Kidung Cinta Alona

Kidung Cinta Alona
Bab 33


__ADS_3

Mereka berdua jalan berdampingan dan keluar meninggalkan rumah itu.


Sementara Candra yang begitu kesal atas ulah istri dan anaknya, mencoba memberikan nasehat kembali kepada keduanya.


"Amira, baik papa ataupun mama tidak pernah mengajari kamu hal buruk seperti itu nak. Kenapa kamu tega lakukan itu dengan Alona," terang Candra menasehati putrinya.


"Amira sudah besar pa, jadi bisa contoh mana yang baik menurut Amira."


"Nggak perlu lah papa susah payah ajari aku!" protesnya.


"Lagian, apa yang mama omongin sama Amira itu betul adanya. Tapi kenapa papa pula yang kepanasan belain dia loh!" elak Tiwi sambil merajang bawang bombay diatas meja.


"Iya loh pa, mana mungkin ada asap tanpa api. Apa yang kami ucap ya , apa yang kami lihatlah."


"Masak aku dengan mama bodoh kali nggak pandai jaga mulut." imbuh Amira memberikan dukungan pada mamanya.


"Kalau memang betul, kita do'akan saja yang terbaik. Kan itu sudah cukup, nggak perlu kita menghakimi orang dengan ucapan kita. Cukup Tuhan yang tahu segalanya." jelas Candra tegas.


*


*


*


"Jangan menangis." seru King didalam mobil sambil memperhatikan Alona begitu lekat.


"Nggak." sahutnya singkat.


"Masih aja terus berbohong, kelihatan loh aku. Baru kalau badan mu sekecil semut, mungkin air mata itu nggak akan terlihat jelas oleh mataku." ejek King.


Sontak Alona mengusap air matanya dan tersenyum mendengar perkataan King.


"Nah begitu, selanjutnya kita mau kemana?" tanya King yang sudah bersiap sejak tadi.


"Aku traktir bakso ya, mau kan." timpal Alona sambil menyeka kedua matanya yang hendak meneteskan air mata.


"Boleh,"


Sore menjelang malam, keduanya masih menghabiskan waktu berkeliling kota. Sampai akhirnya tiba di sebuah taman pinggir kota, di depan gerobak seorang penjual bakso tua.


"Mbah ..." sapa Alona lembut.


Dengan kedua tangan yang sesekali gemetar, tapi masih memiliki pandangan mata yang cukup bagus kakek tua tersebut menghampiri Alona dengan perlahan.


"Kamu toh, sudah lama mbah nggak pernah lihat." ujarnya sambil mengusap berulang kali lengan baju Alona.


Keduanya terlihat begitu akrab.


"Iya mbah, saya pindah tempat kerja." sahut Alona sopan.


Mbah Mardi, adalah seorang penjual bakso langganan Alona semenjak dirinya duduk di bangku sekolah menengah pertama. Meski diusianya yang sudah senja, mbah Mardi sama sekali tak pernah berpangku tangan kepada semua anaknya.


Bahkan, hasil dari berjualan baksonya ini mampu menyekolahkan semua cucunya.


Dan dibalik gerobak baksonya pula Alona sering bersembunyi disana untuk menghindari para penagih hutang.

__ADS_1


Flashback Alona.


"Mbah, Alona mohon jangan bilang pada mereka." pinta Alona sambil berbisik lalu menutup mulutnya rapat-rapat.


Di tengah derasnya hujan, waktu itu Alona tengah lari menghindar sejauh mungkin dari kejaran dua orang lelaki berkepala plontos. Dan beruntungnya, ia menemukan mbah Mardi yang tengah berteduh disebuah bawah pohon cukup besar untuk menunggu hujan reda.


Dengan sebuah isyarat, mbah Mardi pun mengerti apa yang tengah diminta oleh Alona.


"Kek, lihat anak gadis lewat sini nggak?" tanya pria berkepala plontos dengan nafas sengal.


"Nggak ada," sahut Mardi singkat, sambil menutupi punggung Alona dengan kedua kakinya.


*


*


*


"Ayo duduk, mau berapa baksonya." tanya Mardi dengan antusias.


Hari itu, kebetulan Alona adalah pelanggan pertama sejak pagi hari. Dengan telaten, Mardi pun mengambilkan dua buah kursi bakso untuk Alona dan King.


