
Belum lama ia memohon kepada wanita itu, Yutsi sudah menemukannya terlebih dahulu disana.
"KEMARI KAU," Bentak Yutsi sambil menggesekkan ke dua rahangnya.
"Berani-beraninya dirimu menyusahkan diriku," lanjutnya.
Tanpa ampun dan berlama-lama lagi, tubuh Niken ditarik keluar dari dalam warung itu sambil terseok-seok.
"Tolong lepaskan aku,"
"Aku mohon, ampun" imbuh Niken dibalik suara tangisnya.
Kali ini ia tak dapat memberontak sedikitpun saat Yutsi menarik dan mencengkram rambut miliknya, ketika seluruh tubuhnya tepat berada dalam gendongan Yutsi Niken pun kemudian diturunkan ditepi jalan.
Hal ini sengaja dilakukan agar Niken dengan refleks berlarian ke arah jalanan saat itu, dan benar saja ketika wanita itu memikirkan untuk berlari dan kabur kembali sebuah mobil dari arah tak terduga melesat dengan kencang menabrak tubuhnya.
"Braaak" Suara tabrakan yang cukup keras.
Tubuh Niken terpelanting ke bahu jalan, dan mengalami luka yang cukup parah. Beberapa orang pejalan kaki diantaranya merasa sangat terkejut dengan kejadian itu.
Nahas nyawa Niken pun tak dapat tertolong disana.
*
*
*
Karena semua berjalan dengan baik, Yutsi pun naik kedalam mobil sedan lainnya untuk meninggalkan jejak. Sementara mobil yang menjadi barang bukti penabrakan Niken pun, di lenyapkan begitu saja. Ia sengaja mengatur anak buahnya yang lain untuk membuang mobil tersebut didasar jurang.
Lantas ia pun memberikan kabar pada Neli .
☎️"Bos semua sudah beres" jelas Yutsi kepada Neli .
☎️"Bagus" sahutnya di ujung telepon.
"Dasar gadis bodoh, sudah berulang kali aku bilang jangan pernah bermain api denganku,"
"Kalau begini siapa yang salah"
"Tentu dirimu bukan" gerutu Neli dengan perasaan gembira dan sinis.
Dalam prinsipnya, siapapun yang berani menjadi pembangkang harus siap masuk ke daftar list hitamnya. Tak lama setelah peristiwa itu, polisi dan para awak media berdatangan di tkp. Niken pun menjadi pusat pemberitaan hari itu juga dibeberapa televisi.
"Dih, ngeri" seru Sarah yang tengah beristirahat diruang tv bersama dengan Yola dan Jean.
"Iya ya, kok bisa" timpal Yola.
"Pemirsa, diduga wanita ini menjadi korban tabrak lari oleh seorang pengemudi misterius. Karena sejauh ini, pihak kepolisian belum bisa menangkap dan menemukan titik terang atas peristiwa ini," terang seorang reporter.
"Kali tuh orang nggak lihat-lihat jalan, jadi bisa begitu" imbuh Sarah ketus.
Melihat reaksi ke dua temanya, Jean yang sejak tadi hanya terdiam sudah menduga bahwa itu adalah Niken. Bagi Jean, hal kotor ini sudah sering terjadi di rumah bordil Neli.
Tapi ia hanya memilih diam tanpa harus menceritakan hal yang telah lama dirinya ketahui.
Sementara dikediaman rumah Alona, Tiwi beserta Amira yang baru saja tiba dengan wajah cemberut memasuki rumah.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum" seru Tiwi yang main nyelonong begitu saja.
Kemudian disusul Amira yang sejak tadi mengekor di belakangnya.
"Eh, sudah pulang" sapa Candra .
"hm" seru Tiwi kesal sambil menuangkan segelas air putih yang berada disebuah teko dimeja.
Candra masih memilih diam dan tak melanjutkan pertanyaannya.
"Kau tahu kami bertemu siapa di mall mas?" jelas Tiwi lebih kesal.
"Alona!" sahut Amira .
"Aku bicara dengan papamu, bukan dirimu" imbuhnya dengan ke dua biji mata yang hampir terlepas.
"Lalu, dimana dia sekarang" sahut Candra ingin tahu.
"Mana aku tahu, keponakan tercintamu itu kini akan menikah" terangnya.
"Alhamdulillah" ucap Candra lega.
