
"Apa juga termasuk dirimu?"
Tanya balik Alona yang membuat Jack begitu tercengang kendati pertanyaan itu akan Alona lontarkan kepada dirinya juga.
Jack tersedak sambil membenarkan gesture tubuhnya sebelum memberikan jawaban itu pada Alona.
"Terserah kau saja, ingin memiliki seperti apa."
Selama ini, Jack memang tak pernah melakukan hal itu. Bahkan bisa dijamin jika pusaka miliknya masih dalam keadaan keramat. Tapi kendati demikian, pikiran Alona saat itu tak dapat lagi dikendalikan dengan baik.
Ia sudah memikirkan hal buruk tentang Jack disana.
"Mari kita turun, sudah sampai."
Alona masih menatap Jack dengan pandangan buruknya, sambil menuruni mobil .
Di rumah yang begitu megah dan memiliki gaya arsitektur klasik berwarna putih, terdapat beberapa pilar menjulang tinggi dari tampak depan.
"Apa kau tak ingin mengantarku hingga kedalam?" tanya Alona yang menghentikan langkahnya ketika tahu Jack masih saja bersandar pada mobilnya.
"Tidak, aku tak perlu lagi mengawasimu bukan." imbuh Jack sambil memantik api pada ujung rokook miliknya.
Ia sama sekali tak ingin lagi mendekap erat Alona dengan segala kegilaannya, ia sadar hal itu akan membuat jarak yang begitu jauh diantara mereka. Dalam hal lain, ia tak ingin alah saing dengan King yang sudah lebih unggul darinya.
Ia pun mulai melangkahkan kakinya disana, untuk menjumpai tamunya tersebut. Setibanya didalam, Alona ternyata sudah ditunggu kedatangannya oleh sepasang suami istri yang duduk di sebuah sofa bewarna cream.
Tak ada yang salah dari keduanya, bahkan mereka masih terlihat romantis. Duduknya tak berjarak, apalagi lengan lelaki yang masih cukup muda itu merangkul hangat pundak sang istri.
"Kamu Alona?"
"Kemarilah." panggil wanita yang duduk disamping lelaki berwajah tampan.
Dengan malu-malu, Alona lantas menghampiri keduanya.
"Perkenalkan aku Natasya, panggil saja aku Nat." imbuhnya.
"Dia suamiku Jacob."
Wanita itu terlihat begitu tenang dan tak gusar sama sekali ketika memperkenalkan dirinya dan sang suami.
"Malam ini kau akan melayaninya bukan?" terang Nat dengan gamblang dan suaranya sama sekali tak bergetar ketika tahu sang suami akan melakukan hubungan intim dengan wanita lain.
__ADS_1
Mata Alona terbelalak ketika Natasya begitu pasrah dan lembut menyerahkan begitu saja sang suami tanpa pemberontakan.
Tapi masih terlihat aneh disudut lain, tatapan mata Jacob seperti tak ingin melakukan hal itu. Sejak tadi, Jacob tak henti-hentinya memandang sang istri yang tengah berbicara.
"Kenapa kalian melakukan ini?"
Dengan suara gemetar, Alona memberanikan dirinya untuk menanyakan hal yang seharusnya sama sekali tidak menjadi kewenangannya. Dirinya ingin menghentikan langkah kedua pasutri itu sebelum semua menjadi runyam .
Natasya tersenyum memandangi wajah Alona dan juga Jacob suaminya.
"Kau wanita yang baik, aku yakin itu."
"Kita sama-sama wanita buka, dan aku yakin kau sangat memahami itu."
Nat mencoba menjelaskan sesuatu yang sejak lama ia dambakan.
"Kami berdua sudah menikah 10 tahun lamanya, dan semenjak itu sampai saat ini kami belum dikaruniai keturunan."
"Aku berpikir , jika suamiku lebih baik akan menikah saja lagi dan membangun keluarga kecil yang utuh. Tapi, Jac tidak pernah mau melakukan hal itu. Jadi aku putuskan untuk mengambil langkah ini."
Jelas Natasya dengan santainya. Setelah ia menceritakan hal itu, Nat pun menembakkan langsung keinginannya pada Alona tanpa basa-basi lagi.
