
Setelah mendengar kemarahan sang papa, King Faz tengah berpikir untuk mencari sebuah pekerjaan bagi dirinya.
"Tapi, apakah papa akan mengijinkan diriku bekerja?" gumam King didalam kamar.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
...Visualisasi King Faz...
"Tak apalah, aku akan melakukannya dibelakang papa!" serunya dengan mengangkat botol parfum dan menyemprotkannya seluruh tubuh.
Ketika dirinya tengah memakai kaos miliknya, sebuah panggilan masuk berdering berulang kali melalui ponselnya.
☎️"Yah Bre, ada apa kau menelponku." Sapanya.
☎️"Aku ada info penting yang kau inginkan sejak lama," timpal Breanad yang akrab dipanggil Bre oleh King.
☎️"Katakan!" seru King penasaran.
☎️"Cek saja, aku sudah mengirimkan info itu padamu!" pungkas Breanad.
Sembari menekan tombol untuk mengakhiri percakapannya, kini jemari King tengah bergulir ke sebuah pesan singkat Bre.
Disana tertera sebuah lowongan pekerjaan dengan gaji yang cukup menjanjikan bagi King. Dan kriteria pekerjaan yang menantanglah, yang sejak dulu ia inginkan.
"Wow, aku akan mencobanya!" seru gembira King yang sejak tadi membaca pesan singkat itu.
Kali ini, ia pun memilih sebuah kemeja miliknya untuk dirinya kenakan dan pergi ke alamat yang sudah tertera di sana.
King termasuk pemuda yang tak suka bermewah-mewah, bahkan ia lebih memilih mengendarai motor bututnya terlebih mengenakan deretan koleksi mobil sang ayah yang berharga fantastis.
Ia pun sama sekali tak tertarik di bidang teh, untuk meneruskan usaha sang ayah. King ingin menjadi dirinya sendiri tanpa harus ada embel-embel nama sang ayah.
Orang diluar selalu mengenalnya dengan pandangan sederhana, lain halnya dengan kawan-kawan King sepermainan. Mereka tahu, jika King adalah anak seorang pengusaha yang tak akan pernah habis hartanya hingga tujuh turunan.
Cukup lama King menjelajahi jalanan kota untuk mencari alamat tersebut, kini ia telah tiba didepan pagar rumah itu.
"Permisi pak, apakah benar disini tengah membutuhkan tenaga sebagai seorang bodyguard?" tanya King pada Pillow yang kebetulan berada di pos security.
Pillow mengamati penampilan King Faz hingga sekujur tubuhnya.
"Kau tahu dari mana," tanya Pillow padanya.
"Temanku mengirimkan ini padaku." ujar King sambil menyodorkan ponselnya dihadapan Pillow.
Setelah melihat pesan tersebut, Pillow baru yakin untuk membukakan King pagar.
"Masuklah, dan ikut denganku!" tegas Pillow.
Dengan menuntun kendaraan miliknya, King memarkirnya dihalaman rumah Neli.
"Bos, ada yang ingin melamar pekerjaan itu." jelas Pillow.
__ADS_1
"Suruh masuk!" perintah Neli.
"Katakan, apa sebelumnya kau sudah memiliki pengalaman di bidang ini?" tanyanya.
Seperti biasa, Neli yang hanya sibuk dirumah tengah memmoles kuku panjangnya disana. Tanpa melihat terlebih dahulu pada King, ia memberondong pertanyaan bertubi-tubi.
"Apa kau sudah berkeluarga?"
"Pekerjaan ini begitu beresiko," terangnya kembali.
"Maaf, perkenalkan namaku King Faz." ujar King memperkenalkan dirinya terlebih dahulu.
Suara King dominan serak basah dan berat, dan itu bisa menjadi daya tarik sendiri bagi penampilannya.
Neli mulai mengangkat kepalanya disana.
"Boleh juga,"
"Cakep, keren, wangi, tinggi, dadanya bidang, tinggi juga!" gumam Neli menilai King.
"Baiklah, aku terima kau untuk bekerja disini." terang Neli tanpa berlama-lama.
"Hah, semudah itukah aku diterima ?" gumam King yang masih keheranan.
Neli memanglah suka dengan lelaki berparas tampan, selain takkan mudah jenuh untuk dipandang. Dia juga berpendapat bahwa yang muda akan bekerja lebih keras dan tidak lelet.
