
"Duduklah dulu, setidaknya istirahatkan dirimu sejenak Alona."
"Mari ..."
"Akan aku buatkan teh hangat dan sandwich untukmu juga,"
Dengan lembut Natasya menawarkan semua itu.
Ia paham betul jika, permainan keduanya yang begitu lama akan menguras seluruh tenaganya tanpa tersisa.
"Tidak, aku harus segera pulang."
"Kasihan Jack tengah menungguku lama diluar."
Alona menuturkan permintaannya pada keduanya. Dia tak ingin jika Jack akan menunggu dirinya lebih lama lagi diluar.
"Jack?"
"Namanya tak berbeda jauh denganmu sayang," imbuh Nat sambil bersenda gurau dengan sang suami Jacob.
Tak terasa, sikap keduanya begitu mengintimidasi Alona disana. Bagaimana tidak, keduanya mampu bersikap sangat romantis layaknya tak pernah ada peristiwa yang akan melukai pihak lain setelah semua permintaan mereka.
"Baiklah Alona, inilah dirimu sekarang. Tak perduli mau bagaimanapun situasi dan kondisinya kau harus tetap tersenyum. Belajarlah pada rumput, meski ribuan kali terpijak oleh orang ia masih tetap kokoh untuk berdiri lagi tanpa dihargai." gumamnya.
Wajah lelah bercampur sedih dan kecewa masih ia simpan dan tutupi rapat dihadapan Nat dan Jacob malam itu, tapi tidak setelah kepergiannya dari pintu utama rumah mereka.
Pecah seketika tangis Alona disana, ia tak mampu lagi membendung segalanya. Dirinya berjalan penuh keraguan untuk menghampiri Jack di dalam mobil , dan sesekali terlihat mengusap lengan tubuhnya yang kedinginan.
"Hei, ada apa?"
"Apa dia melukaimu?"
Jack sontak terkejut mendengar isak tangis Alona dibalik sunyinya malam.
"Akan ku beri pelajaran lelaki brengsek itu!"
Ucap Jack sembari bangkit dan menutup pintu mobilnya dengan kasar sambil menggerutu .
"Tidak Jack, ayo kita pulang!"
Tatapan mata nanar Alona begitu mengiris hati Jack, ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada wanita yang teramat dirinya sayangi saat ini.
"Ayo masuk, kita pulang." ajak Jack yang tak ingin berlama-lama didepan rumah itu dan memilih untuk memberikan waktu pada Alona agar menenangkan dirinya.
Sepanjang jalan, Jack memandangi Alona yang sejak tadi menatap jalanan dengan tatapan mata kosong.
"Apa kau mau menepi sebentar Jack, sebentar saja."
"Aku tak ingin langsung pulang ke rumah hari ini," pinta Alona dengan wajah begitu sedih.
Jack paham, bahwa itu akan melanggar peraturan Neli. Tapi keadaan Alona saat ini, harus ia pikirkan terlebih dahulu.
"Baiklah ..." ucap Jack dengan pertimbangan matang.
__ADS_1
Sesuai menepikan mobilnya, kini Alona keluar dari dalam mobil itu dan tubuhnya beringsut dibagian salah satu mobil Jack. Masih dengan kondisi lampu mobil yang menyala , Alona lebih memilih untuk menumpahkan seluruh rasa kecewanya di tepi jalan.
"Ibu ..." teriaknya sambil meremas sebagian rambutnya. Dan teriakan itu begitu mendalam seolah menyiratkan rasa terpukul begitu hebat.
Jack yang sejak tadi memandangi dirinya dari dalam mobil, memutuskan untuk segera menghampiri Alona yang berada disamping mobil. Melihat kedatangan Jack, Alona meraih tubuh pria itu dengan cepat. Tangisnya pecah dan terisak di dalam dekapan dada Jack.
"Aku ingin mati saja Jack!"
Teriaknya semakin menjadi.
Jack yang berusaha memberikan ketenangan, sontak menarik tubuh Alona dan mengguncangkan pundaknya berulang kali.
"Sadarlah, apa yang kau katakan hah?"
Ia mengangkat dagu Alona yang tengah tertunduk lemas sambil menahan tangis sejak tadi.
"Aku tidak berguna Jack, aku tidak berguna ..." imbuhnya dengan suara bergetar.
"Dirimu wanita hebat, lihatlah sampai dengan saat ini. Kau rela mengorbankan diri dan perasaan mu hanya untuk ibu mu bukan?"