Mendengar ucapan sang suami, Tiwi lantas tersedak dengan air mineral yang tengah ia minum. Dengan cepat, air itupun disemburkan ke wajah Amira yang berada didekatnya.
"Brusss"
"Ikhh, mamaaaa" protes Amira sambil meraih tisu didekatnya.
"Sorry,sorry" ujar Tiwi sambil mengusap bibirnya yang basah.
Tiwi yang bertambah kesal lantas menghampiri sang suami yang sejak tadi hanya duduk terdiam didepan televisi.
"Kamu tuh nggak dianggap sama keponakanmu itu mas, pake acara alhamdulillah segala. Punya otak nggak sih?" tuturnya kesal.
"Darimananya ma," sahut Candra lembut.
"Eh, dari mana lagi. Kalau dia mau nikah dan nggak undang kita kan berarti nggak dianggap" jelasnya.
"Bisa saja keduanya sibuk, kita tunggu saja sampai waktunya tiba" jelas Candra memberi arahan.
Tetap saja hal itu tak membuat surut murka Tiwi disana. Ia masih saja menggerutu sepanjang hari dengan hal yang menurutnya benar .
"Embohlah kerepmu" timpal Tiwi dengan bahasa jawa medoknya.
*
*
*
Sedangkan saat ini, berita tentang Niken pun sudah menyebar luas di kalangan penghuni rumah Neli. Berita itupun telah sampai di telinga Jack yang kala itu tengah sibuk dengan motor miliknya.
"Yutsi" gumam Jack.
"Gila si ini, hal-hal begini sering terjadi kan dulu" imbuh Pillow.
"Lagian sejak Niken pergi dari sini, juga nggak ada bau batang hidungnya kan"
__ADS_1
"Inget nggak loe dulu, waktu si Mala hilang beberapa tahun lalu. Kan kejadiannya juga mirip-mirip begini" imbuh Pillow lebih antusias tapi dengan wajah keheranan.
Semua perkataan temannya saat itu sama sekali tak digubris oleh Jack, ia yang sudah mengetahui segalanya dengan cepat beranjak dari sana dan melemparkan kanebo miliknya tepat diwajah Pillow.
"Sialan, kupret ni anak" sahut Pillow kesal sambil mengutip kanebo setengah basah yang mengenai wajahnya.
Jack lalu memeriksa kedalam rumah untuk memastikan bahwa Alona masih ada disana.
"Jack Jack"
"Apa kau mencariku sayang?" sapa Sarah dengan memainkan daster yang hanya memiliki tali seutas melingkar di bahunya.
"Menjijikan"
"Apa kau tidak bisa, semurah itu di hadapannya?" sahut Yola ketus.
"Hei, kau juga murah sayang hello" timpal Sarah ketus.
"Tubuhku, tubuhmu udah kayak ciki diwarung kan. Murah gampang dicomot lagi kayak tahu goreng pinggir jalan, jadi jangan belagu!" oceh Sarah .
"Dasar idiot, dia bangga dengan pekerjaan seperti ini" gumam Yola yang sudah tak ingin meladeni kegilaan Sarah pada Jack.
"Kau mencari siapa Jack?" tanya Jean.
"Alona" sahut Jack yang kemudian menaiki anak tangga dengan cepat.
Setelah menaiki beberapa anak tangga, Jack dengan cepat mengetuk pintu kamar Alona.
"Tok tok tok" ketuknya berulang kali.
"Alona"
"Alona"
"Ceklek" suara pintu terbuka, tapi Jack masih saja memanggil nama Alona sekencang mungkin.
"Eh, maaf" imbuh Jack ketika tahu pintu kamar sudah terbuka.
"Yah Jack?"
"Apa semua baik?" tanyanya cemas.
"Aku baik" timpal Alona.
"Syukurlah kalau begitu, ambilah ini dan makan diam-diam" pinta Jack sambil memberikan dua buah batang coklat lagi dengan varian rasa berbeda.
Flashback Jack .
"Kasihan sekali dia, pasti sedih karena tak bisa memakan cokelat-cokelat itu lagi" gumam Jack.
Ketika tahu beberapa coklat milik Alona disita oleh Neli, ia pun bergegas untuk membelikan dua buah coklat lagi untuk Alona dengan sembunyi-sembunyi.
Bersambung ♥️
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Like dan komen yah 😉...
__ADS_1