
"Dia datang" seru Sarah kepada teman-temannya yang lain.
Beberapa dari mereka menatap Alona penuh dengan kebencian.
"Sedihnya aku, dia telah mengambil Jack dariku" ujar Sarah memulai dramanya kala itu.
Ia mencoba untuk mendapatkan simpati dari teman-temannya saat itu. Dan setelah itu, dirinya dapat menghasut mereka sesuka hatinya. Sedangkan diujung teras, Jean tampak tak memperdulikan apapun suara yang tengah hiruk pikuk didalam.
Alona berjalan dengan sesekali menatap wajah mereka semua dengan sendu. Dirinya hanya ingin diterima dengan baik disana, bukan diperlakukan seperti sekarang ini.
Ceklek
Dengan lemah tangannya mulai memutar ujung kunci, dan membukanya perlahan.
"Malam" sapa Alona kepada dirinya sendiri.
Satu tas koper mini miliknya, ia letakkan disudut ruang kamar yang gelap gulita.
"Tidurlah dengan nyaman malam ini Alona, dan bersiaplah untuk hari esok karena itu akan menjadi hari barumu dan menutup lembar lamamu" terangnya sambil menatap langit kamar yang remang dengan cahaya apa adanya.
Sementara Alona memutuskan untuk beristirahat lebih cepat, sangat berbeda dengan temanya yang lain dibawah. Mereka semua tengah asyik menggunjing dirinya disana.
"Kira-kira, siapa tamu pertama Alona esok hari ya" terka Yola sambil terbaring di atas sofa dan melipat kedua tangannya ke belakang kepalanya.
"Pasti lelaki itu akan beruntung sekali, mendapatkan sebuah mawar dalam semak belukar" imbuh Sarah ketus.
"Ck" decak Jean.
"Bilang saja kau sangat iri padanya" imbuhnya ketus.
"Hello, apa aku seburuk itu?. Hingga aku harus iri dengan gadis tersebut" tutur Sarah yang naik pitam seketika.
"Yah, aku sangat setuju dengan Jean kali ini. Kau takut kalah saing denganya bukan, Jack berpindah simpati saja kau sudah kepanasan tujuh turunan seperti itu" jelas Sarah mengejeknya .
"Sialan, kalian memang benar-benar bukan bestiku" timpal Sarah kesal.
Ia pun meletakkan gelas dari genggaman tangannya dengan kasar disebuah meja, dan memutuskan untuk segera beristirahat malam itu.
"St st" Pekik Yola pada Jean.
"Hmm" sahut Jean datar.
"Jean, kau begitu dekat dengan mami bukan. Kau pasti tahu siapa tamu pertama Alona esok" tanyanya penasaran.
"Entahlah, yang aku tahu lelaki itu telah berani membayar mahal gadis itu hanya untuk satu malam" terang Jean gamblang.
"Wow, fantastis" teriaknya terkejut.
"Jangan kampungan seperti itu, apa dirimu tak pernah mendapatkan tarif mahal selama ini?" timpal Jean .
__ADS_1
"Paling mahal hanya seharga satu liter beras Jean" sahut Yola dengan memelas.
"Hahaha"
"Baiklah, aku akan mendukung do'amu agar segera terwujud" seru Jean dengan tawa terbahak-bahak.
"Sudah kuduga ia akan mengaminkan hal itu, bukanya perihatin denganku kau malah mendo'akan hal buruk terjadi" sahut Yola kesal.
"Itu yang terucap dari mulutmu kan, apa salahnya jika aku mengiyakan do'a burukmu itu"
"Lihat jam berapa ini, jika kau mengucap hal buruk ataupun baik akan segera terwujud. Karena para malaikat akan mencatat segala ucapanmu dengan baik" terang Jean menggoda Yola.
Saat ini sudah hampir tengah malam, tapi Yola dan Jean masih saja asyik mendiskusikan hal yang tak seharusnya menjadi haknya .
"Amit-amit coy" pekik Yola dengan penyesalan mendalam dengan mengetuk-ngetuk kepalanya berulang kali.
Mendapati hal itu, Jean tertawa hingga terpingkal-pingkal.
*
*
*
Keesokan harinya, ketika pagi telah menyapa sang mentari.
"Triing triing" bunyi alarm milik Alona tepat disampingnya.
