Kidung Cinta Alona

Kidung Cinta Alona
Bab 39


__ADS_3

Belum usai keduanya bersenang-senang, Neli membisikkan kata-kata yang membuat mood Alona menghilang seketika.


"Bergegaslah, tamu mu sudah dalam perjalanan!" terangnya.


Neli tak ingin melukai hati Jack dengan membicarakannya secara gamblang disana, dirinya tetap ingin jika anak kesayangannya itu baik-baik saja.


Mendengar perintah Neli, Alona hanya berdehem sambil mengatur nafasnya dengan perlahan.


Tak ada hari pertama yang indah bagi keduanya sebagai pengantin baru, bahkan setelah menikah pun Alona tak memiliki prioritas utama bagi sang suami. Ia hanya dituntut untuk mendahulukan para lelaki hidung belang yang sanggup membayar tubuhnya.


"Eh, mau kemana?" Jack menarik tangan istrinya saat wanita itu hendak melintas disampingnya.


Sambil menarik nafasnya sedalam mungkin, Alona berbalik dan menatap suaminya penuh dengan senyum manisnya. Dan berkata dengan lemah lembut.


"Aku ingin mengganti bajuku," sahutnya sambil menyembunyikan wajah kecewanya.


"Baiklah ..." sahut Jack dengan melepaskan jemari Alona perlahan.


Saat itu, Jack tengah sibuk berbincang dengan Jean di ruang tamu. Mereka terlihat begitu seru, saat keduanya membahas hal seputar kehidupan pernikahan.


"Kalian berdua pastinya sudah memilih sebuah tempat tinggal bukan?" goda Jean sambil menonjok lengan Jack yang tengah tertawa bahagia.


Tanpa mereka sadari, rupanya Neli telah menguping sepanjang pembicaraan keduanya sejak tadi. Kali ini, Neli ikut serta untuk membahas percakapan keduanya sambil mengiris sebuah apel merah miliknya yang seharga rumah per kilonya.


"Mana ada !" sahutnya sambil memasukkan irisan apel kedalam mulutnya.


"Jack tidak akan pergi kemanapun Jean, dia tetap bersama dengan kita. Peraturan pertama rumah ini adalah tidak ada yang akan bisa selangkah pun keluar dari sini selama hutangnya belum terbayarkan seutuhnya!"


"Lagi pula, wanita itu akan mengajak anak kesayangan ku ini kemana. Bukankah dirumah ini, dia sudah begitu nyaman?" sindirnya sambil melirik wajah Jack yang tengah menegang.


Kendati hal ini belum sampai ditelinga Jean, dia begitu shock akan keputusan sepihak Neli pada keduanya.


Jean menggoyangkan tubuh Jack berulang kali dengan pandangan bertanya-tanya, tentunya setelah kepergian Neli dari sana.

__ADS_1


"Apa ini Jack, kau sudah menikah. Dan kau rela istrimu disentuh oleh pria lain selain dirimu?" ucap Jean kesal.


Protes kasar Jean, diiringi dengan kehadiran Alona yang sudah bersiap dengan riasan wajah tipis serta baju yang sexy dan sedikit ketat ditubuhnya. King pun telah bersamanya disana, dan bersiap untuk mengantar istri Jack tersebut.


"Mau kemana?" ucapnya dengan nada canggung.


"Kerja." timpal Alona yang memilih bahasa sebaik mungkin dihadapan Jack agar ia tidak tersinggung sama sekali.


"Aku akan mengantarmu ..." jelasnya sambil melepas peci hitam di atas kepalanya.


Tapi niat itu kembali urung ketika Neli memerintahkan Jack untuk segera pergi ke bandara menjemput tamu berikutnya.


"Tidak Jack , segera pergilah ke bandara untuk menjemput tuan Wilbram. Dia hanya mengenalmu bukan?"


"Dia juga ingin dimanjakan hari ini juga olehnya!" tunjuk Neli tanpa menatap, tapi tepat pada tubuh Alona. Wanita itupun enggan menyebut jika Alona adalah istri sah Jack saat ini.


Ada rasa sakit hati yang begitu menggelora di dasar relung hati Jack saat itu, ia sama sekali tak bisa berbuat banyak ketika istrinya tersebut harus melakukan pekerjaan hina itu didepan matanya.


"Ayo King ... " seru Alona yang mengajak King untuk segera berangkat secepat mungkin.


Sedangkan Jack yang sudah terlanjur marah, segera memasuki mobilnya dan menginjak gasnya dengan kasar melesat secepat mungkin.


Pernikahan keduanya pun telah sampai ditelinga King saat itu, dan membuat suasana cukup canggung diantara keduanya siang itu.


"Kita sampai..." ucap King pada Alona selayaknya majikan dan supir.


Alona dapat memahami segalanya dengan baik, bahkan dirinya tak pernah sama sekali mempermasalahkan sikap setiap orang yang telah melukai hatinya.


"Baiklah, aku akan segera masuk ke hotel itu." sahut Alona lembut.


Ketika Alona tengah menghilang dari pandangan King, kini mata pemuda itu tertuju pada seorang laki-laki yang berpakaian santai dan mengenakan kacamata .


"Apa itu papa?"

__ADS_1


Karena dirinya begitu merindukan sang papa, King menuruni mobil dan berlarian untuk menghampirinya.


"Pa ..." sapa King sembari berteriak.


Broto menghentikan langkahnya dan membuka kacamata hitam miliknya dengan cepat.


"Apa itu kau King?" sapanya.


"Tentu, aku begitu merindukan mu pa." ujarnya dengan senyum bahagia.


Keduanya berpelukan sesaat untuk melepas rasa rindu disana.


"Papa ingin bertemu dengan siapa dihotel ini?" tanya King antusias.


Broto tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, sementara tangannya telah memegang sebuah kunci kamar yang betuliskan sebuah angka 393.


"Angka itu ..." gumam King sambil terus mengingat jauh kebelakang.


"ALONA!" ujarnya dengan terkejut.


"Hei, ada apa. Sudah lanjutkan pekerjaanmu dulu, papa ingin segera masuk kedalam."


ujar Broto dengan santainya sambil bersenandung.


"Baiklah pa, silahkan." timpal King penuh dengan siasat.


Disanalah King memutuskan untuk mengikuti papanya dari belakang sambil mengendap-endap disetiap lorong.


Sampai tiba Broto didepan kamar yang telah ditentukannya dengan Neli, ia mulai terlihat memasukkan ujung kunci tersebut dengan segera. Dan disaat itu pula, King mendekati sang papa dan memukul leher bagian belakang Broto dengan keras.


"Bugh!" satu hantaman cepat diarahkan King, dan itu membuat Broto kehilangan kesadarannya seketika.


King yang telah memakai masker hitam dan kacamata serta topi miliknya kini menyeret sang papa kedalam sebuah toilet umum di hotel tersebut. Ia memasukkan tubuh Broto pada salah satu bilik toilet tersebut, dan mendudukkannya disana.

__ADS_1


"Maafkan King pa!" ujarnya sambil meninggalkan Broto.


Bersambung ❤️


__ADS_2