Kidung Cinta Alona

Kidung Cinta Alona
Bab 16


__ADS_3

"Akh" pekik Alona lirih kesakitan.


"Wajah polosmu sangat menipuku" tuduhnya.


"Tapi, aku sama sekali tak sengaja melakukan itu tuan" terang Alona sembari terus memegangi pipinya yang terasa sangat panas.


"Sudahlah, aku tak mau lagi melanjutkan permainan ini. Pergi dari sini, aku akan segera menemui Neli" jelasnya sambil menyambar kemeja miliknya diatas kursi.


Dengan raut wajah menegang, Alona tiba-tiba dibuat ketakutan oleh ancaman pria tersebut.


"Tolong tuan, aku mohon. Jangan laporkan apapun pada mami"


"Ini adalah hal pertamaku denganmu sepanjang hidupku, aku mohon" ujar Alona yang seketika bersimpuh dikaki pria yang sama sekali tak dikenalnya.


"Aku disini, untuk membayar hutangku padanya tuan. Diriku disini karena terpaksa harus melunasi hutang yang tak pernah aku sengaja sebelumnya" jelasnya dengan Isak tangis.


Alona terus bersimpuh disana sambil terus memegangi kedua betis pria tersebut.


"Oke"


"Aku maafkan untuk kali ini, tapi jika nanti aku memakai jasamu lagi layani aku semaksimal mungkin" ucapnya.


"Baik tuan, terimakasih. Aku takkan pernah melupakan jasamu untuk kali ini" imbuh Alona.


Hari ini dia dapat bernafas lega, karena tamu pertamanya sangat mengerti kondisinya dengan baik.


Ceklek


Pria tersebut mengunci pintu kamar dan segera keluar dengan wajah datar tanpa ekspresi. Sementara Jack yang sedari tadi mengkhawatirkan Alona tengah berdiri dan menatap pintu kamar tersebut dari kejauhan.


"Dimana dia, kenapa masih belum keluar juga" gumam Jack dalam hati.


Selang 5 menit kemudian, Alona yang sudah mengenakan pakaian seutuhnya. Tengah mencoba berdiri dari posisinya semula, ada rasa ngilu yang tak tertahankan di area sensitifnya kala itu.


Tak pernah ia rasakan ngilu dan perih begitu hebat disana. Ia pun berjalan dengan sedikit gemetar untuk keluar dari ruangan tersebut.


"Kenapa, apa semuanya baik-baik saja?" tanya Jack memastikan keadaan.


"ASTAGA!" Jack terkejut.


"Apa yang telah terjadi padamu" cecar Jack dengan wajah kesalnya.


Wajah Alona mengalami lebam dan sebuah luka baret di pipi merahnya yang berukuran cukup panjang. Tak lupa, bibirnya pun belum kering dari lukanya.


"It's ok Jack" kelit Alona untuk menenangkan Jack yang sudah begitu khawatir.


Rupanya, alasan Alona tidak membuat Jack berhenti meneliti setiap pandangan matanya terhadap gadis malang itu. Dan benar saja, ketika Jack memperhatikan kaki Alona yang tengah berjalan terbata-bata.


Tengah mengalir sebuah darah segar dari balik gaun tersebut melalui sela-sela kakinya.


"Hei, tunggu sebentar"


"Duduklah disini" perintah Jack ingin memeriksanya.


Kala itu, Jack tengah bersimpuh dibawah kaki Alona yang tengah duduk dan bersandar disebuah kursi.


"Darah ini" gumam Jack.


Dia terus memperhatikan dari mana aliran darah segar itu berasal dengan memegang kaki Alona.

__ADS_1


"Ternyata, memang benar. Ini adalah kali pertama baginya dalam hal ini" imbuh Jack dengan belas kasih.


Rasa kekecewaan itu kembali menyelubungi rongga hati Jack, dan lagi-lagi ia tak dapat menepisnya ketika melihat Alona merasakan rasa sakit yang mendalam.


"Naiklah ke punggungku" perintah Jack.


Saat itu, ia ingin sedikit meringankan rasa sakit Alona akibat ulah pria asing yang begitu kasar memperlakukan dirinya. Jack tak bisa membantunya lebih dari ini saat itu.


"Hm" Alona tertegun.


"Cepat, kemarikan tanganmu. Aku akan membawamu turun" pintanya.


"Jangan Jack, mami pasti akan sangat marah nanti" sahut Alona.


