
"Aku tidak memintamu untuk membandingkan diri dengan siapapun Jack, jadi jangan bersikap seperti itu lagi."
Alona lantas meraih sebuah kaos putih tanpa lengan dan sangat tipis, ia juga mengenakan sebuah boxer mini bermotif bunga. Dan seperti biasa, ketika hendak tidur Alona sama sekali tak mengenakan satu helaipun pakaian dalam.
"Mandilah ..."
Ia meminta pada Jack untuk segera membersihkan dirinya, pemuda itu lantas berdiri dan berjalan tepat disamping Alona.
Pikiran Jack sudah jauh menerawang kala matanya menangkap benda yang tak pernah ia tatap sedakat itu, terlihat bulat dan menggantung dibalik kain setipis sutra.
Seketika ia lebih bergairah untuk segera mandi dan membayangkan betapa nikmatnya malam pertama yang akan mereka lalui. Jack yang telah membersihkan tubuhnya secepat kilat, kini tengah bersiul didepan cermin sambil terus menatap rambut dan memandangi wajahnya sesekali.
Tak lupa, ia pun menyemprotkan parfum andalannya ke seluruh anggota tubuhnya. Dan ketika ia telah membuka pintu kamar mandi dengan senangnya, dirinya malah mendapati keadaan kamar dalam kondisi gelap gulita.
Masih dengan tingkat kepedean yang tinggi, ia merasa bahwa istrinya sengaja menyetel semua itu agar terlihat semakin romantis. Jack lebih mendekat pada ranjang dan mulai meraba kaki Alona.
"Kenapa dia diam aja?" gumamnya ditengah kegelapan.
Jack lantas menaiki ranjang dan berusaha mencari posisi wajah Alona saat ini. Bukan sapaan manis yang ia dapat, pemuda itu malah mendapati Alona tengah tertidur pulas dengan suara dengkuran yang begitu halus.
"Astaga..."
"Malam pertama apa ini Jack!" gerutunya kesal dengan mengacak-acak rambut miliknya dan membenamkan tubuhnya dibalik selimut.
"Baiklah, cepat pejamkan matamu Jack. Esok masih akan ada hari yang sangat panjang." ujarnya dengan kesal.
__ADS_1
*
*
*
Pagi hari itu, tepat pukul empat subuh Alona yang tiba-tiba terbangun dari tidurnya sangat terkejut ketika mendapati tubuh Jack telah menimpanya. Apalagi tangan Jack yang seakan sengaja ia letakkan di atas dua gunung milik Alona.
"JACK!" teriaknya melengking dikamar.
Masih dengan mata mengerjap, Jack berusaha membuka matanya lebar-lebar.
"Ada apa?" tanyanya santai.
"Aku tak melakukan apapun." sahutnya santai, dengan wajah tanpa dosa.
Alona masih berpikir keras, jika suami kilatnya itu sudah memainkan tubuhnya sepanjang ia tertidur pulas semalam. Sontak saja ia meraba seluruh tubuhnya yang masih komplit mengenakan seluruh pakaian.
Jack memandangnya dengan heran sambil memeluk guling miliknya.
"Tak apa, tidurlah." ujar Alona yang kembali mereda akan kemarahannya.
Pemuda itu lantas menuruti segala ucapan Alona karena masih menahan rasa kantuk yang luar biasa disana.
Pagi itu, Alona tak kembali melanjutkan tidurnya bersama satu ranjang dengan Jack. Ia lebih memilih untuk duduk di kursi depan cermin rias. Masih dengan rasa bersalah yang begitu besar, Alona menatap Jack dari kejauhan dengan posisi kaki yang dilipat setara dengan dagunya.
__ADS_1
"Maafkan aku Jack, aku tak bisa memberikanmu arti sebuah pernikahan."
"Bahkan kau tak pernah tau, siapa nantinya anak yang aku kandung!" gumamnya sendiri didalam kamar.
Seketika wajah Alona tertunduk diatas lipatan kedua kakinya dan menangis lirih tanpa suara.
Kini mentari telah menyingsing tinggi, bahkan cahayanya menelisik masuk kedalam cela kamar Jack dengan sempurna.
Jack telah bangun lebih awal dibandingkan Alona .
"Lihatlah, dia lebih memilih untuk tidur diatas kursi dibandingkan bersama dengan suaminya sendiri."
Dengan wajah yang tulus , Jack lantas membopong tubuh Alona untuk ia pindahkan ke atas ranjang. Tak ada rasa marah dihati Jack, meskipun dirinya tak mendapatkan malam pertama yang begitu ia damba-dambakan. Bahkan dia masih terus bersikap manis pada Alona.
Didalam kamar imutnya itu, sudah sangat lengkap dengan adanya sebuah lemari pendingin bahkan juga dispenser air mini. Jack selalu menyetok seluruh makanan kesukaannya disana, dalam jangka satu bulan kedepan.
Seperti roti-rotian, bahkan juga snack dan juga susu sudah sangat tertata rapi didalam kulkas.
Dengan cekatan, ia pun membuatkan roti selai strawberry untuk Alona santap pagi itu dengan segelas susu putih dingin . Jack meletakkan semua itu tepat di meja kecil samping lampu, tak lupa ia pun menuliskan kata manis untuk sang istri.
Selamat pagi sayang, dengan mengukir sebuah simbol hati dalam sepucuk lembar kertas.
Ia yang tak memiliki waktu banyak lagi pagi itu, dengan cepat turun kebawah dan meninggalkan Alona sendiri tidur dikamar.
Bersambung ❤️
__ADS_1