
"Siapa gadis kecil itu?" ucap King dari dalam mobil .
Ia masih terus memperhatikan keduanya dari kejauhan tanpa mendekat.
"Apa kau rindu denganku?"
"Katakan padaku." tanya Alona dengan wajah gembira.
"Iya, aku sangat merindukanmu. Aku selalu menunggumu disini, tapi dirimu tak pernah datang menghampiri ku." jelasnya dengan nada polos dan wajah sedih.
"Maaf ya, kakak sangat sibuk." tutur Alona sambil mencubit hidung anak kecil tersebut.
"Nah, ini kakak bawakan coklat untukmu sebagai tanda permintaan maaf ." jelas Alona dengan menyodorkan dua batang coklat pemberian Jack.
"Wah coklat , coklat." teriaknya kegirangan.
Melihat tawa riang gadis kecil itu, membuat Alona begitu bahagia bukan kepalang. Seketika rasa kecewa sedih gundah dan segalanya sirna sudah dari hatinya.
"Dan ambilah ini untuk dirimu." terangnya dengan memberikan sebuah tas kecil yang berisikan uang.
"Asyik, aku punya tas juga!" teriaknya lagi dengan berjingkrak.
Alona memang telah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa akan memberikan anak kecil itu sebuah secercah kebahagiaan baginya.
"Anak baik, sekarang kakak sudah harus kembali bekerja. Jaga dirimu baik-baik ya, dan ingat kakak akan selalu menghampiri dirimu disini." terangnya tanpa memberikan sebuah janji.
*
*
*
Setelah dirinya kembali kedalam mobil.
"Apa dia adikmu?" tanya King penasaran.
"Iya adikku." ujar Alona santai.
"Tapi kenapa kau rela meninggalkannya sendirian dijalanan." tanya King lebih penasaran.
"Dia anak pandai, dan aku yakin ia mampu menjaga dirinya diluar sana tanpaku." jelas Alona bangga.
Masih dengan sejuta pertanyaan yang berkutat dipikirkannya, King lalu membawa pergi Alona dari tempat itu. Dan tampak dari kejauhan jika anak kecil tersebut melambaikan tangannya untuk Alona.
"King ..." sahut Alona.
"Iya." timpal King datar.
"Apa boleh aku meminta tolong padamu, sekali ini saja?" tanyanya sambil memperhatikan wajah King.
"Tentu, katakan." ujarnya yakin.
"Berjanjilah kau takkan mengatakan hal ini pada siapapun nantinya." pinta Alona dengan binar mata mengharap.
King mengangguk tanpa mengelak.
"Sekali saja, antar aku ke rumahku. Aku begitu rindu dengan rumah itu King!" seru Alona dengan mengepalkan kedua tangannya dihadapan King.
__ADS_1
"Eh, kenapa begitu. Bukankah itu hal yang wajar, tenanglah aku akan mengantarmu kesana." sambut King penuh suka cita.
"Bagi sebagian orang hal itu wajar dan diperbolehkan, tapi semenjak aku dirumah itu tak lagi diperbolehkan untuk berkabar dengan keluargaku King." tutur Alona sambil menatap jalanan.
"Aneh ..."
"Kenapa mereka melarangnya." timpal King sambil terus berpikir.
Setelah Alona memberikan alamatnya, King meluncur dengan cepat ke rumah itu dan kebetulan tempatnya tak cukup jauh dari sana.
"Tok tok tok ..." Alona mengetuk pintu rumah itu berulang kali.
Sedangkan King yang berada dibelakangnya sibuk memandang sekeliling rumah itu dengan bersiul.
"Yah yah tunggu, aku tidak budek!" omel Tiwi dari dalam rumah sambil terus berjalan dari arah dapur.
"Siapa yang berani mengganggu diriku saat seperti ini," jelasnya melanjutkan ocehannya.
Hingga terdiam ketika membuka pintu dan mengetahui siapa yang telah datang disana.
"Alona!"
"Kamu tahu ini rumahmu juga kan, apa kau sudah tak punya kunci rumah ini lagi Alona. Kenapa selalu menyusahkan tante!" lanjutnya dengan geram.
"Masuk!" pinta Tiwi sambil mengomel.
Alona yang masih terdiam sejak tadi, hanya menuruti apa kata Tiwi. Dan King juga mengikutinya untuk masuk kedalam rumah itu.
