ia telah memberikan isyarat pada Jack agar menjaga Alona sepanjang waktu.


Sementara Alona yang mendengar ucapan Neli membuatnya semakin terpuruk disana.


"Seumur hidupku?"


"Apa hutangku berbunga begitu banyak, hingga titik nyawa terakhir ku harus ku korbankan" ujar Alona yang tengah menatap langit biru dengan begitu cerah.


Melihat kondisinya, Jack semakin merasa kasihan padanya. Ia tak mengira jika Neli akan setega itu mengucapkan hal dalam situasi seperti ini.


"Aku yakin, kau mengetahui segalanya Jack"


"Katakan padaku" pinta Alona tanpa menatap wajahnya.


Pertanyaan itu hanya berhenti di udara, tanpa ada balasan dari Jack. Lelaki itu meninggalkan Alona dengan semua kegundahannya.


*


*


*


"Tut tut..." dering ponsel Alona yang berada dalam genggamannya.


Ia masih beruntung, bahwa ponsel miliknya masih berada didalam saku jaket yang ia kenakan sewaktu perjalanan ke rumah sakit.


☎️"Hallo" ucap Alona.


Ia tengah menghubungi nomor telepon rumahnya saat itu, dan di ujung sana dengan suara lembut seorang lelaki menjawabnya ramah.


☎️"Iya, apa ada yang bisa saya bantu?" jawabannya.

__ADS_1


☎️"Paman, ini Alona " sahutnya pilu.


Alona mengingat betul suara paman satu-satunya yang ia miliki. Ia adalah Candra, adik semata wayang Mirna sang ibu.


☎️"Alona, kamu dimana nak?" ucapnya.


☎️"Alona dirumah ..." timpal Alona yang tiba-tiba menghentikan ucapannya disana.


Takk


Suara ponsel diletakkan diatas meja. Jack telah merampas ponsel miliknya dengan cepat.


"Ada apa denganmu, itu ponselku" sahut Alona bingung.


"Bukankah kita telah sepakat, dan mami pun telah berbicara hal ini pada dirimu. Jangan pernah memberitahukan keberadaan dirimu pada siapapun selama kau bekerja untuknya" jelas Jack.


Flashback Alona.


"Kau harus mematuhi seluruh peraturan rumah ini sayang, berjanjilah padaku bahwa kau tidak akan melanggarnya. Selama dirimu bekerja untukku, jangan pernah sekalipun kau memberitahukan tentang keberadaan dirimu pada keluarga ataupun kerabat dekatmu" terang Neli memberikan sebuah penjelasan.


Saat itu, Alona hanya sanggup mengiyakan dengan anggukan tanpa menjawab.


"Jika kau sudah mengingatnya, jangan pernah ulangi hal itu" pinta Jack.


"Aku pikir, kau adalah satu-satunya orang paling tulus dirumah itu Jack" sindir Alona.


Langkah kakinya terhenti seketika, dan menjawab pertanyaan Alona.


Jack segera keluar dari ruangan Alona untuk meninggalkannya sejenak.


Sedangkan keadaan dirumah Alona masih banyak tamu yang menyinggahi rumah itu untuk mengucapkan bela sungkawa.


"Ada apa mas, siapa yang menelpon dirimu tadi" tanya Tiwi istri Candra.


"Alona" ujar Candra lirih sambil meletakkan gagang telepon ke tempatnya.


"Anak itu masih hidup ternyata?, setelah ia menelantarkan ibunya seperti ini" ucap Tiwi kasar.


"Cukup, hentikan. Aku yakin dia bukanlah anak yang seperti itu" ujar Candra membela keponakan satu-satunya.


"Sudahlah ma, jangan membuat mulutmu lelah hanya untuk menyudutkan gadis itu didepan papa. Sedikitpun ucapan mama takkan pernah benar dimata papa" sahut Amira putri semata wayang Candra dan Tiwi.


