
"Bermainlah dengan cantik dan perlahan, pasti kau menemukan sultan itu nantinya untuk menyewa gadis cantikku itu" ujar Neli yakin.
Seketika pikiran Nicole terbang jauh membawanya untuk membayangkan sebuah peristiwa 5 tahun silam yang begitu kelam dan getir disepanjang hidupnya.
Nicole dan putra semata wayangnya, kala itu harus menelan pil pahit ketika suaminya memutuskan untuk memilih pergi meninggalkan keduanya demi wanita asing. Terlebih, ia juga memiliki trauma begitu berat tentang kekerasan yang dilakukan sang suami pada dirinya.
"Cih, aku tak sudi membayangkan wajah bedebahh itu lagi" ujarnya sambil menutup kedua bola matanya rapat-rapat.
"Siapa suruh kau membayangkan dia lagi"
"Susah move on rupanya dirimu, hah" sahut Neli sembari mengejek Nicole.
"Sialan, tutup mulutmu rapat-rapat"
"Dia sudah aku buang sejauh mungkin dalam hidupku" terang Nicole dengan membuang wajahnya dihadapan Neli.
Neli hanya tersenyum sambil mengepulkan asap-asap putih lekat di hadapan wajahnya sendiri dengan berulang kali.
Karena hari sudah mulai gelap dan larut, Nicole memutuskan untuk segera pulang dari rumah Neli dan telah membawa uang bagiannya.
"Berhati-hatilah dijalan, jangan sampai pikiranmu terbang membayangkan dirinya lagi" ujar Neli yang terus menggoda dirinya.
Karena merasa jengah dengan ulah Neli, Nicole yang sudah tersulut api amarah seketika pergi begitu saja dari hadapannya.
"Ia hanya wanita lemah yang takkan pernah bisa hidup tanpa lelaki, lihat diriku dari tahun ke tahun masih saja betah menyendiri tanpa seorang pendamping"
"Jangankan pendamping, membayangkan seorang lelaki dalam hidupku saja membuat bulu kudukku berdiri dan berjejer rapi" gumam Neli.
Dirinya terbentuk seperti ini karena ulah sang ayah dimasa kelam, Neli kecil terlalu sering melihat perlakuan keras sang ayah pada ibunya disetiap harinya. Dan itu membuat dirinya, sama sekali tak pernah mempercayai akan kata manis dari bibir seorang laki-laki.
*
*
*
Kini mentari pagi telah menyising begitu tinggi, dan malam telah berlalu.
Alona yang melewati sepanjang malam didalam kamar seorang diri, kini ia terbangun. Pagi itu, dirinya merasa mual begitu hebat hingga membuat sekujur tubuhnya mengeluarkan keringat dingin bercucuran.
Ia pun mengalami muntah yang begitu hebat hanya dalam hitungan menit.
"Hoek hoek hoek" suara Alona yang tengah memuntahkan seluruh isi perutnya kala itu.
Tak terlihat makanan apapun yang keluar dari mulutnya saat itu, karena ia pun belum mengisi perutnya semenjak dua hari yang lalu. Ia mengalami sakit perut yang begitu hebat hingga membuatnya merintih kesakitan diatas tempat tidur.
Sementara diruangan yang lain, Yola tengah mendengarkan suara itu dengan baik-baik. Kebetulan kamarnya terletak bersebelahan dengan kamar Alona .
"Kenapa gadis itu?, apakah dia hamil"
__ADS_1
"Ini tidak bisa dibiarkan, aku akan laporkan pada mami" dialog Yola kepada dirinya sendiri.
Pagi hari buta, Yola memutuskan untuk mengetuk pintu rumah mewah Neli dengan terburu-buru.
"Mam mami" teriaknya di depan pintu sambil terus mengetuk.
Ceklek
Pintu rumah itu terbuka seketika mendengar teriakkan Yola.
"Mbak, ada apa?"
"Kenapa teriak-teriak, jika mami mendengarnya nanti mbak Yola yang kena marah" sapa Ijah dengan menggosok satu matanya.
Dengan mata yang masih menahan kantuk begitu hebat, Ijah mencoba segera sadar dan terbangun seketika.
"DIAMLAH mbok, mana mami katakan" timpal Yola keras.
"Ada di atas mbak" jawab Ijah.
"Minggir, aku sendiri yang akan memanggil mami. Jika tidak, gadis itu akan matii nantinya" kelas Yola tanpa pikir panjang.
