Kidung Cinta Alona

Kidung Cinta Alona
Bab 13


__ADS_3

"Sudah aku bilang jangan ceroboh seperti itu, kau baru saja sehat bukan?" terang Jack dengan wajah santainya.


Ia terus mengemudikan mobil itu tanpa menghiraukan Alona yang tengah menggerutu disepanjang jalan.


"Akan aku ganti coklat itu dua kali lipat nanti" imbuh Jack sembari menatap wajah sedih Alona.


"Nggak perlu" sahutnya ketus.


*


*


*


Sedangkan, keadaan ditoko roti milik ci Mei saat itu tengah berantakan.


"Cepat keluar dari sini, jika tidak aku akan menelpon polisi untuk menangkap kalian!" bentak Hesti dengan tegas.


Tapi saat itu, ia masih sendirian didalam toko tersebut tanpa seorang teman satupun.


Para preman itu terus menciptakan ulah hingga membuat semua isi toko tersebut berantakan.


"Ada apa ini, siapa kalian?" teriak ci Mei.


Ia baru saja tiba disana, dan dirinya datang lebih awal dari pada hari-hari biasanya.


"Aku minta gadis itu untuk keluar, tapi dia tak menghiraukan perkataan ku" tutur seorang preman.


"Alona!" cela ci Mei dengan geram.


"Yah, anak itu. cepat katakan padaku, dimana dia!" sahutnya dengan nada lebih tinggi dibandingkan ci Mei.


"Dia sudah lama aku pecat, dan tolong jangan pernah sangkutkan tokoku atas ulahnya. Jika kalian tidak segera pergi, lima menit lagi polisi akan segera tiba untuk menangkap kalian semua" ujar ci Mei menantang.


Mendengar kata polisi dari bibir ci Mei, mereka sedikit ketakutan dan terbirit-birit untuk keluar dari toko roti itu.


"Hei, jangan ambil itu"


"Bayar dulu rotimu" timpal Hesti kesal.


Ia telah menyadari, bahwa sebagian preman itu telah membawa kabur beberapa stock roti yang berada di sana.


"Sial" gumam Hesti.


"Kenapa dirimu meributkan roti-roti itu, dari pada keselamatan diri kita berdua Hesti?" tanya ci Mei dengan kesal dan melipat ke dua tangannya ke dada.


"Tapi ci, gajiku akan terpotong akibat ulah mereka" sahut Hesti dengan tertunduk lemas.

__ADS_1


"Aku tak percaya, dalam keadaan segenting ini dirimu masih mementingkan uang diatas segalanya"


"Dirimu lebih rela, jika nyawamu yang menjadi taruhannya rupanya" ujar ci Mei.


Setelah menjauh dari toko roti milik ci Mei, para preman itu kembali dalam mobil dan melakukan pencarian Alona ke tempat berikutnya.


"Hei, cepat berikan roti itu padaku" pinta seorang preman pada temannya.


"Aku tidak membawanya" sahutnya dengan wajah polos.


Temannya itu kemudian, menarik resleting jaket yang tengah ia tutup rapat-rapat menggunakan telapak tangannya saat itu. Alhasil, semua roti yang ia sembunyikan dibalik jaket kulitnya berhamburan keluar.


"Apa kau mau menghabiskan ini tanpa kami?" terang kesal temannya.


"Maafkan aku, roti-roti itu tadinya akan aku berikan kepada ke empat anakku dirumah"


"Dirumah tak ada satupun makanan untuk mereka makan" ujarnya dengan sedih.


Ketiganya turut merasakan sedih sebagai seorang ayah, tak ada seorang ayah pun yang tega melihat buah hatinya tersiksa apalagi jika sampai tak memakan apapun.


"Kembalikan" sahut salah satu temannya yang lain.


Ia kemudian memungut kembali roti-roti tersebut dari tangan mereka masing-masing untuk dikembalikan pada temanya yang akrab dipanggil Moy.


"Anak Moy sangat membutuhkannya dari pada perut kita semua" ujarnya.


Memang ke empatnya kali ini, sama sekali belum menerima upah sedikitpun dari bosnya. Karena mereka tak kunjung mendapatkan jatah uang cicilan dari Alona, dan itu semua harus berimbas pada anak Moy yang masih berusia balita saat ini.


