
"Hei ..." sapa Pillow dari balik pundaknya.
"Astaga setan ..." Jack terkejut bukan main.
Bahkan seluruh kopi panas miliknya tumpah ke arah baju Pillow tepat didadanya.
"Sialan, panas Jack ..." teriak Pillow sambil mengibaskan kaos tipis miliknya berulang kali dan di tiup secara terus menerus.
"Lagian kenapa muncul begitu sih?" tanya Jack kesal.
Ia pun membantu Pillow untuk mengeringkan baju yang terkena noda kopi. Dengan cepat mengusapnya dengan beberapa lembar tisu, agar dada Pillow tidak sampai melepuh.
"Sudah sudah, biarkan." imbuh Pillow mengambil alih tisu ditangan Jack.
"Ada apa denganmu Jack?"
"Apa kau menyukai gadis itu!" tanya Pillow berulang kali terhadap Jack.
Jack kemudian terduduk lemas saat temanya itu mempertanyakan segalanya.
"Entahlah..." ucapnya lemas.
"Bugh ..." sebuah pukulan tangan yang tak begitu menyakitkan tapi cukup menyadarkan Jack dari lamunannya saat itu.
"Aku mengenal dirimu bukan seperti ini, jangan menjadi lemah hanya karena perasaan Jack. Kau bisa hancur akibat perasaan itu." terangnya sambil menepuk serta mengeratkan tangannya di atas pundak Jack.
Sejenak Jack tengah meresapi segala hal tentang semua ucapan Pillow disana.
*
*
*
"Hah, datang juga dirimu sayang."
"Kemari dan duduklah disini," pinta Neli.
Alona pun menuruti segala perintahnya dengan patuh.
"Ambil ini, pergilah ke mall dengan siapapun kau mau. Dia mengirimkan uang ini untuk dirimu melalui aku, belilah sebuah gaun karena kau akan dinner denganya." tutur Neli.
Ia pun memberikan segepok uang bewarna merah pada Alona saat itu, tak main-main bahkan Alberto mengirimkan 10 juta besarnya hanya untuk harga sebuah gaun.
"Mam, ini terlalu banyak. Lagi pula siapa yang mengirimkan uang ini padaku?" tanya Alona .
"Alberto sayang." jelas Neli sumringah.
Betapa tidak, sejak kedatangan Alona dirumahnya. Neli seolah mendapatkan durian runtuh tak terhingga dari Alberto, laki-laki yang sangat menggilai Alona itu mampu mengeluarkan uang berapapun untuk Neli.
"Sudah, ambilah. Itu untukmu semua." terang Neli kembali.
"Pasti dia telah memperolehnya juga dari tubuh Al." gumam Alona sambil memperhatikan gesture tubuh Neli.
Alona kemudian kembali dan tengah berfikir akan ia apakan uang sebanyak itu.
"Sayang sekali jika ini semua hanya untuk satu baju yang akan ku pakai satu malam." imbuhnya dengan termenung.
Ia pun tengah melihat Mino beserta Ijah diruang dapur tengah menikmati sarapan paginya.
__ADS_1
"Paman, bibi ..." sapa Alona dari dekat.
"Eh, neng Alona ." sahut Ijah dan Mino dengan bersamaan.
"Et daaah, pagi-pagi udah bawa yang seger-seger aja neng ini mah." tutur Mino sambil menatap uang segepok miliknya.
Reflek Ijah pun menarik topi Mino dengan cepat agar terhenti membayangkan hal yang tidak-tidak.
"Aku ingin berikan ini pada kalian."
"Ambilah." terang Alona sambil mengulurkan uang lembaran merah tersebut ke meja.
Uang itu telah ia susun, masing-masing satu juta nominalnya. Dan setiap orang akan mendapatkan bagianya disana.
"Tuh kan ... apa aku bilang, rejeki nggak bakal kemana. Terimakasih neng." jelasnya dengan begitu bahagia.
"Tapi, apa uang itu sebaiknya tidak mbak kirimkan saja untuk orang tua dikampung mungkin. Atau saudara yang lainnya mbak." jelas Ijah keheranan.
Tanpa berpikir panjang, Alona pun menjawab pertanyaan Ijah dengan hati yang gemetar.
"Kalian juga saudara saya juga bukan, kebetulan ibu dan ayah saya sudah meninggal bi." tutur Alona dengan nada lemah.
"Ah kamu si bi, pagi-pagi udah bikin neng ini sedih aja." imbuh Mino menyalahkan Ijah.
