
Ia pun menuruti apa kata Jack saat itu, dan bergegas untuk menutup pintu dengan rapat lalu menguncinya berulang kali.
Disebuah kursi tepat berada disudut ruangan yang menghadap ke jendela kamar, ia perlahan membuka ujung pembungkus coklat tersebut.
"Bu" ujar Alona ketika tangannya telah sampai diujung batang coklat.
Ia tak kuasa memakan coklat tersebut saat itu, karena teringat dengan mendiang sang ibu. Terakhir kali ia memakan coklat ketika sedang bersama dengan Mirna yang terbaring sakit dirumah.
Flashback Alona.
"Ibu comot sekali," ucap Alona.
Dengan mengembangkan sebuah senyumnya, Mirna perlahan mengunyah coklat itu sampai dengan habis. Dan Alona pun menyapu bersih seluruh kotoran coklat diwajah ibu dengan lembut mengenakan tangannya.
"Terimakasih untuk kerja kerasnya hari ini ya sayang,"
"Ibu sudah kenyang" sahut Mirna yang seharian tengah menunggu kedatangannya.
"Maaf ya Bu, Alona cuma bisa bawa ini" imbuh Alona sedih.
Keduanya hari itu melewati hari begitu berat, tak ada satu suap nasipun yang masuk untuk mengisi perut kosongnya. Hanya sebatang coklat dari sisa penjualan toko yang saat itu diberikan oleh cik Mei dengan suka rela. Sementara seperti biasa, berapapun uang yang Alona miliki hari itu dirampas oleh para penagih hutang yang selalu mengikutinya.
*
*
*
Air matanya mengalir deras membasahi pipinya disana, mengingat semua masa sulit yang telah ia lalui dengan sempurna bersama dengan sang ibu.
"Kini Alona sendiri bu" kenang Alona dengan sedih.
Saat itu, senja sore begitu indah mewarnai langit cerah. Alona yang tengah sendiri, terbawa oleh suasana hati yang sedih dan menerawang jauh mengingat untuk semua kenangan manis yang pernah ia miliki.
"Pluk" sebuah pesawat kertas berwarna putih mendarat sempurna di pangkuannya.
Alona pun mengambilnya dan bangkit dari tempat duduk, sembari melihat keadaan sekitar siapa gerangan pengirim pesawat kertas itu padanya.
Dengan menyandarkan sebagian tubuhnya ke bagian badan mobil, Jack tengah melipat kedua tangannya tepat didepan dada sambil melihat ke arah balkon kamar Alona.
Ia pun memberikan bahasa isyarat pada Alona dengan mengangkat dua jarinya.
"Jack" sapa Alona lirih sembari membekap mulutnya, karena takut terdengar oleh yang lain.
Sambil melemparkan sebuah senyuman, Alona dengan cepat membuka pesawat kertas itu dan membacanya.
"Senyum" tulis Jack dalam kertas tersebut.
"Kau sungguh aneh Jack,"
__ADS_1
"Terkadang menyebalkan, bahkan menjengkelkan sekali"
"Tapi, aku akui. Kau memang sangat baik untuk menempatkan dirimu disetiap posisi" imbuh Alona yang tengah berdialog sendiri disana.
Meskipun begitu, ia masih tetap merasa asing disana. Tak dapat menjalin komunikasi yang baik dengan kawan yang lainnya.
Sementara ia sibuk dengan kesendiriannya, lain halnya dengan kondisi di luar gerbang rumah Neli. Tanpa membunyikan klakson ataupun menuruni mobilnya, seorang pengendara mobil bugatti chiron bewarna hitam kombinasi merah tengah menderukan suara mesinnya begitu gahar.
"Siapa si ah!"
"Kagak enakin makan malem gue"
"Eh sore ya, masih terang begini" ucap Mino salah seorang security rumah Neli.
Kini ia tiba tepat didepan pagar, tanpa membukanya terlebih dahulu. Mino yang sejak tadi berdiri sambil melihat-lihat mobil dengan deru begitu tinggi, masih penasaran siapa gerangan orang yang sedang berada didalam mobil itu.
Karena melihat Mino begitu bingung dan tak kunjung membuka pagar rumah, pria itupun lantas menuruni mobil mewah miliknya. Dengan pakaian khas santainya serta mengenakan dua pasang sandal ia menghampiri security rumah tersebut dengan langkah yang angkuh.
