Kidung Cinta Alona

Kidung Cinta Alona
Bab 6


__ADS_3

Hari itu, dirinya menyelesaikan segala biaya administrasi rumah sakit yang sudah menunggu untuk diselesaikan oleh dirinya. Dan ketika dirinya telah selesai membayar segalanya, Alona pun bermaksud untuk pergi ke kamar sang ibu untuk melihat keadaannya.


Tapi sayang, belum sampai kakinya melangkah jauh seorang pria mengenakan jaket dan bertopi tiba-tiba menarik tangannya dari belakang.


"Kemari" ucapnya dengan lirih kearah Alona.


"Siapa kamu?" tanya Alona terkejut dan sedikit melakukan pemberontakan.


"DIAMLAH, aku Jack" tuturnya sambil membuka masker beserta topi yang ia kenakan.


Alona perlahan mengingat lelaki itu dengan perlahan, dan ia menyadari bahwa ia adalah salah satu orang mami Neli.


"Jack?"


"Ada apa kau kemari" timpal Alona lembut.


Jack yang sedari tadi memegang lengan Alona dengan kuat mulai terlihat mengendurkan cengkraman tangannya saat itu.


"Jika sudah, bergegaslah dan ikut denganku. Mami sudah menunggumu" imbuh Jack.


Ia pun mengerti tentang apa yang telah keluar dari mulut Jack saat itu, tapi dirinya masih belum sadar apa yang akan ia kerjakan nantinya.


Dengan patuh, Alona mengikuti langkah kaki Jack menuju ke tempat parkir dan segera masuk kedalam mobil. Setibanya didalam mobil, kini Alona tepat duduk disebelah Jack.


Dan ketika Jack melepas topi miliknya dan hendak meletakkan dibawah, tak sadar tangannya pun menyentuh jemari Alona yang tengah mengambil sehelai tisu tepat disamping Jack.


"Permi..."


"Eh, sorry"


Perkataan keduanya bertabrakan dan saling canggung satu dengan yang lainnya.


"Katakan dimana alamat rumahmu?" tanya Jack, yang mencoba menetralkan suasana kembali.


"Paviliun 30 tengah" ucap Alona singkat.


Sepanjang perjalanan, tak terjadi komunikasi diantara keduanya sedikitpun. Dalam mobil itu keduanya terasa asing satu dengan yang lain.


Setelah menempuh perjalanan hampir setengah jam lamanya, Alona pun tiba di rumahnya dan segera turun dari dalam mobil.


"Ingat, bawa semua keperluanmu" ujar Jack singkat pada Alona.


Mendapati suara Jack, Alona seketika menundukkan kepalanya dan tersenyum pada laki-laki itu.

__ADS_1


Menit demi menit berlalu, Jack yang sudah lama menunggu Alona tiba-tiba terbersit perasaan ibah pada wanita yang baru saja ia temui dalam hidupnya. Bagi Jack, Alona memiliki jalan hidup yang sedikit berbeda dengan para wanita yang ia jumpai selama dirumah bordil mami Neli.


Banyak dari mereka, memutuskan hidupnya untuk menjadi wanita malam hanya karena ingin memenuhi gaya hidup sesaat. Tapi tidak dengan Alona.


"Ayolah Jack, ini bukan saatnya untuk seperti ini" gerutu Jack sambil menepuk kedua pipinya dengan kasar.


Jack adalah seorang anak dari dua bersaudara, dirinya terlahir dari kedua orang tua yang begitu baik dan menyayanginya dengan sempurna. Jack memiliki seorang adik perempuan, usia mereka hanya terpaut satu tahun saja saat itu. Tapi, semenjak kejadian nahas hari itu hidup Jack berubah 90 derajat. Sebuah peristiwa kecelakaan tragis telah merenggut nyawa ketiga orang tersayang Jack dengan seketika.


Dan disitulah, Jack hidup seorang diri. Hingga ia dipertemukan dengan mama Neli sampai dengan saat ini. Ia sadar bahwa yang dirinya kerjakan hingga detik ini adalah hal yang salah dan keliru, awalnya hati Jack memberontak tapi karena ingin membalas semua kebaikan Neli selama bertahun-tahun mengasuhnya Jack melakukan semua ini semata ingin berterimakasih.


"Aku sudah siap" ujar Alona yang baru saja memasuki mobil.


