Kidung Cinta Alona

Kidung Cinta Alona
Bab 15


__ADS_3

"Kenapa berdiam diri disana Jack, masuklah" pinta Jean sambil menganggukkan kepalanya.


Jack melangkah dengan ragu, dan terlihat sesekali canggung ketika ingin hendak berbicara.


"Apa itu baju untuknya?" tanya Jean kembali.


"Jack?" imbuh Jean kembali mencoba untuk menyadarkan dirinya.


Jack tersadar dari lamunannya.


"Ah, tentu"


"Ini baju untuknya" tutur Jack.


Jean yang sejak tadi duduk diatas meja melompat untuk turun dan menghampiri Jack sambil mengambil baju yang berada dalam genggamannya.


"Dia memang cantik"


"Jangan menatapnya berlama-lama seperti itu" terang Jean.


Keduanya menyimpan sebuah perasaan yang tak dapat diungkapkan satu dengan yang lainnya. Tapi tidak dengan Jean, jam terbang yang sudah ia miliki selama ini membuatnya begitu paham akan keadaan yang sedang terjadi diantara keduanya.


"Keluarlah, aku akan membantunya berganti pakaian" pinta Jean dengan lembut sambil menatap kedua mata Jack dengan senyuman.


Ia pun segera berbalik dan menutup pintu kamar itu dengan rapat.


"Lelaki jika sudah menginginkan sesuatu, ia pasti akan berjuang sekuat hatinya" tutur Jean dibalik punggung Alona.


Mendengar penuturan Jean, Alona hanya terdiam sambil mengenakan baju yang sudah disiapkan Neli untuknya.


"Apa kau tak paham dengan ucapanku?" tanya Jean.


Dirinya menatap kedua bola mata Alona sambil memegang lengannya dengan kuat.


"Tidak Jean, aku tidak mengerti apa maksudmu" timpal Alona dengan polosnya.


"Dia mencintaimu" terang Jean tanpa basa-basi.


"Dia?"


"Jack" timpal Alona cepat.


"Hemhem" Jean mengangguk.


"Tidak Jean, aku bukan wanita kriteria Jack" tepis Alona.


"Tok...tok" suara ketukan pintu didepan kamar sudah terdengar.


Dengan deru nafas yang begitu menggebu, karena rasa gugup yang tak terelakkan Alona mengikuti langkah kaki Jean saat itu.


"Dia sudah sudah siap, maka aku serahkan tugas selanjutnya kepadamu" ujar Jean pada Jack.

__ADS_1


Selama ini, memang Jack yang akan bertugas mengantarkan para wanita dirumah itu untuk menemui pria hidung belang tersebut dan terus berjaga didepan hingga semua selesai.


Hal yang serupa pun kini telah dialami Jack disana, degup jantungnya tak berhenti sedari tadi. Ia terus menghirup nafas sedalam mungkin agar terlihat relaks.


Setibanya dirumah Neli.


"Nah itu dia mutiaraku datang" sebut Neli dengan manis dihadapan tamunya.


Kali ini Alona harus berhadapan dengan pria berdarah arab yang memiliki suara serak basah.


"Silahkan tuan, hari ini dia milikmu" terang Neli.


Ketika pria itu menatap wajah Alona, tentu ia sudah tak sabar lagi ingin secepatnya untuk naik ke atas dan menuntaskan segalanya. Paras cantik Alona hari itu, bahkan mampu menghipnotis semua pria yang berada ditempat itu termasuk juga Jack.


"Ayo" ajak pria hidung belang tersebut.


Dengan menarik tangan Alona, ia membimbing langkah kaki Alona untuk mengikuti dirinya saat itu.


"Jack, bertugaslah sayang" perintah Neli terhadap Jack.


Ia yang menahan nafas sebaik mungkin, tengah menyimpan sebuah amarah yang begitu hebat dibalik senyumnya. Jack tak mampu melihat tangan Alona digandeng dengan pria lain selain dirinya hari itu.


*


*


*


Sejauh tadi Alona tak sedikitpun bersuara. Sementara Jack, saat ini telah duduk disebuah kursi yang tak jauh dari depan pintu kamar Alona saat itu. Wajahnya cemas bercampur gelisah yang tak terbendung. Hatinya begitu tak tenang semenjak melihat Alona masuk kedalam kamar itu bersama dengan pria tersebut.


