
Sejak hari itu, King Faz tak pernah lagi mengunjungi toko roti milik cik Mei.
*
*
*
"Kenapa dia berada disini, dan ia tengah bekerja sebagai apa ditempat ini?" pikir King dengan merenung.
Setelah merenung cukup lama, tanpa ia duga bahwa ia akan mendengarkan hal yang begitu membuatnya terkejut.
"Dengarkan aku sayang, kau akan mendapatkan tamu spesial lagi malam ini. Dia tuan Alberto, langgananku sejak lama dan dia juga sultan kelas kakap!"
"Tolong layani dia sebaik mungkin." perintah Neli .
"Layani?"
"Melayani dalam hal apa!" seru King yang sejak tadi menguping pembicaraan keduanya.
"Pukk" Sebuah tangan menepuk pundaknya dari arah belakang, dan itu membuatnya sangat terkejut.
"ASTAGA ..." Teriak King sambil mengelus dada bidangnya dan membenarkan ritme nafasnya yang tengah naik turun.
"Kenapa kamu berdiri disini, dan siapa dirimu!" tanya Jack dengan tengil.
"Ah, pekernalkan namaku King Faz. Orang menyebutku King atau juga Faz, sesuka mereka." jelas King dengan mengulurkan kedua tangannya.
Tapi uluran tangan itu tak ditanggapi oleh Jack, ia malah asyik meneliti penampilan King sejak tadi.
Sekali lagi King mengulurkan tangannya kembali sembari menepuk kedua telapak tangannya terlebih dahulu, dengan mengembangkan senyum dua jarinya.
"Apa kau tamu mami?"
"Tamu?" tiru King dengan cepat.
"Oh bukan, aku pekerja disini juga nantinya?" jelas King pada Jack .
Karena uluran tangannya tak disambut oleh Jack, King menarik kembali uluran tangannya disana.
"Jadi dirimu yang akan menggantikannya," seru Jack acuh.
"Bisa jadi." jawab King santai.
"Boleh aku tahu, siapa namamu ?" tanya King mencoba lebih akrab dengan Jack.
"Panggil aku Jack," terangnya sambil mengunyah sebuah permen karet mint.
Ditengah pembicaraan mereka, tiba-tiba Alona lewat begitu saja dihadapan keduanya tanpa permisi ataupun senyuman.
"Eh." sapa King mencoba memanggil Alona yang masih belum mengetahui namanya.
"Ada apa?" tanya Jack penasaran.
"Kau mengenalnya!" selidik Jack sambil terus mengamati kedua bola mata King yang sejak tadi mengikuti kemana arah Alona berjalan.
__ADS_1
"HEI ..." teriak Jack kesal.
"Akh, maafkan aku."
"Aku tidak mengenalnya, tapi aku sering bertemu dengan dirinya ditoko roti itu." jelas King yang seakan masih tak rela ia di campakkan begitu saja dengan Alona.
"Mungkin kau salah orang," sahut Jack kesal.
Ia sama sekali tak menginginkan satu orangpun melainkan dirinya yang dekat dengan Alona.
Melihat sikap Jack yang kurang ramah sejak tadi, king memutuskan untuk segera pulang terlebih dahulu. Karena Jack juga sudah meninggalkan dirinya.
Sepanjang perjalanan, ia terus mengingat wajah Alona hingga tersenyum sendirian diatas motornya.
"Dari mana saja dirimu sepanjang hari ini?" tanya Broto yang terlihat sudah menunggu kedatangannya sejak tadi.
"Maaf pa, King sedang bertemu dengan perkumpulan mahasiswa tadi." terangnya berkelit dihadapan sang ayah.
Ia hanya menatap papanya yang hanya terdiam diatas meja makan, sambil terus menatap semua hidangan malam itu.
King yang tengah mengambil segelas air putih di dapur, tiba-tiba bi Sani menghentikan langkah kakinya.
"Den, tuan sejak siang belum makan apapun . Dan lihatlah, sampai saat ini juga piringnya masih kosong."
"Dia menunggu kepulangan mu sepanjang hari." tutur Sani dengan lembut.
Ia kemudian menghentikan minumnya sambil terus menatap sang ayah dengan sendu. Pemandangan seperti ini memang sering ia dapati sejak sepeninggal mamanya dulu, Broto sangat kesepian dirumah sebesar itu.