Ia terlihat begitu lebih cantik dibandingkan sebelumnya, rambut hitam Alona tergerai sempurna dihadapan Jack. Dan tubuhnya sangat wangi saat itu. Beberapa detik, kedua bola mata Jack terpikat akan pesona kecantikan Alona. Tapi dengan cepat ia tepis seketika.


"Baiklah, kita berangkat" ajak Jack.


Hari sudah mulai gelap, Jack pun membawa laju mobilnya dengan sedikit laju.


"Jack, apa kau sudah lama bersama mami?" tanya Alona yang membuka topik tiba-tiba.


"Tentu" sahut Jack.


"Apa dia baik?" timpal Alona sambil menatap ke arah Jack.


Mendengar kalimat Alona, Jack seketika melambankan laju mobil dan mencoba memberikan jawaban terbaiknya.


"Mudah kan?, jadi tentukan penilaianmu sendiri" terang Jack.


Ia sama sekali tak ingin membangun stigma buruk tentang Neli dihadapan Alona. Jack ingin Alona menilai dengan sudut pandangnya sendiri tanpa harus melihat sudut pandang orang lain.


"Baiklah, terimakasih Jack"


"Kamu, adalah orang pertama yang aku kenal dirumah itu setelah mami"


"Namaku, Alona Wilhelmina. Kau bisa memanggilku Alona Jack" terang Alona dengan manis.


"Tentu" timpal Jack.


Malam itu, keduanya baru saja tiba dirumah Neli. Dan didalam, Neli sudah sangat lama menunggu kedatangan keduanya.


"Malam mam?" suara Alona didepan pintu.


"Hai, malam sayang. Kemari dan duduklah disampingku" ajak Neli dengan ramah.

__ADS_1


Jack dengan cuek, membawakan tas milik Alona masuk ke dalam dan diletakkan tepat disampingnya.


"Jack?"


"Setelah makan, cepat kau persiapkan segalanya untuk wanita cantik ini" perintahnya dengan lembut.


Jack mengangguk.


Tiba-tiba, sebuah keributan di teras depan rumah Neli terdengar cukup kencang hingga masuk ke dalam rumah.


"Tidak, aku tidak sudi kau sentuh lagi tuan!" teriak salah seorang wanita.


Wajahnya lebam, dan pelipisnya mengeluarkan darah segar.


"Hei, hei ada apa ini ribut-ribut" tanya Neli dengan geram.


Neli menatap lekat mata Sarah saat itu, seoah ingin menegaskan bahwa apa yang ia lakukan salah.


"Mam, tolong aku darinya"


"Aku tak ingin lagi melayani dirinya" berontak Sarah dengan tangisan.


Sarah menunjukkan semua luka akibat ulah customer yang bermain kasar dengan dirinya. Ia ingin mendapatkan pembelaan dari Neli saat itu, tapi sayang itu hanya sebuah angan Sarah belaka.


"Kau tau bukan, bahwa kepuasan pelanggan adalah nomor satu!" pekik Neli disamping telinga Sarah dengan menarik kasar rambut Sarah.


"Maafkan dia tuan, tolong berikan ia kesempatan sekali lagi bersama dengan mu" pinta Neli dengan sopan.


"Baiklah, suruh dia temui aku didalam sana" sahut pria hidung belang tersebut.


"Cepat kembalilah!" perintahnya pada Sarah.


Suka tidak suka, Sarah harus lakukan hal itu dengan berat hati.


Hanya berselang 20 menit kemudian, Neli yang sudah duduk berbincang dengan Alona kembali. Dikejutkan lagi oleh tingkah Sarah yang main masuk sembarangan ke ruangan rumahnya.


"Ambil jatahmu mam, aku telah menyelesaikan semua dengan baik" ujar Sarah dengan meringis kesakitan.


Kali ini bukan hanya wajah dan pelipisnya saja yang terluka. Di ujung bibirnya pun mengeluarkan darah segar dan bagian tengahnya terlihat sedikit robek.


Alona menatap ngilu wanita yang sedang berdiri dihadapannya, batinya masih terus bertanya apa yang tengah terjadi pada diri wanita itu.


Bersambung ♥️

__ADS_1


...Berikut adalah visualisasi Alona Wilhelmina, seorang wanita tangguh tapi memiliki jiwa yang lembut❤️❤️...



__ADS_2