
Karena merasa kesal Tiwi dengan kuat menarik tangan Amira sang putri untuk segera pergi meninggalkan Alona.
"Tante" teriak Alona dikejauhan.
"Ini semua salahmu"
"Lagi-lagi kau datang tak tepat pada waktunya Jack!" protes keras Alona terhadap Jack .
"Terserah kau mau bilang apa, setidaknya aku telah menjadi penyelamat mu untuk hari yang panjang dan merepotkan untukku ini" jelas Jack yang kembali mengenakan topi untuk penyamarannya.
Saat ia hendak pergi, tangannya lantas merogoh sesuatu dari dalam saku kantong celananya saat itu. Dan ia pun berikan itu kepada Alona.
"Ambilah"
"Maka dengan ini aku tidak akan pernah memiliki hutang lagi darimu" jelas Jack singkat dan pergi.
Alona lantas menatap dua buah batang coklat ditangannya yang memiliki ukuran cukup besar. Pikirannya pun terbang melayang, mengingat peristiwa saat keduanya bertengkar hanya karena sebuah coklat.
"Dia mengingatnya" imbuh Alona lirih dalam kesendiriannya.
Ia pun memutuskan untuk berjalan menghampiri Pillow yang sejak tadi sudah sangat lama berdiri menunggunya.
"Apakah semua baik-baik saja?" tanya Pillow cemas.
"Hm" jawab Alona singkat.
"Maaf aku tadi tidak mengikutimu kesana" ujar Pillow menggantung.
"Karena kau tahu dia akan selalu muncul disaat yang tak terduga kan?" sahut Alona dengan tatapan wajah yang tajam.
"Ehm, baiklah kita segera jalan" jelas Pillow dengan segera mencairkan susast hati Alona yang masih kacau akibat ulah Jack.
Sesampainya di mobil, sambil melihat kaca spion Pillow sesekali memperhatikan wajah sedih dan muram Alona sepanjang jalan. Ia merasa sangat bersalah karena telah membuat hari wanita itu begitu buruk sepanjang hari.
*
*
*
Kini keduanya pun telah tiba dirumah, dan benar saja kedatangannya telah ditunggu oleh Neli saat itu.
"Kenapa dirimu yang mengantarkan ia hari ini, mana Jack?" tanya Neli dengan ketus.
"Aku disini mam" sahut Jack dari arah belakang tanpa diduga-duga.
"Nah, ini dia bos. Tadi Jack menggunakan motornya untuk mengikuti kami" terang Pillow pada Neli.
__ADS_1
"Sayang , kenapa kau selalu menyusahkan dirimu sendiri. Bukankah aku sudah menyiapkan mobil untukmu" tutur Neli kembali.
"Maaf mam, aku sekalian ingin memperbaikinya tadi" kelit Jack dengan lihai.
Setelah usai berbincang dengan anak kesayangannya, kini mata Neli tertuju pada Alona yang sedari tadi diam sambil terus menggenggam coklat miliknya.
"Ah, apa itu" sahut Neli mencoba memecah keheningan Alona.
"Coklat" timpal Alona singkat.
"Tentu aku tahu sayang, kau bercanda" goda Neli dengan genit.
"Apa kau tidak tahu, benda itu bisa saja membuatmu semakin terlihat buruk akan penampilan mu nanti" tuduh Neli.
"Aku biasa memakannya sebanyak mungkin jika aku tengah bersedih" jelas Alona kembali tanpa sekalipun menatap wajah Neli.
"Ah, begini saja. Aku akan simpan coklat ini untukmu, kemarikan sayang" pinta Neli sambil terus menarik lirih 2 batang coklat dari tangannya.
Kala itu, Alona hanya bisa pasrah dengan sikap Neli yang kelewat wajar. Tapi hal itu memang selalu menjadi pusat perhatian Neli, ketika diantara mereka ada yang tak pandai menjaga pola makannya.
"Istirahatkan dirimu, pasti hari ini kau sangat lelah sayang" pinta Neli lembut.
Belum sampai mulut wanita itu berhenti berbicara. Kini ponsel miliknya berdering tiada henti di saku bajunya.
☎️" Sial, ada apa kau menelponku lagi" cecar Neli.
Kali ini, ia mendapatkan sambungan telepon untuk kedua kalinya dari sekelompok anak buahnya yang tengah melakukan pencarian Niken.