"Cepat bukakan"
"Apa telingamu sudah tuli" tutur Broto sambil membuka kacamata miliknya.
"Siapa anda?"
"Ada perlu apa kemari?" cecar Mino dengan sejumlah pertanyaan.
Broto yang sudah berbalik dan percaya diri akan dibukakan gerbang oleh Mino, sontak saja berbalik arah kembali menatap wajah Mino lebih dekat.
"Jadi bukakan saja pagar itu, aku ingin bertemu dengan tuan rumah ini!" tutur Broto kesal dengan mendelik.
Mino menelan kasar ludahnya dan segera menekan tombol untuk membuka kunci pagar tersebut hingga terbuka sempurna.
Ia tak berani lagi bertanya sejauh apa, karena Mino yakin jika Broto adalah tamu spesial Neli .
"Sudahlah, aku buka saja iya kan?"
"Dari padanya mami tambah marah ngusir kolongmerat ini" ujarnya sambil terus menatap mobil mewah Broto.
Broto yang sudah lebih dulu jalan ke arah rumah Neli, di ikuti Mino dari belakang saat itu. Ia harus memastikan tamu tersebut agar tidak salah masuk ke rumah Neli.
"Seketat itukah penjagaan rumah ini" sindir Broto .
"Iya tuan" sahut Mino.
"Aku bukan orang sembarangan, jadi tak perlu khawatir jika aku akan melakukan tindakan rendahan disini" ujar Broto sekali lagi.
Dirinya begitu risih dengan sikap Mino yang terlalu dekat dengan dirinya. Bahkan bisa dibilang hingga menempel di lengan Broto saat itu.
"Menjauhlah, asal kau tahu bahkan aku juga punya anak buah melebihi jumlah anak buah bos mu itu" tunjuk Broto kepada antek-antek Neli.
__ADS_1
Flashback Broto.
"Bos, kami sudah mendapatkan alamat Alona saat ini" tutur anak buah Broto .
Mendapati kabar bahagia itu, Broto tanpa berlama-lama lagi untuk berpikir dua kali. Ia pun langsung memutuskan untuk mengunjungi rumah Neli.
"Bos bos" sapa Mino didepan pintu .
Mino memanggil Neli berulang kali didepan daun pintu tapi wanita itu malah asyik dengan kegiatannya sendiri.
"Ehem!" sahut Broto dengan suara serak dan cenderung berat khasnya.
Neli yang terkejut mendengar suara asing pun lantas memutar kursi miliknya untuk menyambut tamu tersebut.
"Dia?"
"Siapa Mino?" tanyanya.
"Maaf tuan, ada perlu apa kemari?" imbuh Neli dengan penasaran.
Karena kebijakan Neli disana, setiap tamu diharuskan untuk membuat janji terlebih dahulu dengan dirinya baru boleh untuk berkunjung ke rumah itu.
"Mino, kau tahu aturan rumah ini kan. Jadi kenapa kau lancang!" cecar Neli dengan gemas.
Neli menatap dengan jeli setiap penampilan Broto saat itu.
"Hah?, sandal jepit" gumamnya terkaget.
"Apa ia bisa dibilang sultan, anakku tak ada harga sereceh itu !" cela Neli dalam batinnya.
"Akh tuan, mungkin anda bisa saja salah alamat" tutur Neli dengan kata halus untuk mengusir Broto.
"Apa kau meragukan penampilanku?"
"Tenang, aku kemari bersama dengan mobil Buggati ku. Jadi kau tahu bukan, aku bisa membeli apapun" jelas Broto menyombongkan dirinya dengan bangga.
Mendengar penjelasan Broto, jiwa matre Neli pun meronta-ronta seketika.
"Ah, tentu tuan tentu" ujarnya sambil terus mengangguk.
Neli pun mempersilahkan duduk Broto dengan segera, setelah tau asal muasal dirinya.
"Apa kau mencari yang spesial disini?" tanya Neli dengan sangat berhati-hati.
Dirinya tahu, bahwa Broto adalah orang baru di rumahnya saat ini. Jadi Neli sebisa mungkin menggunakan bahasa yang lembut, agar dapat memikat seluruh isi dompet Broto dengan perlahan tapi pasti.
Bersambung ♥️
......................
__ADS_1
...Mampir baca ke karya besti cantik satu ini yuk❤️...