
"Mamaa ..." rengek Amira sambil mengangkat dua kakinya bergantian.
"Pelit ih, aku udah janjian nih ma. Masak iya, aku nggak gantiin uang temen aku." jelasnya dengan tatap mata memohon.
"Selalu itu saja alasanmu!"
"Aku tidak ingin harkat dan martabat ku rendah dihadapan semua orang, terlebih putriku." jelas Tiwi dengan membusungkan dadanya.
Harga diri di atas segalanya bagi Tiwi, dan tak akan ada seorangpun yang boleh mempermainkan keluarganya.
"Ambil dan pergilah ..." usirnya pada sang anak.
*
*
*
"Selamat datang dirumah Neli pemuda tampan, bagaimana malammu disini?" sapa Neli di pagi hari pada King.
"Cukup baik." imbuh King dengan gugup.
"Apa kau tidur dengan Pillow?" tanya Neli .
"Tidak, aku tidur di depan garasi itu." tunjuk King sambil mengarah ke garasi sebelah.
"Hah!" Neli terkejut .
"Siapa yang menyuruhmu untuk tidur disana, katakan." pinta Neli dengan penasaran.
"Waktu itu kalau tidak salah, namanya adalah Jack." tuturnya polos.
"Jack..."
"Tidak mungkin, kesayangan ku itu berulah seperti itu padamu." ujarnya heran.
Ditengah pembicaraan keduanya, Jack saat itu baru saja terbangun dari tidurnya.
"Jack ..." panggil Neli dengan gemas.
"Kemarilah sayang." pinta Neli sekali lagi.
Jack berjalan menghampiri keduanya dengan santai.
"Iya mam?" sahut Jack acuh.
"Apa kau menyuruh pemuda ini untuk tidur didepan garasi mobil?" ucapnya dengan berhati-hati.
"Dia?" tunjuk Jack.
"Yah, dia adalah karyawan baru mami." imbuh Neli memberikan keterangan pada Jack.
"Oh, maafkan aku mam. Aku beranggapan kemarin ia hanya berpura-pura mengatakan hal itu padaku." terangnya.
"Bukankah mami sendiri yang mengajari diriku, untuk berhati-hati dengan semua orang asing disini?" ujar Jack berkelit.
Ketika Neli hendak marah, Jack selalu punya seribu alasan untuk menghindari amukan wanita itu.
"Hm, kau memang terbaik sayang. Selalu patuh dengan semua ucapanku."
King hanya menatap keduanya dengan heran, betapa tidak Jack begitu memiliki tempat istimewa dirumah ini. Dari pada yang lainnya, yang tidur diluar rumah megah itu.
"Baiklah king, kau sudah paham bukan jika Jack ku tidak berniat seperti itu padamu?" ucap Neli dengan melipat kedua tangannya.
__ADS_1
"Yah, itu tak akan menjadi sebuah masalah bagiku." terang King santai.
"Kalau begitu ikutlah dengan Jack , ia akan menunjukkan kamar untukmu sayang." perintah Neli dengan lembut.
Jack pun mengajak King untuk mengunjungi kamar miliknya untuk meletakkan seluruh barang bawaannya disana.
"Cepat ambil tas mu dan ikutlah denganku." ajak Jack cuek.
"Baiklah tunggu sebentar." imbuh King yang tengah berlari untuk mengambil tas miliknya.
Setelah cukup lama berjalan, kini keduanya tiba di kamar paling ujung setelah kamar Pillow. Itu dulunya adalah kamar Jack sebelum ia diputuskan untuk tidur didalam rumah Neli.
"Kamarmu, ambil kuncinya." terang Jack sangat cuek.
"Tunggu, mas eh Jack atau om?" sahut King dengan gugup untuk menentukan sebuah panggilan pada Jack .
"Jack ..." sahut Jack kesal.
"Baiklah, aku akan mengingatnya Jack." tutur King dengan senyuman.
Keduanya kini telah berpisah, dan King memutuskan untuk menata segala perlengkapannya disana dengan rapi sesuai tempatnya.
"Ayolah King, ini tidak cukup buruk untuk gaji segitu!" ujarnya.
Flashback King Faz malam kemarin.
"Ngiing ngiing ngiing." suara nyamuk begitu banyak telah mengelilingi tubuhnya diluar.
"Bukan seperti ini juga bayanganku tentang pekerjaan ini." ujarnya di keheningan malam.
