
"Tuan, maafkan aku jika nanti dirimu tidak puas dengan pelayananku."
"Aku aku ..." terang Alona kikuk.
"Masih baru dalam urusan ranjang!" jelasnya tegas.
Alona mengangguk malu.
"Tak apa, aku akan dengan senang hati menuntun dirimu hingga lihai." ujar Alberto.
"Bolehkah saya memanggil anda tuan Al?" tanya Alona lirih.
"Tuan?"
"Jangan, jangan. Itu terlalu berkesan formal sekali. Panggil saja mas Al, lebih enak didengar bukan?" timpal Alberto mengarahkan Alona.
"Baik mas Al." imbuh Alona.
Kali ini, keduanya saling berhadapan dan matanya saling memandang satu dengan yang lain. Netra kecoklatan milik Alona membuat kagum Alberto hingga beberapa detik ia terhipnotis dengan paras cantiknya.
"Katakan padaku, kenapa kau menggeluti dunia jahat ini sayang?" jelas Alberto sambil melingkarkan kedua tangannya di panggul Alona.
Kini keduanya telah berada dalam posisi berdiri.
"Aku harus membayar hutang itu mas." tutur Alona sambil menunduk.
"Benarkah?" sahut Alberto cepat.
Pria itu kemudian mengangkat wajah Alona yang tengah tertunduk lesu.
"Katakan, berapa hutangmu padanya. Aku siap melunasinya untukmu berapapun itu!" tantang Alberto.
"JANGAN!" teriak Alona .
"Maafkan aku tuan, eh mas ."
"Kenapa?, bukankah kebebasan yang kau harapkan." imbuh Alberto.
Beberapa menit Alona terdiam dan hanya memandangi wajah pria asing yang sama sekali tak ia kenal sebelumnya, tapi ingin membantunya.
"Aku tidak ingin berhutang budi pada orang yang salah lagi mas, cukup berhenti padanya saja." timpal Alona.
Alberto sangat terkesan padanya, bahkan gadis yang ia nilai begitu cantik itu rupanya tak dapat dibeli dengan uang serta hartanya begitu saja.
"Aku sangat mengagumi dirimu." ujar Alberto yang kini melekatkan dada bidangnya pada Alona.
Sudah tak ada lagi jarak bagi keduanya, Alberto yang begitu lihai mengendalikan ritme permainan membuat Alona merasa nyaman.
"Berjanjilah, untuk perlahan mas." pinta Alona sambil menyangga dada bidang Alberto.
Karena kini keduanya tengah berada di atas ranjang, Alberto kemudian menarik benda tipis yang tengah menjadi penghalang bagi keduanya.
Tubuh Alona menggeliat sejenak.
Dan tanpa berlama-lama, Alberto pun menurunkan tubuhnya digelapnya lampu kamar saat itu.
"Akh ..." pekik Alona .
Karena rasa trauma yang begitu mendalam untuknya, ia sangat tak nyaman ketika hal yang sama harus terulang atau didapatinya kembali.
"Tenanglah, bukankah aku sudah berjanji akan memperlakukanmu sebaik mungkin. Dirimu hanya perlu rileks sayang." bisik Alberto.
__ADS_1
Alona pun kemudian mencoba percaya pada lelaki asing yang baru saja ia kenal. Dan benar, Alberto sangat membuatnya terlena dalam permainan panasnya malam itu. Hingga rasa takut dan sakit sirna seketika dalam ingatannya.
Hanya tersisa rasa berjuta nikmat yang tertinggal dimalam hari itu.
"Jika aku berkunjung kemari lagi, aku ingin berjumpa denganmu lagi." seru Alberto sambil mengecup kening Alona.
Kini keduanya berhadapan diatas ranjang dengan posisi tubuh menyamping.
"Tentu tuan."
"Ini baru satu malam, kau sudah melupakan permintaan ku?"
"Mas Al, kenapa tuan lagi yang terucap dibibir manismu itu." terang Alberto.
Alberto sejak tadi sibuk memainkan rambut Alona hingga mengusap lembut bibir tipisnya.
"Aku akan memberikan dirimu berupa cek sebagi tips, dan ingat itu milikmu. Bukan miliknya!" ujar Alberto yang tengah membicarakan tentang Neli.
"Cek?"
"Aku mohon jangan tuan, aku tidak terbiasa dengan benda itu." tolak Alona.
"Oh, kau tak menginginkannya?"
"Apa kau mau hal lain?"
"Cukup bayar aku padanya saja itu lebih dari cukup." jelasnya dengan senyum manisnya.
"Kau memang berbeda, tunggu sebentar ya."
