
Dari kejauhan Alona terlihat memeluk lebih erat tubuh bayi kecilnya itu dengan pandangan mata waspada.
*
*
*
"Kemarilah Alona, duduk di sebelahku." pinta Natasya lembut dan ramah.
Tapi tidak bagi Alona, yang sudah sangat tahu kemana alur pemikiran mereka semua saat ini.
"Aku berdiri saja disini."
"Baiklah, tidak masalah. Aku akan menghampirimu kesana." terang Nat dengan santai, ia pun berjalan penuh dengan semangat mengarah pada keduanya.
Alona semakin berjaga dan hampir menutupi wajah bayi kecil itu dengan satu sisi tangannya.
"Aku tau kau sangat menyayanginya, terimakasih."
"Tapi, aku juga sangat ingin menggendongnya bukan?" bujuk Nat perlahan .
"Berikan bayi itu hanya untuk digendongnya!" tegas Neli yang meminta tanpa basa-basi.
Suka tidak suka, Alona kemudian menyerahkannya pada pelukan Nat dengan setengah hati.
Masih dengan mata yang terpejam, bayi itu tertidur pulas setelah mendapatkan asi sepuas hatinya.
"Ah,"
"Hai sayang, jagoan mama ..."
"Lihatlah dia begitu lucu ..."
Mendengar Nat menyebut dirinya sebagai mama, seketika memancing amarah Alona yang tiba-tiba memuncak. Dengan cepat, ia meraih tubuh bayi laki-laki itu dari gendongan Nat dengan kasar .
__ADS_1
"Astaga!"
"Apa kau tidak bisa perlahan!" sentak Nat terkejut dengan pandangan kemarahan.
Ia begitu tak terima kala Alona tak bisa mengontrol emosinya.
"Nah, sekarang kau sadar bukan?"
"Kalian kemari hanya untuk anak ini, aku muak dengan sandiwara ini."
"Jangan pernah bermimpi dan berharap lebih jauh lagi."
Alona membawa pergi bayinya dari sana dengan cepat naik kedalam kamar.
"Jack Jack ..."
"Hentikan dia !"
"Kenapa dia tidak bersikap sopan santun sama sekali ..." cerca Neli dengan geram sambil membentangkan kipas miliknya.
Wajahnya nampak memerah karena menyimpan tangisnya dibalik hati yang begitu penuh dengan kekesalan.
"Sudah, biarkan saja dia membawa pergi bayinya." tutur Jacob dengan santai yang masih juga duduk di sofa .
Tak kalah terkejutnya, Nat memandang wajah Jacob penuh dengan tanda tanya. Kenapa suaminya itu seakan membela Alona dari pada dirinya saat ini.
"Ingatlah apa tujuan kita datang kesini sayang..." sahut Jacob dengan mengusap lembut jemari Nat.
"Baiklah, kami rasa anda sudah tau bukan jika kedatangan kami kemari untuk melakukan tes DNA. Dan itu sudah kami minta didalam surat perjanjian ini jika bayi itu terlahir nantinya, dan jika benar bayi itu juga memiliki kesamaan DNA maka wanita itu tidak dapat menggugat hak nya sedikitpun atas bayi itu. Karena dia telah menandatangani kontrak ini dengan sadar. "
Beberapa saat Neli hanya terperangah ketika Jacob kembali mengingatkan hal itu padanya dan Jack.
"Ayolah, kalian santai saja, bisa kalian lakukan apapun sesukanya untuk membuktikan jika bayi itu milik kalian. Aku takkan pernah menghalanginya sedikitpun, aku bahkan akan mempermudah segalanya." jelas Neli dengan iming-iming janji manisnya.
*
__ADS_1
*
*
Setelah saling menyetujui, keduanya pun berpamitan dan telah sepakat jika esok hari akan melakukan tes DNA itu disalah satu rumah sakit terdekat.
"Baiklah, sangat senang bisa berjumpa denganmu hari ini." imbuh Neli ramah pada keduanya untuk berpisah.
"Kau dengar itu Jack , maka aku minta dirimu untuk pastikan wanita itu tidak lebih gila dari hari ini."
Neli menugaskan Jack untuk membujuk kembali Alona dengan segera.
*
*
*
Setelah tiba didalam kamar, dari balik pintu ia dapat mendengar dengan jelas bahwa Alona tengah menangis terisak-isak disana. Itu membuat Jack semakin merasa bersalah dalam situasi ini.
"Berhenti disana, ada apa ku kemari lagi Jack!" sambut Alona dengan nada tinggi tanpa menatap dirinya sama sekali.
"Aku hanya ingin membantumu menggendongnya sebentar, beristirahatlah." bujuk Jack dengan perlahan.
"Kau memang tak ada bedanya dengan mereka, bahkan kau lebih menyeramkan bagiku."
"Dibalik sikap diam mu, kau hanya mengikuti apa kata mereka tanpa perduli akan diriku dan bayi ini."
Alona meluapkan segala emosinya dengan brutal pada Jack.
"Kau bukan suami yang baik Jack!"
Sentaknya sekali lagi dan itu membuat hati Jack semakin terluka.
Bersambung ❤️
__ADS_1