"Dua mbah..."


"Maaf ya, ajakin kamu makan pinggir jalan begini King." ujarnya.


"Aku suka, bahkan lebih menyatu sama alam aja kalau makan kayak gini." seru King dengan semangat.


Setelah dua mangkok bakso datang pada mereka, keduanya pun menyantap sajian itu dengan lahap.


"Mbah ..." sapa hesti, tapi kedua matanya terhenti memandang Alona dan King.


"Loe!" seru Hesti dengan kasar.


"Eh Hes, ayo duduk sini. Kita makan bareng." ajak Alona dengan lembut.


Ia masih tak percaya jika Alona hari itu dapat menggandeng cowok impiannya selama ini. Bahkan King hanya menyapanya dengan senyuman.


"Nggak usah makasih!" sahut Hesti kesal.


"Udah jam pulang ya?." tanya Alona.


"Belum ..." sahut Hesti datar.


"Kalau begitu, sebelum pulang kita mampir ke toko dulu yuk . Kangen sama roti kepangnya." jelas King menawarkan diri pada Alona.


Mendengar perkataan King, Hesti dengan cepat memberikan pernyataan ulang pada keduanya.


"Eh, nggak perlu kesana. Toko mau tutup bentar lagi." ujarnya.


Hesti tak ingin jika hatinya semakin dibakar rasa cemburu dan iri, akibat melihat keduanya menjalin keakraban begitu dekat.


Mardi pun membungkuskan pesanan bakso Hesti sepeti biasanya, Hesti juga termasuk langganan Mardi setahun belakangan ini. Karena jarak mangkal Mardi dan toko cik Mei sangat terlampau dekat.


Tanpa menegur kembali, Hesti pergi dari sana sambil membuang mukanya dengan cepat.

__ADS_1


"Cih, cowok impianku pula ia sambet!"


"Tapi aku lihat ,memang dia agak cantikan kali ini. Penampilannya pun beda, lebih stylish." ujar Hesti.


"No no no, tapi cantik aku kemana-mana." kelit Hesti menarik segala ucapannya.


"Memang dia saja yang gatal mau dengan inilah, itulah. Semua saja dia sambar tanpa ampun!" gerutu Hesti sepanjang jalan .


*


*


*


"Mbah, Alona balik dulu ya. Baksonya masih sama seperti yang dulu, enak banget." pujinya dengan mengangkat kedua jempol tangannya.


Alona lantas mengambil uang dari dalam tasnya untuk diberikan kepada Mardi untuk membayar dua mangkuk bakso pesanannya.


"Eh, ini kebanyakan." terang Mardi setelah menghitung ulang lembaran uang tersebut.


"Buat keperluan si mbah yang lainnya." pungkas Alona yang kemudian berjalan meninggalkan Mardi.


Dengan penuh rasa syukur, Mardi menerima uang itu penuh suka cita.


"Hatinya seperti malaikat ..." gumam King dengan tatapan bangga pada Alona.


Sekali lagi , setiap apa yang di lakukan oleh Alona membuat King terpesona dibuatnya.


"Ayo pulang, aku nggak mau sampai mami marah nantinya."


"Beres, akan aku bawa mobil ini secepat kilat." terang King dengan santainya.


Hari itu, Alona merasa King dapat dipercaya untuk segala hal yang telah mereka lalui hari ini.


Setibanya dirumah Neli, Jack yang sudah menunggu kedatangannya dengan resah dan cemas. Tengah duduk di pos security.


"Nah, itu datang mbak Alona Jack." terang Mino.


Jack hanya menatap Mino dengan tatapan dingin, berbeda dengan King dan Alona keduanya masih belum sadar akan keberadaan Jack disana.


"Jack hentikan ..." seru Alona sambil tertawa lepas keluar dari dalam mobil.


Ia pun berjalan mengitari mobil dan menuju rumah Neli , tapi ditengah perjalanan tiba-tiba saja kaki Alona terbelit satu dengan yang lainnya. Dan hal itu hampir mengakibatkan Alona terjatuh disana.


"Aw!" teriaknya.


Dengan sigap King menangkap tubuh Alona yang hampir saja terjatuh . Dan kini tubuh Alona tepat dalam dekapan King.


Bersambung ❤️


...****************...


...Jangan lupa mampir kesini ya❤️...


__ADS_1


__ADS_2