"Jangan pedulikan itu" sahut Jack yang kini sudah bangkit untuk berdiri sambil menggendong tubuh Alona.


Keduanya menuruni anak tangga dengan bersamaan, sementara Alona tengah tertidur dalam gendongan Jack.


"Jack, ada apa denganya" sapa Neli yang baru saja menerima tips begitu fantastis dari pelanggan pertama Alona.


"Dia tengah kesakitan" terangnya.


"Kesakitan apa keenakan Jack?"


"Kau jangan mudah tertipu dengan wanita" tuturnya sambil terus menghitung lembaran uang kertas dihadapannya.


"Tapi dia mengalami pendarahan di sela-sela kakinya mam" jelas Jack menuturkan hal yang telah ia lihat.


"Hahaha"


"Kau sangat polos sayang, hal itu wajar terjadi"


"Tandanya dia masih perawan asli" jelas Neli bahagia.


Flashback customer Neli.


"Aku sangat puas dengan koleksi terbarumu ini, ternyata benar dia masih tersegel dengan rapi. Rasanya aku tak pernah menjumpai yang sekenyal ini dalam hidupku"


"Ambil tips ini untukmu" tuturnya.


*


*


*


"Baiklah Jack, antarkan saja dia ke kamar untuk beristirahat sejenak"


"Setidaknya, ia sudah mencetak uang untukku hari ini" jelas Neli.


Bukan main-main nominal angka dihari pertama Alona bekerja, hingga Neli pun dibuatnya kegirangan.


"Jack, bibi akan membuatkan gadis itu ramuan" bisik Ijah diluar pintu.


Ijah pun merasakan perihatin atas kejadian yang menimpa Alona kala itu, ia tak dapat membayangkan jika itu adalah putri kandungnya. Tentu ia pasti akan merasakan kehancuran dalam hatinya.


"Baik bi, terimakasih" sahut Jack.


Belum sampai keduanya dikamar Alona, tiba-tiba saja suara Sarah menggelegar didalam ruangan itu untuk menyambut keduanya .

__ADS_1


"Jack ...." teriaknya.


"Kau begitu memanjakannya Jack, lantas kapan jatahku" protes kesal Sarah.


Protes keras Sarah sama sekali tak digubrisnya, Jack terus menggendong Alona hingga didalam kamarnya.


"Kita sampai" imbuh Jack sambil membaringkan tubuhnya perlahan.


Saat itu, Alona yang tertidur sangat pulas sangat terlihat cantik dimata Jack. Bibir mungil dan tipis milik Alona pun sempat menghipnotis kedua mata Jack sesaat.


"Dia memang begitu cantik" ucapanya lirih.


"Tok tok tok" Ijah mengetuk pintu kamar Alona dengan membawa beberapa ramuan.


"Ah, masuklah bi"


"Lakukan apapun yang menurutmu terbaik untuknya" pintu Jack dengan seksama.


Ijah lantas duduk ditepi ranjang Alona dan menempelkan beberapa dedaunan pada luka memar di beberapa titik wajahnya.


"Jack, keluarlah dulu"


"Bibi tak dapat melakukan yang satu ini dihadapan mu"


"Ini area sensitif" jelas Ijah yang tengah duduk membelakangi dirinya.


"Tentu, aku akan menunggu diluar"


Pengobatan itu dilakukan ijah selama 25 menit lamanya, ia mencoba membantu memulihkan tenaga Alon dengan beberapa ramuan yang telah ia racik.


"Argh, Bu sakit" teriak Alona mengingau.


"Kasihan sekali dirimu nak" terang Ijah yang terus memijitnya pelan.


Sebuah ramuan berupa minuman pun telah ia letakkan di sebelah tempat tidur Alona, agar saat terbangun nantinya gadis itu dapat meminumnya sampai habis.


"Jack, bibi akan kembali dulu"


"Semua sudah bibi lakukan dengan sebaik mungkin untuknya" terang Ijah.


Jack hanya memberikan anggukan.


*


*


*


"Jack Jack " Teriak Pillow dari bawah anak tangga.


"Apakah kau bisa memanggilku dengan lirih" terang Jack kesal sambil menatap Pillow dari kejauhan.


"Mari turun, kita makan siang" ajaknya.


"Makanlah dulu, aku tak berselera" sahut Jack .


Ia pun meninggalkan Pillow saat itu dan kembali lagi untuk berjaga didepan kamar Alona.


"Jack Jack, kau telah menggilainya tanpa engkau sadari" dialog Jean pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Bersambung ♥️


__ADS_2