Sedangkan didalam kamar, Alona dengan cepat mematikan lampu kamar tersebut karena tak ingin wajah gugupnya terlihat sempurna oleh pria tersebut.


"Wow, rupanya kau tak ingin berlama-lama dan ingin bermain cepat sayang" sahut pria tersebut yang telah mengambil langkah lebih dulu di atas ranjang.


Setelah Alona memastikan hatinya sedikit cukup tenang, ia dengan canggung menaiki ranjang panas yang telah berkali-kali ditaklukkan oleh temannya yang lain.


"Cepatlah kemari, kenapa kau sangat lama disana" pinta pria tersebut dengan keadaan terlentang.


"Ayo Alona, kau harus bisa melewati hari ini dengan baik" gumamnya dalam hati.


Ini adalah awal baru baginya, ia yang tak tahu harus melakukan apa cukup membuatnya berlama-lama di ujung ranjang untuk berfikir.


"Mungkin ini adalah hal baru bagimu, aku telah mendengar segalanya dari Neli"


"Apa kau ingin aku yang memulainya sayang?" terang pria tersebut.


Mendengarkan suaranya saja sudah membuat muak dalam hati Alona, tapi ini adalah awal yang harus ia selesaikan dengan akhir yang baik.


"Tentu, silahkan" sahut Alona di kegelapan.


Karena sudah sangat tanggung menunggu Alona sejak tadi, pria tersebut melakukan segalanya dengan cepat.

__ADS_1


Tangannya saat itu menarik pinggul Alona agar sedikit lebih maju ke dalam dada bidangnya, setelah semua ia kuasai. Kali ini ia menuntun Alona pada puncak permainan.


Tanpa disadari, Alona kini telah berada dibawah kendalinya.


"Aku sangat menyukainya"


"Hal yang tak pernah aku dapatkan sebelumnya" bisik pria tersebut dibalik daun telinga Alona.


Tapi suaranya sama sekali tak mendapatkan respon baik dari Alona, gadis itu hanya ingin semua segera selesai. Setelah 25 menit berjalan, pria arab tersebut telah mencapai puncak kepuasan.


Masih dalam posisi yang sama, ia masih mengatur deru nafas yang begitu sengal sejak tadi agar segera menurun.


"Hei, kau ingin kemana?" tanyanya.


Pria itu sedikit menaikkan nada bicaranya ketika mengetahui Alona yang terburu-buru untuk memakai seluruh bajunya.


"Bukankah semua sudah usai tuan?" sahut Alona polos.


"Hahaha" tawa pria itu menggema disetiap penghujung kamar.


"150 juta hanya kau bayar dengan waktu 25 menit, apa kau gila?"


"Aku tak ingin membayar semahal itu jika semua berjalan dengan cepat seperti ini" jelasnya sambil tertawa.


"150 juta?"


"Wanita itu sangat gila, ia meraup keuntungan sebanyak mungkin dariku"


"Bahkan nominal itu saja tak sebanding dengan hutangku kepadanya" gumam Alona pada dirinya sendiri.


"Baiklah, mari kita selesaikan sesuai dengan kehendakmu tuan" jelas Alona yang kemudian menurunkan seluruh pakaiannya saat itu.


"Bagus, kemarilah dan tuntaskan segalanya" serunya memanggil Alona.


Dengan tuntunan pria arab tersebut, Alona dapat mengetahui apa yang tengah di inginkan oleh dirinya. Setelah cukup lama Alona menaikkan tempo permainannya, kini keduanya terkulai lemas diatas ranjang dengan keringat bercucuran.


Ternyata kepuasan pria itu tak berhenti sampai disana, ia yang saat ini bangkit dari tidurnya menarik wajah Alona dan mendekatkan kepada wajahnya saat itu. Permainan pun berlanjut hingga ia tak berhenti untuk menciumi Alona.


"Arrggh" teriak pria itu sedikit memekik.


Alona yang tak sengaja menginjak kaki dari pria tersebut sangat terkejut mendengar teriakannya.


"Tolong maafkan aku tuan"


"Aku tak ..." permohonan maaf Alona terhenti di udara.


PLAKK


Satu tamparan yang cukup keras dari tangan besar dan cukup gempal dari pria tersebut mendarat di pipi merah Alona.


Benar saja, tamparan itu meninggalkan bekas diwajah cantiknya saat itu. Bahkan tanpa ia sadari bahwa darah segar mengalir di ujung bibirnya.

__ADS_1


Bersambung ♥️


__ADS_2