Kidung Cinta Alona

Kidung Cinta Alona
Bab 27


__ADS_3

"Tuan, tolong maafkan aku atas ketidaknyamanan hari ini." ujar Alona sambil menundukkan kepalanya dihadapan Alberto saat sudah berada dalam mobil.


"Itu hanya hal kecil." tegas Alberto santai.


"Aku berjanji akan mengganti seluruh uangmu!" sahut Alona kembali.


Alberto kembali menatap wajah Alona dengan pandangan mengagumi. Jika kebanyakan wanita begitu senang jika dibanjiri uang ataupun seluruh hartanya sangat berbeda jauh sekali dengan gadis yang baru ia temui ini.


"Baiklah, aku menunggunya." timpal Alberto mengiyakan permintaan Alona.


Ia tidak ingin membuat gadis spesialnya malam ini kecewa atas sikap yang telah ia ambil.


"Terimakasih tuan, terimakasih." seru Alona kembali.


*


*


*


"Silahkan tuan!" seru seorang sopir pribadi Alberto sambil membukakan pintu untuknya.


"Baiklah." sahutnya.


Sopir tersebut kemudian beralih kesamping pintu lainnya untuk membukakan Alona. Tampak Alona begitu canggung dengan semua sikap mereka disana.


Dia tak pernah diperlakukan seramah itu.


"Mari masuk denganku." pinta Alberto dengan memberikan isyarat pada Alona untuk menggandeng tangannya.


Tapi gadis polos itu malah tetap asyik berjalan dibelakang punggung Alberto saat itu.


Lelaki itu tertawa kecil ketika melihat tingkah lugu Alona yang sangat ia sukai.


"Ah, tuan ..." sambut Neli.


"Kenapa tuan harus repot mengantarnya kembali kesini. Semua anak sudah bersiap akan menjemputnya tadi." oceh Neli sambil mempersilahkan duduk Alberto.


"Tidak, tidak apa-apa." tegasnya.


Tanpa perlu diminta, Andreas yang juga baru saja tiba disana menghampiri tempat duduk Alberto dengan memberikan selembar cek yang sudah dibubuhkan tanda Alberto.


"Ambilah." ujarnya.


"Tuan, ini lebih dari harga yang telah kita sepakati !" ujar Neli dengan mata yang berbinar-binar.


Bagaimana tidak, nominal itu tertulis tiga kali lipat dari harga yang semestinya. Jiwa materialistis Neli pun bergejolak tajam ketika melihat semua itu.


"Aku sangat menyukainya!" ujar Alberto santai.


Neli dengan segera menarik tangan Alona dan memberikan pujian melangit untuk gadis itu dihadapan Alberto.


"Dia memang yang terbaik diantara para gadis disini tuan." jelas Neli.


Alona menutupi segala kekecewaannya pada Neli, dengan sebuah senyuman manis. Hingga tak seorang pun yang tahu, bahwa hatinya tengah terluka.


"Baiklah, aku akan pergi. Terimakasih untuk hari ini ." terang Alberto yang kemudian meninggalkan rumah Neli.


"Yah tuan, seringlah kemari. Dengan senang hati aku akan menunggu dirimu!" tuturnya sembari berteriak mengiringi kepergiannya.


"Astaga,astaga ..."

__ADS_1


"Kau memang yang terbaik sayang, sekarang kembali ke kamarmu dan bersihkan dirimu lagi lalu beristirahatlah!" pinta Neli sembari memberikan ciuman kepuasan atas kinerja Alona hari itu.


Seperti hal nya sebuah boneka hidup, Alona hanya di eluhkan ketika ia dimainkan sebaik mungkin. Tapi dia akan dicaci maki ketika permainannya terlihat buruk.


"Bruukkk."


Tubuh Alona bertabrakan dengan King Faz yang baru saja tiba dirumah Neli malam itu.


"Kamu?"


"Kamu!" suaranya saling bersahutan.


"Cantik sekali dia malam ini Tuhan!" gumam King dengan menatap Alona tanpa berkedip.


"Kemarilah, cepat." tarik Jack sembari menatap sinis wajah King.


"Akh!" pekik Alona sambil memegangi pergelangan tangannya yang begitu kuat ditarik oleh Jack.


Saat itu Jack membawa pergi sejauh mungkin Alona dari hadapan King.


"Ada apa ini Jack, sakit sekali." protesnya.


"Maaf, maafkan aku."


"Aku hanya ingin menjauhkan dirimu darinya!" jelas Jack setengah mengomel.


"Darinya?"


"Dia!" tanya Alona kebingungan.