"Kau sudah tau bukan, jika ini rumah bordil. Jadi aku tidak ingin ada protes apapun setelah kau terikat kerja disini." terang Neli yang melanjutkan untuk merapikan kukunya.
"Hah!" King terkejut.
"Kau masih muda, beruntunglah jika kau bekerja disini dengan gaji yang begitu di inginkan sejumlah orang diluar sana!" Ejek Neli.
Dirinya tak mengetahui, bahwa Kig adalah seorang anak orang kaya raya. Bahkan ia tak perlu kerja hanya untuk mendapatkan uang. Karena Broto pasti menjatah dirinya setiap bulannya, dan sudah dipastikan itu akan masuk sepenuhnya kedalam rekening miliknya.
Tapi karena King tak ingin menjadi beban bagi sang ayah, ia ingin menunjukkan bahwa dirinya juga bisa berdiri dengan kakinya sendiri.
"Baiklah aku menerimanya,"
"Dengarkan baik-baik, jangan pernah kau bocorkan tempat ini pada siapapun. Hanya orang tertentu saja yang tahu tempat ini, dan satu lagi kau tak boleh setiap hari pulang. Dirimu hanya diperbolehkan pulang dua kali dalam sebulan, tidak lebih."
"Deal?" tanya Neli sambil menerangkan segalanya pada King.
King menjabat tangan Neli dengan senyum lebar. Yang berarti ia menerima segala konsekwensinya dengan baik.
Hari itu, ia kemudian pulang untuk menyiapkan segala sesuatunya untuk ia bawa ke tempat Neli.
"Bruuuuk, criingg."
Tubuhnya tak sengaja menabrak seorang wanita didepan pintu, dan kunci motor miliknya terjatuh.
"Sorry," sahut King tanpa melihat dan tengah mengambil kunci miliknya.
"Tak apa." timpal Alona dengan wajah polosnya yang hendak menemui Neli.
__ADS_1
Ketika King bangkit, ia menyadari bahwa wanita yang baru saja dirinya tabrak adalah seorang kasir ditoko roti langganannya. Yah, ditoko roti cik Mei lah keduanya pertama kali bertemu.
"Kamu?" ucap King sambil menunjuk Alona.
"Yah," sahut Alona sambil menunjuk dirinya sendiri dengan heran.
Karena Alona sendiri merasa tak mengenalinya sama sekali.
"Kenapa disini, bukankah dirimu bekerja ditoko roti itu?" jelas King.
"Aku pindah kerja disini." jelas Alona sambil terburu-buru masuk kedalam rumah Neli.
King terus menatap wanita yang diam-diam ia kagumi sejak lama.
Flashback King Faz.
"Sore mas King ..." sapa Hesti dengan centil.
Ia menyambut King dengan gaya centilnya yang berlebihan. Selalu saja bertingkah aneh ketika melihat King.
"Sore." sapa balik King dengan senyum termanisnya.
Pada dasarnya King adalah seorang anak yang mudah sekali akrab dengan orang bahkan ramah. Tetapi Hesti selalu salah tangkap dengan respon baik King.
"Mau cari apa hari ini?"
"Kau sangat menyukai roti ya." tanya Hesti basa-basi.
"Yah, aku sangat menyukainya." terang King sambil mengangkat salah satu roti.
Kedatangan dirinya kala itu, tengah mencari keberadaan Alona. Karena sudah beberapa kali ia mengunjungi toko itu, tak pernah melihat lagi Alona disana.
"Kau hanya sendirian disini sekarang," tanya King sambil melihat-lihat.
"Yah, aku sendiri." jawab antusias Hesti.
"Oh." timpal King datar.
"Tolong berikan padaku, akan aku hitungkan seluruh pesanan mu dengan cepat." pinta Hesti.
Saat keranjang roti King telah berpindah tangan, bukanya Hesti menghitungnya dengan cepat ia malah asyik berlama-lama mencari alasan bahwa mesin kasirnya tengah eror.
"Tunggulah sebentar, mesin ini sudah usang jadi aku harus extra sabar menghadapinya."
"Tentu."
" Apa kau sudah memiliki kekasih?" tanya Hesti tanpa basa-basi.
King merasa terkejut atas keagresifan Hesti disana, ia merasa sangat risih dan menutupinya dengan sebuah senyuman saja.
Bersambung ❤️
...****************...
__ADS_1
...Mampir kesini juga yah sayang ❤️...