
"Aku tengah mencari seorang gadis," ujar Broto sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana.
"Seorang gadis?" tiru Neli sambil berfikir.
"Banyak juga gadis disini tuan, mari ikut denganku. Kau boleh melihat foto-fotonys" ajak Neli .
Ia pun mempersilahkan Broto untuk mengecek seluruh foto disana, barangkali gadis yang Broto maksud berada dirumahnya.
"Perlahan saja tuan, tidak usah terburu-buru. Kami akan melayanimu sebaik mungkin," tuturnya dengan menyilangkan kakinya.
Terlihat Broto begitu serius membuka lembar demi lembar album foto yang berisikan anak didik Neli disana, tapi hingga lembar terakhir pun Broto tak dapat menemukan sosok Alona disana.
"Dimana dia," sahut Broto dengan penasaran.
"Dia?"
"Apa tidak ada yang cocok dengan seleramu tuan?" ujar Neli.
Tiba-tiba saja, ditengah perbincangan mereka hadir Jack yang tengah masuk kedalam rumah untuk mengambil segelas air mineral.
Setelah dirinya kembali, tak sengaja Broto yang sedari tadi menatap setiap ornamen rumah itu menatap kehadiran dirinya disana.
"Apa itu anakmu!" tanya Broto dengan mengerutkan keningnya.
"Ah, Jack"
"Sayang kemarilah" pinta Neli dengan melambai ke arah Jack yang tengah meminum airnya.
Jack mengangguk tanpa penolakan.
Sambil berjalan, ia terus mengisi mulutnya hingga terisi penuh dan ke dua pipinya mengembang akibat menampung penuhnya air didalam rongga mulutnya.
"Perkenalkan tuan Broto Jack," jelas Neli padanya.
Ketika Jack membalikkan badannya dan berputar untuk melihat Broto , betapa terkejutnya ia bahwa lelaki itu telah sampai dirumah ini.
"Brusssh" seluruh isi air dalam mulut Jack tumpah sepenuhnya ke arah Broto.
Broto sangat shock dengan kondisi bajunya yang setengah basah. Dengan wajah lebih garang, ia lalu bangkit dari duduknya disana.
"Hei, mana sopan santunmu hah!"
"Apa anda tidak bisa mengajarinya dengan benar" hardik Broto kesal.
"Tapi tunggu dulu, aku pernah bertemu denganmu bukan?"
"Dimana yah!"
"Ah iya, dia yang membawa lari gadis milikku itu!" tuding Broto pada Jack.
Neli menatap keduanya penuh kebingungan, bahkan ia sendiri tak tahu sejak awal siapa gerangan gadis yang dimaksud Broto.
"Kau mengenal tuan ini Jack!" tanya Neli tegas penuh penekanan.
__ADS_1
"Oh yah, maafkan atas ketidaksopanan anakku Jack padamu tuan. Mari aku bersihkan bajumu" terang Neli sambil membawa beberapa lembar tisu pada Broto.
"Tidak perlu!" cela Broto sambil mengangkat telapak tangannya ke arah Neli.
*
*
*
"Katakan padaku, dimana kau sembunyikan Alona!" bentak Broto hingga membuat Neli terkejut.
"Alona?"
"Anda mencarinya,"
"Ada hubungan apa anda dengannya tuan?" cecar Neli penasaran.
"Aku harus membawa gadis itu untuk ikut denganku, hutang ayahnya belum terlunasi sejak lama. Aku ingin menjadikannya pembantu dirumahku saja" jelas Broto sombong.
"Apa!, sialan sekali lelaki ini. Aku kira ia ingin menggunakan jasaku, taunya ia ingin membawa pergi salah satu dari koleksiku. Tidak akan pernah aku lepaskan" gumam Neli dengan pandangan mata sinisnya.
"Ehem!" tegas Neli sembari terbatuk.
"Gadis yang anda cari disini tidak pernah ada tuan, dan anakku juga tidak pernah merasa mengenal siapa tadi?"
"Yah, Alona. Siapa dia, tidak setara dengan anakku Jack bukan. Jadi silahkan segera pergi dari rumahku"
"Pintunya tepat berada dibalik punggung anda" tunjuk Neli, yang mengusirnya secara halus.
"SIAL!"