"Maafkan saya ya mbak..." pinta Ijah dengan setulus hati.
"Ah, tidak apa bi."
"Semoga uang itu dapat berguna buat bi Ijah dan paman yah." jelasnya dengan lembut.
Keduanya seketika mengangguk secara bersamaan.
"Mas," ucap Alona .
"Astaghfirullah ..." teriak Pillow terkaget.
"Eh mbak Alona, maaf saya terkejut tadi." jelasnya dengan melepaskan headset miliknya.
"Ambilah, dan aku titip ini juga untuk Jack." pinta Alona sambil menyodorkan dua bendel uang masing-masing satu juta.
"Uang apa ini mba?" tanya Pillow heran.
"Uang kaget mas." timpal Alona dengan senyuman manis.
Alona kemudian meninggalkan Pillow yang masih saja bingung dengan lembaran uang ditangannya.
Kini ia beralih untuk menghampiri teman satu rumahnya. Kau disana terlihat Jean tengah berkumpul dengan Sarah dan Yola.
"Hai ..." sapa Alona dengan mengembangkan senyuman.
"Yah." sahut Sarah ketus.
"Hm." sahut Yola malas.
"Duduk, dan bergabunglah dengan kami disini Alona." pinta Jean dengan baik.
"Terimakasih Jean, tapi aku tidak bisa berlama-lama. Aku hanya ingin membagi ingin dengan kalian semua." jelas Alona yang memberikan beberapa lembar uang pada Jean.
"Uang?" tanya Jean.
__ADS_1
"Iya, ambilah untuk kalian bertiga. Mungkin bisa kalian gunakan untuk membeli makanan yang kalian suka." terang Alona ramah.
Mendengar kata uang, Sarah dan Yola yang tadinya sangat tidak berantusias sama sekali kini berbalik arah untuk menyambut baik Alona.
"Waaaah, bisa saja dia ini."
"Nyogok kita yah!" terang Sarah gamblang dan memprovokasi Yola.
"Tapi nggak papa lah, sedap juga kan kalau nyogoknya dengan uang. Iya kan Yol ..." imbuh Sarah kemudian.
"Ho'oh." sahut Yola datar .
Melihat kedua tingkah temannya, Jean begitu malu dan sesekali terlihat menutup wajahnya dihadapan Alona.
"Kalau begitu, aku permisi dulu semua." terang Alona .
"Yah, bye ..." seru Yola dan Sarah bersamaan.
Setelah Alona menaiki anak tangga, keduanya lalu menghimpit tubuh Jean dengan segera.
"Ih, ada apa dengan kalian?"
"Menjijikan!" Sarkas Jean.
"Ayo cepat bagi uang itu dengan kami Jean!" ucap Sarah dengan pandangan matre.
"Iyah, ayo Jean!" sahut Yola .
"Dasar tak tahu diri, kalian kan tak menyukai gadis itu. Kenapa sekarang berbalik seperti ini?" tanya Jean kesal sambil menghitung lembaran uang ditangannya.
"Kami suka dengan uang ini, dan kami tak peduli dengannya." jelas Sarah ketus.
"MUKA TEMBOK!" ujar Yola kasar.
"Mari kita berteman dengannya, dia kan sudah baik dengan kita." jelas Yola .
Mendapati keduanya bertengkar, Jean meletakkan masing-masing lima lembar uang pecahan merah untuk mereka berdua diatas meja dan segera masuk kedalam kamarnya karena tak mau nimbrung terlalu lama dengan mereka yang random.
Sementara dirumah Neli, King yang baru saja selesai mandi diminta dirinya untuk mengantarkan Alona pergi hari itu juga. Dia sangat semangat saat mendengar nama Alona disebut oleh Neli.
"Hah?, kenapa harus dia mam." protes Jack.
"Kenapa sayang?, anggap saja ini pekerjaan pertama setelah ia bergabung disini." jelas Neli kemudian.
"Tapi ..." kelit Jack.
"Jack ... apa kau mau membantahku?" seru Neli dengan tatapan tegas.
"Yah mam." sahut Jack malas.
Kini dirinya pun beralih menghampiri King di garasi mobil, ia dengan cepat mengetuk kaca mobil yang akan King kendarai dengan Alona.
"Jaga dia baik-baik dan jaga matamu itu!" seru Jack dengan garang.
Bersambung ❤️
...----------------...
...Mampir kesini juga yuk ❤️...
__ADS_1