
Dalam waktu beberapa jam Jack merenungi semua sikap bersalahnya pada Alona, ia sangat menyesal akan ucapan yang begitu menyakiti hati gadis malang itu.
"Jean!" sapa Jack dengan lemas dan sendu.
"Yah." timpal Jean datar.
"Tolong berikan ini pada Alona, dan tolong hiburkan dia." pinta Jack memelas.
Dengan mengepulkan asap putih berbentuk bulat-bulat di depan wajahnya, Jean justru tertawa.
"Jack, Jack..."
"Begitulah wanita, asal kau tahu. Wanita akan lebih cepat pulih dari semua lukanya dengan segenap tenaganya."
"Jadi kau tak perlu risau!" jelas Jean dengan meletakkan sebatang rokokk miliknya.
Jack lantas memberikan cincin bertahta berlian tersebut pada telapak tangan Jean .
"Oh, ini pemberian yang membuatmu sangat gusar. Hingga kalian bertengkar hebat?" tanya Jean sambil memperhatikan berlian itu dengan seksama.
"Tapi, Alona begitu beruntung dapat menaklukkan hati Alberto dengan mudah. Kau tahu sendiri, tak ada satupun dari kami yang begitu mudah melayani lelaki satu itu." terang Jean gamblang.
Perkataan Jean justru membuat hati Jack semakin terluka, karena Alberto memberikan sikap spesial terhadap Alona.
"Hei Jack, ayolah kau juga lelaki bukan?. Hal seperti ini wajar, apalagi dengan profesi yang kita jalani sekarang kan?" jelas Jean enteng.
Ia berbalik sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar dan berjalan meninggalkan Jean sendiri disana.
"Dia tidak seperti kalian ..." gumam Jack dalam kesendiriannya.
*
*
*
Pagi itu, Alona yang telah terbangun menuruni anak tangga dengan wajah malasnya. Masih menahan kantuk akibat semalam penuh menangis tiada henti.
"Akhirnya bangun juga yang ku tunggu." sahut Jean dibalik pintu lemari es yang tengah mengambil sebuah minuman kaleng.
"Kau mencariku Jean, maaf aku baru bangun." jelas Alona.
"Tentu, aku mencarimu sejak semalam." tuturnya.
"Ah, maafkan aku Jean. Sungguh aku tidak tahu." timpal Alona dengan rasa bersalah.
"Ayolah, aku memang tidak mengetuk pintu kamarmu. Jadi jangan merasa bersalah seperti itu!" tegas Jean yang tengah menikmati sebuah minuman bersoda.
Terlihat Jean tengah merogoh saku celananya dan mengambil sebuah benda titipan Jack semalam.
"Nih, dia kembalikan untukmu!" seru Jean sembari menarik telapak tangan Alona.
Dirumah itu, memang mereka berdua lah yang bangun lebih awal dibandingkan yang lainnya.
__ADS_1
"Ini ..." sahut Alona dengan berpikir.
"Yah, itu milikmu kan. Jack sangat menyesali perbuatannya semalam padamu." imbuh Jean dengan menyesap kaleng minuman.
"Kau sangat beruntung karena bisa mendapatkan hati lelaki itu ..." terang Jean.
"Jack?" tanya Alona.
"Hahaha, keduanya." ejek Jean dengan candaan.
Alona masih berpikir lebih keras disana.
"Jack dan Alberto Alona ..." imbuh Jean dengan meraih kue di ujung meja.
"Tidak, aku sama sekali tidak pernah terpikir hal itu Jean!" sahut Alona cuek.
"Mungkin kau tidak pernah mengetahuinya, tapi para lelaki itu pasti akan berlomba dibelakang mu seperti seekor kuda yang ingin segera mencapai garis finish." tutur Jean .
Bagi Alona Jean adalah teman terbaik sampai dengan saat ini, meski keduanya tak sering bersama-sama. Bahkan Jean tak sungkan memberikan wejangan yang Alona rasa perlukan bagi dirinya semenjak memutuskan untuk menjalani kehidupan seperti sekarang ini.
*
*
*
"Amiraaaa ..." teriakan Tiwi menggelar.
"Sudahlah ma, nanti dia juga pasti bangun." jelas Indra .
"Anakmu iku wedok pa, kebiasaan tangi awan ra pantes!" oceh Tiwi dengan bahasa medoknya.