"Beraninya wanita itu padaku, akan aku buat perhitungan dirinya nanti denganku!" gerutu Broto dalam mobil.
Sedangkan didalam, Jack yang masih bertampang polos diam-diam ingin menghindar begitu saja dari pandangan Neli.
"Jackkkkk"
"Duduk disini, dan ceritakan semua padaku" pinta Neli dengan tegas.
"Katakan, kapan pertemuan kalian terjadi dengan lelaki itu!" tanya Neli penasaran.
Tanpa berlama-lama, Jack pun menceritakan sepenuhnya pada Neli disana. Tentang kronologi sebenarnya yang telah terjadi di mall itu.
"Oh, jadi begitu"
"Baguslah, kau tiba tepat waktu disana bersama dengan gadis itu!" imbuh Neli yang merespon cerita Jack.
"Kau tahu, aku sama sekali tak ingin merugi 1 persen pun Jack. Kau memang kesayangan ku, tiada bandingan!" terang Neli memuji Jack melangit.
Sebenarnya Jack bukan tipikal lelaki yang senang dipuji seperti itu, hanya saja saat ini dia ingin lebih fokus membantu Alona untuk keluar dari masalah satu persatu yang merundungnya.
Sementara di rumah Broto, ia yang baru saja memasukkan mobil miliknya ke halaman rumah sudah dibuat kesal dengan seorang tunawisma tua yang berdiri sejak lama di luar pagar rumah miliknya.
__ADS_1
Lelaki tua dengan pakaian lusuh dan compang-camping itu meminta belas kasih Broto untuk memberikan sepotong roti padanya.
"Tolong saya tuan,"
"Saya begitu lapar" rintihnya dengan suara serak yang hampir tak terdengar jelas lagi.
Mungkin ia sudah menahan lapar dan dahaga sepanjang hari, dan berharap di rumah mewah ini mendapatkan sedikit makanan atau minuman gratis untuknya.
"Ah, pergi sana pergi"
"Rumahku bukan dinas sosial ataupun panti jompo untuk orang semacam mu!"
"Pergilah" usir Broto dengan tegas tanpa memperdulikan lagi tunawisma tersebut.
Dirinya kemudian berlalu masuk kedalam rumah dengan raut wajah yang kesal. Sedangkan dihalaman rumah bagian sisi lainnya, King Faz telah bermain bola basket kesukaannya.
"Duk duk duk" Bola basketnya ia bawa menuju pagar utama rumahnya.
"Kemarilah kek, ambil ini dan belilah makan dan minuman untukmu" terang King sambil mengulurkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan.
"Semoga Tuhan selalu melindungi dirimu nak" ujar tunawisma tersebut.
King Faz pun memeluk tubuh renta sang kakek dan menyuruhnya untuk segera pergi membeli makanan. Ia pun berlalu untuk memasuki rumah, karena ingin segera membersihkan dirinya dari sisa peluh.
"King!" sapa Broto yang sedang duduk dengan menyilangkan kakinya.
"Iya pa" sahut King Faz .
"Kau selalu tak patuh dengan apa yang papa terapkan dirumah ini,"
"Apa mau mu?" cecar Broto meneruskan perkataannya.
Sikap ramah dan lembut yang dimiliki oleh King Faz adalah turunan dari sang ibu, dirinya begitu mirip dengan sang ibu baik dari wajah maupun sikap.
"Maafkan King pa,"
"King hanya ingin berbagi dengan sesama," imbuhnya menerangkan kepada sang ayah.
"Berbagi?"
"Uang siapa yang kau gunakan untuk berbagi itu?"
"Itu uangku bukan?, jadi kau harus menuruti ku untuk setiap kali kau ingin menggunakannya!"
"PAHAM!" Bentak Broto dengan tegas.
Putranya kini tak lagi kecil, bahkan di usianya yang menginjak 25 tahun Broto selalu mendidiknya seperti anak kecil. Tapi King sadar, ayahnya hanya ingin mencurahkan kasih sayangnya saja tanpa ada embel-embel apapun dibenaknya.
"Baiklah pa, King janji tidak akan pernah menggunakan uang papa untuk hal itu lagi" sahut King Faz .
Bersambung ❤️
...****************...
__ADS_1
...Mampir ke sini juga yuk sayang ❤️...