"Aku sama sekali tak mengenalnya Jack!" protes keras Alona sambil terus memijat tangannya yang terasa ngilu.


"Yah, tapi tatapan matanya sangat membuatku tak nyaman." imbuh Jack kembali .


Ia semakin tak paham kemana arah pembicaraan Jack kala itu, dia terburu-buru untuk segera pergi ke dalam kamar.


"Tunggu!"


"Apa ini, cincin siapa?" tanya Jack curiga.


Belakangan ini, Jack terlalu posesif kepada Alona.


"Tamu itu memberikannya padaku tadi." ucap Alona.


"Dia?"


"Alberto maksudmu?" terang Jack dengan detail.


"Yah!" sahut Alona malas.


Sepengetahuan Jack, Alberto tak pernah bersikap manis seperti ini biasanya. Dia juga sering kali memakai jasa Jean dan Sarah, tapi ia tak pernah mendapati hal yang didapati oleh Alona.


"Kenapa kau menerimanya!" sentak Jack digelapnya malam.


Alona terkejut dan kebingungan melihat Jack mengeluarkan nada tinggi padanya.


"Harusnya kau tak pernah menerima ini Alona. Kemarikan jarimu, akan aku keluarkan cincin itu dari sana!" terang Jack.


Ia menarik jari manis Alona dengan kasar, dan memaksa jari itu dengan kekuatannya untuk melepaskan sebuah cincin yang melingkar disana.


"Jack!"

__ADS_1


"Sakit, hentikan Jack!" teriak Alona.


Dirinya mencoba menarik tangannya dari cengkeraman tangan Jack, tapi usahanya itu harus sia-sia ketika Jack sama sekali tak bergeming.


Cincin itu akhirnya terlepas ketika Jack dengan paksa melepaskan sekuat tenaga.


"Apa kau puas?" tanya Alona dengan terisak.


Bahkan jemari bekas cincin itu terlihat sangat merah akibat luka lecet dari benda kecil berkilau tadi.


"Jangan pernah semurah ini lagi Alona!" sentak Jack dengan tegas, dan menunjukkan cincin itu dihadapan Alona.


"PLAAAKKK!" sebuah tamparan yang begitu keras dan tak pernah Alona lakukan sebelumnya pada siapapun.


Kedua rahangnya saling bertaut dan sorot mata yang sendu dan sedih tadi menjadi binar kebencian malam itu. Dengan hati yang berantakan, Alona mencoba memungut serpihan semangat yang masih ia miliki disana.


"Aku sudah menjadi wanita murahan Jack!"


"Harusnya kau sadar itu!"


"Dan jika kau sudah paham, jangan pernah lagi kau pertanyakan status murahanku pada diriku lagi." terang Alona dengan hati yang hancur.


Seketika ia berbalik dan meninggalkan Jack disana dengan isakan tangis yang tak lagi terbendung ditempatnya. Alona mencoba kuat sebelum sesaat ia memasuki pintu rumah itu.


Dengan cepat ia mengusap seluruh air matanya menggunakan kedua tangannya dengan kasar. Ia tak ingin jika temannya yang lain tahu, tentang kesedihannya hari ini.


"Hai, kau sudah pulang?" tanya Jean sembari mengangkat sebuah cangkir kopi.


Alona hanya menyimpulkan sebuah senyuman pada Jean tanpa memberi jawaban.


"Ada apa lagi dengannya?, apa Alberto bersikap kasar?" gumam Jean tengah berpikir.


"Kau selalu mengistimewakan dirinya Jean!" protes Sarah yang tengah memoles kuku-kuku miliknya dengan begitu telaten.


Tapi, sebelum Jean kembali duduk di sofa, ia mendapati Jack yang baru saja lewat depan rumah dengan wajah sendu.


"Hm, kau rupanya Jack!" ucap Jean lirih.


"Mana Jack?"


"Di mana?"


"Apa dia mencariku!" terang Sarah kegirangan ketika mendengar nama Jack disebut.


Spontan ia lalu, berdiri sambil membenarkan baju sexy miliknya yang sedikit menerawang.


"Sejak kapan Jack ingin bersamamu!" tegas Jean mengejek Sarah.


"Hahahaha." sahut Yola tertawa sekencang mungkin.


"Kena mental, kena mental ..." imbuh Yola kegirangan.


"SIAL!" ujar Sarah sambil melirik ke arah Yola dengan tatapan menyebalkan.


Dan beberapa teman yang lainnya hanya sibuk tertawa dibalik tangannya sendiri-sendiri. Tanpa berani bersuara lebih kencang disana.


Bersambung ❤️


...****************...


...Mampir yuk kesini ❤️...

__ADS_1



__ADS_2