Jika sang istri sudah melantunkan omelan khasnya, Indra hanya dapat menggelengkan kepalanya. Ia terus melanjutkan sarapan paginya disana, sebelum dirinya berangkat ke kantor.
"Byurr ..." satu ember air dibaskom telah mendarat sempurna membasahi tubuh Amira pagi itu.
"Iiiiih,"
"Mamaa, dingin tau !" protes Amira sambil menggigil.
"Nah, bangun kan. Cepat angkat kakimu itu dan mandilah." perintah Tiwi dengan kesal.
"Ini sudah mandi kan, udah basah kuyup begini. Gimana si mama, nyebelin banget pagi-pagi buta lagi." imbuhnya terus mengomel.
"Hah, minta ku getok ember kepalamu biar langsung bangun tanpa mengeluh." seru Tiwi dengan mengangkat tangannya yang tengah membawa ember lebih tinggi.
"Ampun ma," timpalnya dengan membentengi dirinya dengan gayung mandi.
"Anak satu aja sudah bikin gacor setiap pagi. Capek pula aku dibuatnya kan!" jelas Tiwi .
Usai menghabiskan seluruh makanan miliknya, Indra segera berangkat dan menghampiri Tiwi untuk berpamitan.
"Yah mas, hati-hati dijalan. Tolong bawakan. aku uang yang banyak ya!" jawabnya dengan sinis.
__ADS_1
"Ma, ma ... selalu uang yang ada di pikiranmu itu. Syukuri apa yang sudah kita dapat!" elak Candra dengan memberikan wejangan.
"Apa?"
"Makanmu, minummu uang jajan anakmu. Uang skincare ku, listrik dan lain-lain itu pake uang pa!"
"Mana ada semua itu bayar pakai rasa syukur!" omelnya .
Sebelum telinga Candra semakin panas pagi itu, ia memutuskan untuk segera pergi saja dan tak ingin berdebat lebih lama lagi dengan istrinya.
"Ma, ikan apa hari ini?" tanya Amira yang baru saja selesai mandi dan menggosok kepalanya untuk mengeringkan rambutnya.
"Hm, ikan sandal. Makanlah sampai kenyang sandal karet itu, biar penuh mulutmu itu!" sahut Tiwi lebih kesal.
"Dih, mama nih pagi-pagi udah sensitif aja. Cek kali ma ... mungkin aja Amira mau punya dedek kan?" jawabannya sambil memperagakan gaya menggendong bayi.
"Ini lagi, adek pula yang kau bahas. Apa kau pikir tambah anak makin enak?, makin besar pula pengeluaran papamu tiap bulan."
"Untuk cukupi perutm dan mulutmu saja dia sudah ngos-ngosan, kau tambahi pula!" gerutunya.
Sebuah jurus pengelakkan dari Tiwi yang selalu ia berikan pada Amira kala membahas tentang adik.
"Baik aku masuk kamar!" ucapnya sambil meninggalkan Amira yang tengah makan.
Didalam kamar, Tiwi kemudian mengunci pintu itu serapat mungkin. Agar Amira tidak dapat sembarang masuk kedalam kamar ketika tengah asyik menghitung uang miliknya.
"Hah, satu dua tiga empat lima enam. Enam ratus untuk bulan ini, aku pandai simpan uang kan!" terangnya sambil melipat lembaran uang pecahan merah tersebut.
Uang-uang tersebut hasil jerih payah Tiwi mengumpulkan sejak satu minggu lamanya, ia lebih memilih memberi anak dan suaminya makan seadanya untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri.
"Nah, baru kalau botol-botol ini kosong aku menjeritlah sekencang mungkin."
"Kalau mereka sampai kosong dalam botol, lebih angker dari pada kuburan kan?" oceh Tiwi didepan cermin.
Ia tengah membahas sederet skincare miliknya yang akan segera habis dalam hitungan hari.
"Ma ... mama." teriak Amira didepan pintu.
"Yah, tunggulah." sahut Tiwi yang kemudian memasukkan seluruh uangnya dalam sarung bantal miliknya.
"Ada apa!" ucap Tiwi ketus .
"Bagi uang, Amira mau nonton hari ini dengan kawan!" serunya.
"Uang uang uaaaang saja dalam otak kau ya!. Tak ada!" jawab Tiwi .
Bersambung ❤️
...****************...
...Jangan lupa mampir kesini juga yuk ❤️...
__ADS_1