Saat itu memang Jack dengan sengaja memberikan pelajaran pada King karena telah berani menatap Alona begitu lekat dihari pertama.
*
*
*
"Pemuda?" sahut Sarah .
"Tampan!" lanjutnya.
"Katakan padaku, dimana dia." terangnya kembali dengan binar mata kehausan akan belai kasih sayang.
"Dia adalah pegawai baru rumah ini, tugasnya hampir sama dengan Jack dan Pillow." jelas Jean santai.
"Ck," Sarah berdecak.
"Sih paling tahu berita!" ejek Sarah dengan melengos.
"Bodoh!" sahut Yola kasar.
"Dia memang sedekat itu dengan mami, bahkan mungkin seberapa banyak mami menghembuskan nafaspun dia akan mengetahuinya." cela Yola .
Jean tersenyum sinis melihat kesyirikan keduanya saat itu. Dan kali ini Alona baru saja turun dari kamar untuk mengambil sebuah keperluan pada Neli.
"Nah, nah ..."
"Ini selanjutnya anak kesayangan mami dan Jean," imbuh Sarah dengan jutek.
Seluruh teman disana pun memandang wajah Alona yang begitu segar dengan rambut basahnya. Alona tetap saja menyunggingkan sebuah senyuman walaupun tak disambut ramah.
"Pagi Jean!" sapa Alona.
__ADS_1
Hanya Jean satu satunya orang yang disapanya pagi itu .
"Hallo sayang." sahut Jean manis.
Alona lantas berlalu dari sana dan menuju rumah Neli.
"Setelah mendapat berlian, pasti dia akan mendapatkan mobil dan rumah selanjutnya." cecar Sarah sinis.
"Do'amu begitu bagus." sahut Jean santai.
"Menyebalkan, bisa tidak kau bersikap manis padaku Jean!" protes Sarah keras.
"Aku sudah semanis madu padamu sayang ..." goda Jean dengan wajah mengesalkan.
Di tengah jalan, Alona yang berjalan tepat didepan garasi bertabrakan kembali dengan King Faz.
"Bruukkk." tabrakan itu terjadi begitu saja.
"Ah, kau lagi?" sapa King dengan senyum sumringah.
Ia pun bangkit seketika, dan menatap Alona begitu senangnya.
"Kau?, disini ." tanya Alona sambil membersihkan lututnya yang tertempel debu.
"Tentu, aku bekerja disini juga. Sama seperti dirimu bukan?" jelasnya sambil memandang wajah Alona yang begitu berseri-seri ketika terkena cahaya matahari.
Alona tersenyum ketika mendengar perkataan King.
"Namaku King Faz, kau boleh memanggilku apa saja terserah." ucap King memperkenalkan dirinya.
"King?" ucap Alona menirukan perlahan-lahan.
"Yah, benar sekali." timpal King.
"Aku Alona, kau bisa memanggilku dengan nama itu." pinta Alona.
"Baiklah, kali ini kita berteman baik!" sambut King dengan menarik jari kelingking Alona disana.
Dan sikap itu mendapat respon positif dari Alona, ia sontak terkejut dengan tingkah konyol King .
"Teman?"
"Hahaha baiklah." imbuh Alona.
"Maafkan aku selalu menabrak dirimu, karena kedua mataku selalu aneh jika memandang wanita cantik seperti dirimu." ujar King memberikan gombalan.
Pagi itu, Alona dapat tertawa kembali dengan riang. Dia menyambut tingkah konyol King dengan bahagia, baginya itu adalah sebagian hiburan selama berada disana.
"Kau sangat konyol King ..." sahut Alona.
"Apa lucu?, aku sama sekali tidak bisa mendengarnya dengan baik." timpal King kemudian.
"Sudahlah, perutku sudah kaku karena melihat tingkah konyolmu." jelas Alona yang berlalu dengan tawa di bibirnya.
King merasa puas, akhirnya ia dapat mengukir senyuman diwajah gadis yang ia idolakan selama ini. Bahkan dapat bercengkrama lebih dekat dengan Alona.
Sayang, momen itu harus disaksikan oleh Jack yang masih menahan pedih akan sikap kasarnya waktu itu pada Alona.
"Sialan, lagi-lagi dia berani mendekati Alona." gumam Jack sambil menyeruput kopi panas ditangannya.
Bersambung ❤️
...****************...
__ADS_1
...Mampir juga kesini yuk ❤️...