Amira memiliki usia yang tak jauh begitu beda dengan Alona, keduanya hanya terpaut tiga tahun saja. Amira sangat mewarisi sikap sang ibu, sejak awal anak dan ibu ini sama-sama tidak menyukai keluarga dari kakak sang ayah dan suaminya.


"Amira, bukan seperti itu maksud papa" imbuh Candra dengan lembut.


"Ah, sudahlah pa. Amira bosan mendengar pembelaan yang berkelanjutan tiada henti" tolaknya acuh.


Candra hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika melihat ulah sang istri dan anak gadisnya.

__ADS_1


"Setidaknya, rumah ini masih berguna bagiku" ujar Tiwi yang tengah duduk dimeja makan.


Dirinya telah mengumpulkan semua amplop putih yang berisikan uang duka untuk almarhumah Mirna.


"Bagi dong ma!" rengek Amira.


"Kau itu ya, tiada bedanya dengan mama. Masalah uang saja, cepet sekali"


"Nih" jelas Tiwi sembari memberikan beberapa bagian pada Amira.


Dan ketika keduanya tengah kegirangan menikmati kebahagiaannya, Candra tengah berada dibalik punggung mereka untuk menyaksikan semua perbuatan anak dan ibu itu.


"Apa ini, kalian malah asyik tertawa diatas penderitaan keluarga ini" sahut Candra lirih.


"Ayolah mas, kau sudah mengeluarkan uang untuk mengurus ibunya kemarin. Jadi apa salahnya jika uang ini menjadi milik kita, setidaknya mereka membalas budi baikmu" jelas Tiwi sembari membuka satu persatu amplop tersebut.


"Tau nih, papa. Payah" timpal Amira.


"Aku membantu mereka dengan ikhlas, tanpa embel-embel apapun. Apa kalian mengerti itu, seharusnya uang itu milik kakakku Mirna. Bisa digunakan untuk berbuat amal sholeh dan pahalanya mengalir untuknya.


"Iiih, ini uang nggak seberapa mas. Tapi belum apa-apa kau sudah menceramahi kami tiada henti"


"Telingaku panas!" seru Tiwi kesal.


Ia pun dengan cepat berpindah tempat dari hadapan suaminya untuk mendapatkan ketenangan.


"Ma, aku ikut" teriak Amira merengek.


Sikap Tiwi dan Amira memang seringkali membuat candra mengelus dada. Tak jarang keduanya harus bertengkar jika sudah tidak memiliki kecocokan pendapat.


Tepat pukul 6 sore, adzan telah berkumandang saat itu. Jack yang telah membawakan nampan makanan milik Alona, memasuki kamar itu dengan perlahan.


Ia membuka pintu perlahan, dan ketika pintu itu terbuka sebagian pandangan Jack dibuat terkejut dengan Alona yang tengah menunaikan ibadah sholat diatas tempat tidur.


Flashback Alona.


"Sus, tolong pinjamkan saya mukenah yah" pinta Alona pada seorang perawat.


Sepanjang perjalanan hidup Jack, ia sama sekali tak pernah menyaksikan seorang wanita malam seperti Alona. Memang ia belum menjalani profesi itu saat ini, tapi keteguhan imannya membuat Jack semakin terkesima.


Alona menyelesaikannya dengan sempurna, meski dalam keadaan tangan yang masih tertancap infus ia tak memiliki kendala sedikitpun untuk menyempurnakan setiap gerakannya.


"Duduklah Jack" sapanya lembut.


"Maaf, aku hanya ingin mengantarkan ini untukmu" terang Jack sambil meletakkan baki itu disebelah Alona.


"Terimakasih"


"Mari kita makan bersama, duduklah" pinta Alona.

__ADS_1


"Tidak usah mengkhawatirkan diriku, makanlah dan pulihkan dirimu dengan cepat. Aku tidak ingin menjagamu sepanjang waktu disini " jelas Jack .


Bersambung ♥️


__ADS_2