Tak khayal, Niken pun memutuskan untuk mengambil sebuah tindakan yang nekat bagi dirinya tanpa memikirkan sebuah resiko.
Saat itu, Niken telah menemani sang tamu disebuah hotel. Dirinya diharuskan untuk melayani tamu tersebut diluar rumah bordil Neli, dan tanpa berpikir dua kali Neli pun mengambil kesempatan emas yang mempunyai nilai jual tinggi tersebut.
☎️"Kami kehilangan jejaknya lagi bos" terang Futsi .
Futsi dan beberapa rekan lainnya kala ini tengah melakukan aksi pencarian disejumlah tempat untuk menemukan Niken dengan kondisi secara hidup-hidup.
☎️"BODOH!" sarkas Neli .
☎️"Kalian semua kalah dengan gadis ingusan itu, jika kalian sudah menemukannya segera habisi saja dia dan lakukanlah semua secara bersih" perintahnya dengan menggerakkan ke dua rahangnya disana.
*
*
*
Tepat disebuah tempat gang terpencil, Niken yang saat itu tengah bersembunyi dari kejaran Futsi cs sedang menutup mulutnya rapat-rapat sambil mengendap-endap.
__ADS_1
"KLONTHANG" sebuah kaleng kosong terjatuh tepat dibelakang Niken dari sebuah tong sampah .
"Meong" Disusul dengan suara teriakan kucing tepat disebelahnya.
Niken yang begitu takut dengan jalanan yang begitu gelap, memutuskan untuk keluar dari tempat itu dan terus menyusuri jalan remang setapak.
Rupanya, hari itu adalah hari tersial dalam hidup Niken. Betapa tidak, ketika saat ini dirinya tengah merasa kelaparan dan sendirian tak ada satu orangpun yang mau menolong dirinya.
"Hai cantik"
"Sendirian aja"
"Ayolah sini abang temenin" sahut 3 orang laki-laki yang tengah berjalan sempoyongan dengan memegang sebuah minuman ditangannya.
Ketiganya tengah mengelilingi Niken saat itu, dan terus berputar-putar.
"Hentikan"
"Jika tidak, aku akan berteriak" sahut Niken histeris sambil ketakutan.
Posisinya saat itu begitu terpojok diantara ketiga laki-laki yang tak dikenalnya disana. Dan tangannya terus berupaya untuk meraih benda tumpul apapun yang berada didekatnya.
Sayangnya, hal itu tak sampai terjadi pada dirinya.
"Bugh" sebuah pukulan telak dilesatkan ke arah wajah Niken hingga pingsan.
"Kau kira kami bodoh hah!"
"Ayo cepat bereskan dan kita tinggal pergi" Jelas pria berjaket hitam.
Tanpa berlama-lama, ketiga lelaki yang bringas itu secara brutal dan membabi buta menggilir tubuh Niken tanpa ampun digelapnya malam. Tak menyia-nyiakan waktu lagi, ketika ketiganya usai melampiaskan segala nafsu bejatnya mereka kabur begitu saja meninggalkan Niken dengan keadaan tubuh tanpa sehelai kain apapun.
Selang beberapa jam kemudian, Niken kembali tersadar dari tidurnya.
"Argh" erangnya kesakitan sambil menekan area wajahnya dengan lembut.
"Brengsek kalian, aku takkan pernah lupakan hal ini" imbuh Niken yang tengah mengutip seluruh pakaiannya.
Bukan hanya hal buruk yang ia dapati, tas beserta isinya pun lenyap di bawa ketiga lelaki tak dikenalnya itu.
"Bagus, hidupku akan lebih kacau saat ini" Niken berdialog dengan dirinya sendiri.
Hari semakin pagi, dan saat itu Niken tak dapat lagi menemukan tempat persembunyian yang lebih aman lagi.
"Bos itu dia!" teriak salah seorang anggota Futsi cs.
Dengan sigap mereka pun berhamburan berlari untuk mengejar Niken yang telah menyadari akan kehadirannya.
__ADS_1
"Bu, tolong tolonglah aku. Ijinkan aku bersembunyi disini" rengek Niken sambil bersimpuh dihadapan seorang ibu-ibu yang memiliki warung kopi.
Bersambung ♥️