"Berikan aku seorang bayi, aku mohon!" pinta Natasya dengan suara yang bergetar. Kali ini sungguh ia tak dapat lagi membendung air matanya yang begitu mengalir deras di kedua pipinya.
"Ma-af, tapi aku ..." sahut Alona sambil terbata-bata.
"Tidak, tolong jangan kau tolak permohonan kami ini padamu !" teriak Natasya histeris.
Keduanya telah melakukan pembayaran yang cukup besar terhadap Neli, agar keduanya bisa memakai jasa Alona seperti kemauan dirinya.
"Aku berjanji, akan menyerahkan seluruh hartaku padamu Alona. Tapi tolong bantulah aku kali ini saja." imbuh Nat dengan bersimpuh dibawah kaki Alona.
Keadaan didalam semakin runyam, hati Alona yang sudah sangat gusar tak menentu tak bisa berbuat banyak. Ia ingin sekali menolak permintaan keduanya disana, tapi lantas bagaimana dengan sejumlah uang yang telah mereka bayarkan pada Neli tentu Alona tak dapat mengembalikannya dengan mudah.
"Apa dia sudah menyetujui segalanya saat kalian membayarkan sejumlah uang itu?" tanya Alona dengan memendam segala amarahnya.
"Tentu, kami telah menyepakatinya. Hanya saja ia tak ingin jika dirimu tinggal disini bersama kami ketika berhasil melakukannya ..." terang Nat dengan keadaan yang cukup stabil.
Amarah Alona sudah begitu memuncak setelah mendengar Neli telah menyetujui segalanya tanpa bertanya dahulu kepada dirinya.
"Berapa jumlah uang yang kalian berikan padanya?"
__ADS_1
"1 Milyar, itu juga belum termasuk jika dirimu berhasil melakukannya."
"SIALAN!" Batin Alona sambil meremas ujung sofa .
"Baiklah, mari kita mulai saja sesuai dengan keinginan kalian."
Dengan wajah berbinar penuh harap, Natasya memeluk erat tubuh Jacob dengan sebuah tangis haru bahagia. Nat pun mengajak keduanya masuk kedalam kamar milik mereka, di kamar itu sudah tertata rapi segalanya. Bak seperti seorang pengantin baru keduanya ketika masuk didalam disambut dengan penataan kamar yang begitu bagus .
Tak lupa juga, beberapa serpihan kelopak mawar merah menghiasi ranjang itu.
Alona begitu terkesima dengan suasana ruangan kamar yang tak pernah ia dapati selama melayani para tamunya.
Sedangkan di kediaman Neli, King yang telah masuk kedalam kamar masih terlihat terdiam duduk di sebuah kursi.
"Apa kau ingin memukuli diriku?"
"Tolong jangan lakukan itu, aku berjanji akan menuruti segalanya."
Rengek gadis yang baru saja bergabung dirumah Neli . Dia adalah Martha ,seorang gasi yang baru saja lulus dari sekolah menengah atas.
Tapi King masih saja terdiam sambil memegangi dagunya disana. Bagaimana tidak, apa yang ada dihadapannya kali ini sangat bertolak belakang dengan hatinya.
Ia pun tak berani jika menolak permintaan Neli, karena King tahu segala resikonya. Terlebih jika menolak hal itu, ia tak dapat lagi berjumpa dengan Alona.
"Maafkan aku, tapi aku harus melakukannya!" ujar King dengan menutup kedua matanya rapat-rapat.
"Ada apa denganmu, sedari tadi kau hanya meminta maaf padaku." terang Martha yang sudah agak tangan dengan kondisinya.
"Ia menyuruhku untuk berhubungan intim denganmu, jadi maafkan jika aku akan perbuat hal itu padamu tanpa memberikan imbalan." jelas King.
"Jujur, aku masih perawan. Dan aku tak tahu bagaimana caranya untuk memulai semua ini."
Mendengar ucapan Martha, King pun memandangi dirinya. Hal yang sama telah meraka dapati dalam kamar tersebut, keduanya sama-sama masih bersegel dan tak pernah terjamah.
"Mudah saja, tutup kedua matamu dan buka ke dua kaki mu lebar-lebar."
Bersambung ❤️
...****************...
...Mampir kesini juga yuk ❤️...
__ADS_1