"Pa, makan yuk. King lapar sekali sepanjang hari belum makan apapun." ajaknya yang tiba-tiba memecah keheningan.
Benar saja, sebuah senyuman sudah terukir diwaja Broto yang sejak tadi melamun.
Kini keduanya pun memakan hidangan makan malam bersama-sama.
"Bagaimana ini, apa mungkin aku akan meninggalkan papa sendirian dirumah ini. Pengertian apa yang harus aku berikan padanya." gumam King .
"Pa ..." panggil King.
"Hm, yah" sahut Broto sambil terus memasukkan semua makanan satu persatu kedalam mulutnya dan mengunyah sejak tadi.
"King ingin bekerja." terangnya tanpa ragu.
Mendengar permintaan sang putra, Broto menurunkan sendok dan meletakkan garpu serta meletekanya diatas piring.
"Kerja?"
"Apa semua uang yang papa berikan padamu kurang?"
Ia berbicara tanpa menatap wajah anaknya dan lebih sibuk dengan menekan-nekan ponsel miliknya.
"Papa telah kirim uang 100 juta padamu." jelas Broto dengan tegas.
"Kau tinggal bilang padaku King, jika nominal uang itu kurang. Papa akan memberikannya padamu." tutur Broto.
"Tidak pa, bukan uang yang King mau. Papa sudah memberikan King uang dan seluruh kasih sayang papa yang berlebih selama ini padaku." tolak King.
__ADS_1
"Lantas apa yang dirimu mau?"
"Bekerja bukan solusi yang bagus."
"Kau bisa mengembangkan usaha kebun teh papa jika kau mau!"
Cecar Broto tanpa henti pada sang anak.
"King tak mau hidup bergantung pada papa seterusnya." cela King.
"Kau anakku King, apa yang sedang kau katakan itu!"
"Coba jelaskan pada papa, jika paman atau keluarga kita yang lainnya tau seorang anak Broto lebih memilih kerja ditempat lain ketimbang mengurusi usaha ayahnya!"
"Mau taruh mana muka papa King!"
"Maka dari itu, King ingin lepas dari nama besar papa. King ingin menemukan jalan hidup King sendiri pa!" seru King dengan semua alasannya.
"Baiklah, jika memang itu maumu King. Papa takkan pernah menghentikan dirimu lagi." tutur Broto dengan wajah kecewanya.
Broto beranjak dari meja makan dan segera pergi ke kamarnya saat itu, King cukup lega karena kali ini papanya tidak mengeluarkan semua penolakannya terhadap apa yang tengah ia inginkan.
"Maafkan King pa!" ucapnya lirih.
Malam itu, king memutuskan untuk mengemasi seluruh barangnya. Dan sejak hari itu pula, King meninggalkan seluruh fasilitas yang diberikan oleh Broto selama ini untuk dirinya. Beberapa atm miliknya ia tinggalkan di laci kamarnya.
*
*
*
"Anda tuan Alberto?" tanya Alona sejak setengah jam lalu ia menunggu kedatangannya.
Kali ini, tamu kedua Alona ingin bertemu disebuah hotel bintang lima dengan sejumlah fasilitas vvip lainnya.
"Tentu, aku Alberto!"
"Tidak ada yang bisa membuka kamar ini selain diriku." Terangnya sambil membuka jas miliknya.
Sementara disudut ranjang yang begitu luas dan terasa empuk. Alona sudah terlihat bersiap dengan mengenakan sebuah lingeriee yang sudah disiapkan Neli.
"Kemarilah, mendekat padaku!" pintanya.
Alberto Fabiola adalah seorang pengusaha kaya raya dari negri kanguru. Memiliki beberapa kapal pesiar dan masih banyak lainnya harta yang bernilai fantastis.
Diusianya yang masih dibilang cukup muda, Alberto telah mengepakkan sayapnya disejumlah sektor usaha. Saat ini, dirinya telah berusia 30 tahun setelah seminggu yang lalu ia merayakan pesta ulang tahun yang cukup meriah disebuah club malam.
Bersambung ❤️
......................
...Mampir kesini juga yuk bestie❤️...
__ADS_1