Pria itu kemudian bangkit dari tidurnya sambil memakai piyama miliknya, mengambil ponsel lalu menelpon seseorang.
☎️"Baik tuan, saya akan membawakannya untukmu." tutur Andreas, seorang tangan kanan kepercayaan Alberto.
*
*
*
Dia adalah seorang lelaki yang begitu menghargai apapun dalam hidupnya. Tak jarang pula, beberapa wanita malam yang selalu menemani dirinya di buai dengan seluruh hartanya. Karena jika Alberto sudah mengeluarkan uang untuk sebuah tips, nominal yang ia berikan selalu tak main-main.
"Ting tong ..." bel kamar berbunyi setelah beberapa menit ia menelpon Andreas.
Merasa tak ingin menyusahkan Alberto, ia kemudian bangkit dengan mengenakan sebuah handuk putih untuk membalut tubuhnya.
"Tunggu , duduklah dengan tenang disana." pintanya sambil memberikan isyarat.
"Ceklek."
"Tuan, ini pesanan anda!" tegas Andreas.
"Baiklah." sahut Alberto.
Sebuah paper bag hitam kecil ia tenteng masuk kedalam kamar dan kemudian ia berikan pada Alona.
"Ambilah sayang, aku belikan ini khusus untuk dirimu."
"Untukku?" terang Alona dengan menunjuk hidungnya.
"Yah, tentu."
__ADS_1
Masih dengan wajah yang ragu dan gugup, Alona menyambut paper bag itu dengan segera.
"Bukalah, dan kenakan." pintanya.
Sebuah kotak hitam berlapis emas diatasnya, Alona mulai membukanya dengan penuh gemetar.
"Cincin?" Alona terkejut dibuatnya, dengan kilau cincin permata bertahta berlian disana.
"Itu milikmu," ujarnya.
"Tidak tuan ..." tolak Alona.
"Ssstttt..." ucap Alberto sambil mengarahkan jarinya untuk menutup mulut Alona yang sejak tadi protes terhadap dirinya.
"Hentikan, itu hanya hadiah kecil dariku. Karena kau sudah menolak cek pemberianku, maka ijinkan aku memberi hadiah kecil itu!" tegasnya dengan menyunggingkan senyuman.
"Entahlah, aku hanya bisa mengucapkan rasa terimakasih ku yang teramat dalam padamu tuan." imbuh Alona dengan menundukkan kepalanya lagi.
Setalah usai membersihkan tubuhnya, keduanya kini telah keluar dari kamar dan hendak meninggalkan hotel tersebut. Alberto sudah berjanji pada dirinya agar malam ini Alona akan di antarnya pulang.
Keduanya berjalan untuk masuk kedalam mobil mewah milik Alberto. Tapi sesaat mereka ingin masuk, sebuah teriakan seorang lelaki memanggil nama Alona.
"ALONA ..." teriaknya dari kejauhan.
Mendengar suara itu, Alona lantas memalingkan wajahnya untuk mencari sosok tersebut. Ketika ia tahu, bahwa itu adalah Broto dengan cepat Alona memaksa Alberto untuk cepat pergi dari tempat itu.
"Hei, ada apa?"
"Kenapa kau sangat ketakutan sayang?" imbuh Alberto.
"Sebaiknya kita cepat pergi tuan." terangnya sambil menutup wajah dengan tas kecil miliknya.
"Jangan takut, aku akan melindungi dirimu." seru Alberto sembari menarik jas miliknya dengan tegap.
"Kau dengan siapa kali ini?" tanya Broto sambil mengamati wajah Alberto.
"Suka sekali dirimu berganti pasangan, atau memang semurah itu harga dirimu!" hardik Broto.
Mendengarkan ucapan Broto, membuat telinga Alberto menjadi pengar dan panas.
"Katakan apa maumu!" tanya Alberto sambil menarik pundak Alona disampingnya.
"Mauku?"
"Tentu ingin meminta uangku padanya, hutang ayahnya sudah sangat lama tak terlunasi." jelas Broto padanya.
"Oh, katakan berapa yang kau butuhkan!" tegas Alberto.
"950 juta semuanya, apa kau mampu?" jelas Broto dengan sombongnya.
"Andreas, tolong kemari. Berikan cek pada lelaki itu dan urus keperluannya dengan cepat." pinta Alberto.
Sementara Alona sangat terkejut dengan sikap tamunya itu, ia masih tak percaya jika Alberto akan semudah itu melunasi hutang yang sama sekali tak ada sangkut-pautnya dengan dirinya.
Bersambung ❤️
...****************...
...Yuk mampir juga ke cerita bestie ini ❤️...
__ADS_1