"Tentu dia begitu bangga padamu dialam keabadian sana!"
Tunjuk Jack ke atas langit gelap malam .
"Tapi kali ini, aku tak mungkin bisa melewatinya Jack ..."
"Ini terlalu sulit."
Sekali lagi Alona membenamkan wajahnya dalam pelukan Jack.
Tapi Alona memilih bungkam pada Jack dan kembali masuk kedalam mobil begitu saja.
"Apa ini Jack ..."
"Begitulah wanita, mereka selalu ingin dimanja sepanjang masa!" terangnya .
Jack pun mengikuti Alona dan segera membawanya pulang, agar bisa cepat beristirahat.
*
*
*
"Bagaimana malam ini sayang?"
"Kau menikmatinya bukan!"
Sambut Neli yang tengah sibuk menata rapih beberapa gepok uang miliknya didalam koper. Wajahnya begitu senang, dan menyiratkan kepuasan tersendiri.
"Nikmat mana yang kau maksud mam?"
"Bukankah lebih nikmat seluruh uang itu?"
__ADS_1
Cela Alona yang kali ini lebih berani menyuarakan suaranya dengan lantang.
Neli tersenyum licik, bahkan sikap pemberontakan seperti ini bukan baru sekali terjadi menghampiri dirinya.
"Yah, aku sangat suka dengan tumpukan uang ini. Dan asal kau tau sayang, aku tak kan pernah mau tahu hal apapun selain dirinya!"
Begitu egois Neli dihadapan Alona kala itu, baginya uang diatas segala-galanya.
"Kenapa dirimu mengambil keputusan sepihak ini mam!"
"Apa tidak bisa aku mendapatkan keadilan sedikit saja dengan pekerjaan kotor ini?" ujarnya.
"PLAKK."
Tangan besar Neli melayang ke pipi kanan Alona dengan cepat, seketika tangan itu meninggalkan bekas kemerahan disana.
"Jaga mulut lancangmu itu jaalang, seharusnya kau bersyukur karena telah aku pungut dirumah ini."
"Siapa dirimu yang berani mengaturku, dan berani bersuara lebih tinggi dariku!"
Mata Neli membulat sempurna dengan gesekan kedua rahangnya .
"Aku Alona, dan aku berhak mendapatkan keadilan mam." suaranya lirih tapi sama sekali tak gentar menyuarakan keadilan bagi dirinya sendiri.
"Aku diam saat aku tahu, jika dirimu menjual tubuhku!"
"Tapi kali ini, kau menjual rahimku juga!"
"Kenapa tidak sekalian kau jual saja nyawaku ini?"
Dengan suara tertatih ia luapkan segala rasa kecewanya pada Neli.
Seruan Alona saat itu, tidak sengaja didengar oleh Jack yang baru saja memasuki rumah dan tengah memainkan kunci mobil diujung jarinya.
Ia pun terkaget bukan main dengan ucapan Alona terhadap Neli, dan kini ia tengah terhenti dan berdiri tepat dibelakang Alona yang memiliki jarak hanya beberapa langkah saja darinya.
Bahkan diruang yang berbeda, pertengkaran itu dapat di dengar jelas oleh Martha dan King yang baru saja usai membersihkan dirinya masing-masing.
"Saran yang bagus, jika ada yang menginginkan hal itu dengan bayaran mahal aku akan melakukannya untukmu !" sahut Neli dengan entengnya.
Martha yang baru saja bergabung dirumah itu, bulu kuduknya seketika bergidik ketakutan ketika mengetahui jika Neli memiliki sikap sekejam itu.
"Kasihan sekali dia ..." ucapnya lirih sambil mengigit ujung jarinya .
"Kau memang sama sekali tak memiliki hati sedikitpun mam!"
" Bagaimana mungkin aku mengandung seorang anak, tanpa adanya sebuah pernikahan."
"Dan jika dia terlahir nanti, bagaimana mungkin juga aku bisa jauh darinya. Karena ia pun darah daging ku sendiri."
Mata Jack seketika terbelalak setelah mengetahui segalanya.
"Ada hak apa kau dengan bayi itu, mereka telah membelinya bukan?"
__ADS_1
"Kau hanya cukup melahirkannya kedunia ini." sahut Neli acuh dengan meninggalkan Alona sendiri disana.
Bersambung ❤️