"Eh eh eh, siapa kamu ikut-ikutan masuk lagi." cela Tiwi sambil menunjuk ke arah King.
"Tante ..." sahut Alona yang terputus diudara.
"Mama ..." teriak Amira membuat bising seisi rumah.
Yang kemudian disusul Candra dari balik punggung Amira.
"Eh ada tamu ..."
"Alona." sapa Candra dengan bahagia.
Ia pun bangkit secara bersamaan dengan King untuk menyambut sang paman.
"Om." ucapnya.
"Apa kalian ingin mengantarkan sesuatu." goda Candra dengan melirik ke arah Alona.
"Halah Halah ..."
"Paling yo mek ngalor ngidul kui." sahut Tiwi kesal.
Dirinya mengetahui bahwa lelaki yang sedang bersama Alona kali ini bukanlah lelaki yang sama saat ia temui di mall kala itu.
"Ma ..." ucap Candra penuh penekanan.
Sementara dengan wajah kikuk King tengah kebingungan dengan wajah polosnya. Sedangkan Amira yang baru saja mengambil segelas susu hangat kini juga ikut nimbrung disana.
"Papa, makanya dengarin dulu apa kata mama. Baru boleh protes." seru Amira membela sang ibu.
__ADS_1
"Kamu lagi, kenapa sih?" sahut Candra begitu kesal dengan ulah keduanya disana.
"Mas tanya aja sama keponakanmu tercinta ini, apa tujuannya datang kemari." jelas Tiwi dengan kesal.
"Katakan sayang, apa kau ingin mengantar sesuatu?" tanya Candra dengan hangat.
"Tidak om, Alona hanya rindu rumah ini." pungkas Alona dengan mengembangkan senyum di bibirnya.
"Oh ..." ucapnya.
"Nah puas kan, mana mungkin dia kesini bawa undangan seperti apa yang kau bilang kemarin. Lihat saja, baru kemarin gandeng lelaki sekarang sudah berubah wujud lakinya!" cibir Tiwi berkepanjangan.
"Ih, bukan ma. Ganti orang!" protes Amira dengan kesal.
Tapi tatap matanya dengan genit menyapa King yang sejak tadi juga hanya terdiam melihat ketiganya bertengkar.
"Apa benar Alona?" tanya Candra perlahan.
Dengan wajah kebingungan Alona mencoba memberikan jawaban dengan terbata-bata.
"Hm, anu paman." imbuh Alona perlahan.
"Begini pak, maaf sebelumnya. Pekernalkan nama saya King, kebetulan saya sopir pribadi mbak Alona saat ini. Karena tuan kebetulan ada keperluan mendadak di luar kota dan harus meninggalkan mbak Alona sendirian dirumah."
"Jadi saya diminta juga untuk mengantarkan kemana pun mbak Alona berpergian." sambung King mengarang cerita untuk membantu Alona.
"Jadi begitu, tuh dengar ma." kelit Candra .
Mendapati jawaban King , rupanya tak membuat Tiwi berpuas hati. Dan masih terus melanjutkan ocehannya hingga berkepanjangan.
"Halah, bilang saja dia wanita murahan!"
"Mana ada, wanita baik jalan berduaan dengan lelaki bujang!" tutur Tiwi dengan sewot.
"Mama, astaghfirullah!"
"Jaga ucapanmu." teriak Candra yang seketika mengangkat tangannya lebih tinggi mengarah kepada Tiwi.
"Sudah om, tolong jangan bertengkar. maafkan Alona jika kedatangan Alona membuat tak nyaman kalian disini." jelasnya dengan perasaan sedih.
"Itu sadar, balik gih. Biang kerok!" sahut Amira tak kalah sadis.
King seketika berdiri ketika melihat niat tak baik Amira yang hendak menyiram Alona dengan isi gelasnya.
"Dih, jangan ikutan kenapa sih ." protes Amira dengan kesal.
Dirinya pun urung melakukan niat buruknya itu pada Alona, dan beralih ke meja makan.
"Maafkan paman ya Alona, atas ketidaksopanan istri dan anak paman." terang Candra dengan berat hati.
"nggak papa om, Alona pamit pulang dulu ya." sahutnya dengan perasaan sedih.
Belum sempat dirinya menengok kamar peninggalan sang ibu untuk melepas rindu, harus segera pergi dari rumah itu agar tidak memicu keributan kembali.
Bersambung ❤️
......................
__ADS_1
...Mampir kesini juga yuk ❤️...