"Apa ini sudah waktunya" ujar Alona sambil terus menutup matanya.
Rasanya begitu enggan bagi dirinya, jika hari ini telah berubah menjadi pagi.
"Tok tok" ketukan pintu tepat didepan kamar Alona.
Ketukan pintu itu sontak membuat Alona membuka matanya lebar-lebar dan segera melompat dari tempat tidurnya untuk segera bangun.
"Yah" teriaknya sambil mencari-cari sandal miliknya didalam kamar itu.
"Mana dia, ih" imbuhnya kesal.
Wajahnya masuk kedalam kolong kamar saat itu, demi mendapatkan pasangan sandal miliknya. Setelah menemukannya, Alona cepat-cepat beralih ke pintu untuk membukanya saat itu.
"Hei, selamat pagi" sapa Jean dengan wajah manis.
"Ah, Jean"
"Maafkan aku, lama untuk membukakan dirimu pintu" tutur Alona dengan sesal.
"Jangan seperti itu, kau tak perlu segan denganku"
__ADS_1
"Posisi kita sama" imbuh Jean menjelaskan.
"Ngomong-ngomong, ada apa sepagi ini Jean?" tanya Alona kebingungan.
"Aku kesini untuk menjemputmu sayang, semalam mami telah menugaskan diriku untuk meriasmu hari ini" jelas Jean memberikan pengertian pada Alona yang polos.
"Tentu, aku akan bersiap. Tapi tolong beri aku waktu untuk membersihkan diriku dulu Jean?"
"Please" mohon Alona.
"Tentu, tentu"
"Kau tidak mungkin aku rias dengan keadaan seperti ini kan" timpal Jean.
"Cepat mandilah, dan segera temui aku dibawah" perintah Jean.
Alona mengiyakan perintah Jean dengan sekali anggukan, ia pun segera meraih sebuah handuk putih baru yang sudah disiapkan dikamar itu untuknya.
Lima belas menit kemudian, setelah Alona menyiapkan dirinya dengan mandi terlebih dahulu. Kini ia menghampiri Jean diruangan bawah untuk melanjutkan riasannya.
"Hai, kemarilah dan duduk disini" pinta Jean.
Alona menatap semua alat rias sebanyak itu dengan takjub.
"Siapa yang akan merias diriku Jean" tanyanya.
"Tentu diriku, hal ini sudah menjadi hal wajar bagiku ketika ada orang baru yang masuk kedalam sini" jelasnya.
Alona semakin dibuatnya takjub, ia tak mengira bahwa Jean yang begitu tomboy dimatanya dapat melakukan hal sefeminim itu.
Ketika Alona sudah mulai duduk, tangan terampil Jean kemudian membuka handuk yang membalut rambut Alona yang setengah basah untuk dikeringkan dengan hairdryer.
Setelah cukup kering, Jean pun beralih ke arah wajah Alona saat itu.
"Kau begini saja sudah cantik, jadi aku tidak akan perlu bersusah payah memolesmu bukan?" puji Jean.
"Ah, makasih Jean" timpal Alona malu dengan pipi kemerahan.
Jean menyapukan beberapa make up senatural mungkin di wajah cantik Alona, dan sedikit memberikan warna dibibir sexy Alona setipis mungkin. Ketika wajahnya telah selesai di make up, kali ini Jean beralih ke rambut panjang Alona kembali.
Rambut panjang itu, hanya dikepang kecil disetiap sudut rambut dan tepat ditengahnya Jean menyematkan sebuah sisir kecil berbentuk kupu-kupu untuk menambah aksen mewah untuk Alona.
"Sempurna" imbuh Jean dengan hati senang.
Ketika Jean telah menghindar dari balik Alona, tepat di balik punggung Jean saat itu tengah berdiri seorang laki-laki.
Ia adalah Jack, dan dalam waktu bersamaan ketika Alona tengah menatap cermin yang cukup besar dihadapannya. Bayang wajah Jack terpantul sempurna didalam cermin tersebut.
Alona yang terkejut mendapati hal itu, lantas menundukkan kepalanya seketika. Ia merasa sangat malu, jika harus ditatap seorang laki-laki dengan riasan wajah yang sama sekali tak pernah ia lakukan sepanjang hidupnya.
__ADS_1
Bersambung ♥️