"Hah, astaga siapa yang akan matii" teriak Ijah terkejut.
Seketika kedua matanya terbuka lebar dan tak merasakan kantuk lagi.
Dengan langkah terburu-buru, Yola berlari kecil sepanjang menaiki anak tangga. Ia pun melakukan hal yang sama dengan tadi, mengetuk sekencang mungkin pintu kamar Neli saat itu.
Suaranya terdengar sayup menyusup dari cela pintu kamar Neli , dan ketukan itu membuat pikiran Neli berdenyut seketika.
"Astaga, siapa yang berani mengganggu tidurku seperti ini"
"Sialan" gerutu Neli sambil membawa segelas air putih ditangannya.
Byurr
Air itu membasahi wajah Yola seluruhnya.
"Mam ..." protes Yola sambil menghentakkan kakinya.
"Rasakan itu, pantas kau dapatkan ketika membangunkan diriku seperti tadi" terang Neli geram.
"Aku membawa kabar penting dan genting mam, kau membalasnya dengan seperti ini?" jelas Yola.
"Ada apa, tak mungkin dipagi buta ini ada tamu untuk meminta dilayani bukan?"
"Katakan padaku, apa ada yang lebih penting dibandingkan uang?" seru Neli.
"Wanita ini matre sekali, otaknya hanya berisi tentang uang dan uang" gumam Yola.
__ADS_1
"Si Alona mam, dia sekarat dikamar!" jelasnya ketus.
"APA?"
"Jangan main-main dengan ucapanmu, kau tahu itu ?"
"Aku bersungguh-sungguh kali ini mam, cepat pergi dan tolong dia" pinta Yola.
"Tidak, tidak akan aku biarkan . Dia masih ada hutang nyawa seumur hidupnya padaku, ia tak boleh matii begitu saja" terang Neli.
Dengan mengenakan satu set piyama, Neli yang kebingungan segera berteriak memanggil Jack saat itu juga.
"Jack, Jack"
"Di mana dirimu, datanglah padaku" panggil Neli sekencang mungkin.
Pria itu tengah tertidur disebuah sofa tepat didepan ruang tv. Ketika mendapati suara Neli melebihi sepuluh oktaf, ia terbangun dan menghampirinya.
"Ada apa mam, apa semua baik?" tanya Jack dengan wajah paling berantakan, tapi masih terlihat keren disemua kalangan wanita malam Neli.
"Tidak, semua tak baik-baik saja"
"Cepat ikuti aku" pinta Neli.
Karena Neli berjalan begitu cepat, hanya membutuhkan waktu sepuluh menit ketiganya telah sampai tepat didepan pintu kamar Alona.
Ia mengetuk pintu tersebut berulang kali, tapi tak mendapati suara Alona sedikitpun saat itu. Karena rasa cemasnya begitu hebat, Neli memerintahkan Jack untuk mendobrak pintu tersebut karena ia lupa membawa kunci cadangan yang lainya.
BRAKK
Jack hanya membutuhkan satu gebrakan saja untuk membuka pintu itu dengan sempurna.
"Akh, dia matii" teriak Yola histeris.
"Bodoh, tutup mulutmu" sela Neli.
Alona yang sudah terkapar diatas tempat tidur, tengah pingsan saat itu. Deru nafasnya tak dapat lagi Neli rasakan, dengan cepat Jack yang telah sigap disampingnya membopong tubuh Alona seutuhnya dalam pelukannya.
Jack yang menyadari akan satu hal yang aneh telah terjadi didalam dadanya. Degup kencang dadanya tak dapat lagi ia tahan ketika ia menyentuh Alona. Terasa semakin kuat dan berkelanjutan ketika ia terus membawa Alona turun dan naik ke dalam mobil.
"Cepat pergilah ke rumah sakit, mami akan menyusul mu Jack!" perintah Neli yang berteriak di kaca mobil yang masih setengah terbuka.
"Baiklah mam, aku akan segera membawanya" imbuh Jack sigap.
Tanpa berlama-lama, Jack memacu mobil itu dengan laju disepanjang jalan aspal dipagi hari yang masih buta.
Bersambung ♥️
...----------------...
__ADS_1
...Hai, berikut adalah sosok visualisasi dari seorang Jack yah. Laki-laki yang begitu digandrungi dirumah mami Neli ❤️❤️❤️...