"Terimakasih, kalian sudah mau membantuku kali ini" ucap Moy dengan mata berkaca-kaca.


"Jangan seperti itu, kita semua saudara Moy. Jika ada satu diantara kita yang terluka, maka semua akan merasakan sakit itu. Benar kan" seru temannya.


Dan ucapan itu disambut oleh yang lainnya dengan penuh antusias.


*


*


*


Kali ini di kediaman Neli, Jack dan Alona baru saja tiba dirumah.


"Hei, kau masih hidup rupanya" sambut Sarah sinis.


"Tidakkah kau bisa bersikap manis kepadanya" sahut Jean.


"Ck" Sarah berdecak mendengar Jean.

__ADS_1


"Masuklah, mami sudah lama menunggu kedatangan kalian berdua" terang Jean .


Berbeda dengan Jean, Sarah malah tengah asyik menggoda Jack dengan mengusap lembut dada bidang Jack.


"Akh, sial apa yang kau lakukan" protes Jack.


"Aku merindukanmu Jack" imbuh Sarah dengan bisikan manja tapi terdengar jelas ditelinga semua orang saat itu.


Mendapati hal itu, Alona memandangi keduanya penuh keheranan dan sedikit tak nyaman saat tangan Sarah menyentuh Jack.


"Jangan hiraukan Sarah, dia memang sangat menggilai Jack. Yah, terutama semua wanita para penghuni rumah ini tentunya" jelas Jean pada Alona.


Tapi anehnya, siapapun yang menyentuh tubuh Jack tak pernah ia rasakan sedikitpun perasaan yang aneh. Berbeda saat dirinya melakukan kontak fisik dengan Alona.


Alona mengabaikan keduanya saat itu, dan lebih dulu masuk untuk menemui Neli disana.


"Kau sudah datang, bagaimana keadaan mu?" tanya Neli.


"Baik" timpal Alona datar.


"Selama dirimu sakit, kau tahu kan berapa biaya yang aku keluarkan untukmu. Terlebih lagi hutangmu untuk ibumu waktu lalu, semu itu tidaklah gratis. Semua akan berbunga dengan seiringnya waktu"


"Aku tahu" sahut Alona lagi degan wajah datar.


"Kalau begitu, cepat berikan aku pemasukan mulai besuk" pinta Neli tegas.


Perkataan Neli bersamaan dengan datangnya Jack dari balik punggung Alona, ia mendengar jelas permintaan Neli pada Alona saat itu. Jack sangat merasa kasihan padanya, bagaimana tidak baru saja pulih dan pulang dari rumah sakit dirinya dipaksa untuk melayani pria hidung belang.


"Aku akan bersiap, tenanglah" terang Alona sedikit menantang perkataan Neli.


"Tapi mam, dia baru saja pulang. Apa tidak ada waktu untuknya untuk sampai pulih dahulu" pinta Jack, membantu Alona.


"Tidak Jack , hutangnya sudah menumpuk banyak. Kau tahu, aku takkan pernah memberikan kelonggaran pada siapapun itu kan" imbuh Neli kesal.


Wanita itu mematikan rokook miliknya dengan menekan ujungnya disebuah wadah kaca kecil. Dan segera turun dari kursi untuk meninggalkan keduanya disana.


Mengetahui hal itu, Alona pun segera membalikkan punggungnya untuk segera naik ke kamarnya.


"Terimakasih telah mambantuku hari ini Jack" kata Alona tepat disamping telinga Jack, saat dirinya melintas.


"Sama-sama" sahut Jack .


Pandangan Jack seketika meredup, mengetahui hari esok akan menjadi hari pertama bagi Alona untuk bersama dengan pria lain.


Ada sebuah gejolak penolakan dalam diri Jack saat kebenaran itu terjadi dihadapan matanya, batinya merasa sangat hancur dan perasaan sedihnya seketika hadir memenuhi sesak dadanya.


"Jack, kenapa denganmu. Ada apa ini Jack?" Jack bergumam pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Sambil meremas kaos miliknya, tangan kanan Jack menyentuh dadanya yang sedari tadi berdetak tak menentu seakan ingin meledak seketika.


Bersambung ♥️


__ADS_2