
"Hei, susah sekali mencarimu" ujarnya dibalik kacamata hitam miliknya.
Ketika tangan pria tersebut menyentuh hingga meremas bahu Alona, Pillow dengan refleks mengangkat tangan pria itu dan membuangnya.
"Siapa kau, berani mencampuri urusanku denganya?"
"Apa kau kekasih dari gadis ini?" tanyanya.
"Tidak, aku bodyguardnya" jelas Pillow tegas.
Tatap mata Pillow seakan mengunci pandangan mata Broto Wicaksono seketika.
Broto Wicaksono adalah seorang pengusaha kebun teh, dirinya seorang duda beranak satu. Sejak kematian istrinya, Broto mengasuh putra semata wayangnya sendirian.
Dengan dirinya lah, ayah Alona terbelit hutang hingga rasanya mencekik leher ibu dan dirinya saat itu.
"Hah, bodyguard"
"Sejak kapan kau mendadak kaya hah. Hutang mendiang ayahmu saja tak becus kau selesaikan dengan cepat denganku" bentak Broto sambil mengapit kedua rahang pipi Alona disana.
"Lepaskan dia, jika tidak kau akan berurusan denganku" sahut seseorang dibalik punggung Pillow.
"Siapa lagi dia hah, banyak sekali antek antekmu" imbuh Broto lebih kesal.
Jack berjalan memutar kehadapan Alona dan kali ini posisinya tepat dihadapan Broto.
"Kau tak perlu tahu siapa kami, yang harus kau tahu kami siap bertaruh nyawa untuknya" terang Jack tegas.
Alona begitu terkejut dengan kedatangan Jack yang secara tiba-tiba tanpa ia ketahui sebelumnya. Sedangkan Pillow sangat mengenal sahabatnya itu dengan baik, seorang Jack akan selalu memberikan totalitasnya dalam bekerja.
Meskipun hari ini ia tak jadi pergi menemani Alona, ia tetap akan menjalankan tugasnya dengan mengikuti secara misterius.
"Jack?" panggil Alona lembut.
Jack hanya membalikkan pandangannya tanpa menyahutinya lebih lanjut.
"Pergilah jika tidak ingin berurusan dengan kami lebih lanjut" gertak Jack pada Broto.
"Cih, aku tidak sudi melepaskannya begitu saja" jelas Broto sambil membuka kacamatanya dengan tatapan garang.
Melihat hal itu, Jack sama sekali tak gentar menghadapi Broto disana. Ia tetap berdiri dihadapan Alona dengan kukuh.
"Berikan dia pada diriku, dan kalian tak perlu bersusah payah membelanya lagi"
"Biarkan dia melunasi seluruh hutangnya padaku saat ini juga" pinta Broto.
Jack menarik nafas sedalam mungkin untuk mengatur rongga udara yang telah sesak karena terselimuti amarah.
__ADS_1
"Berikan dompetmu padaku" ujar Jack dengan mengulurkan tangan kanannya pada Alona untuk meminta dompetnya.
Alona pun menuruti Jack saat itu juga.
"Kau lihat, apakah ada uang didalam sana?" terangnya sembari membolak-balikkan dompet tersebut ke atas dan ke bawah.
"Kalau begitu berikan saja dia padaku, aku bisa memakai jasanya dirumah untuk mengganti uangku" pinta Broto sekali lagi.
"Tidak, tidak bisa"
"Dia sudah memiliki kontrak seumur hidup dengan kami" ujar Jack dengan kepercayaan diri tinggi.
"SIALAN" sarkas Broto.
"Siapa sebenarnya kalian yang berani mencampuri urusanku denganya" tutur Broto dengan kedua biji mata yang ingin keluar pada tempatnya.
"Apa yang aku katakan benar bukan, dia sudah lebih dulu terikat kontrak seumur hidup dengan kami. Jadi, jangankan kau menyentuh apalagi berani membawanya pergi maka nyawamu akan menjadi taruhannya" Gertak Jack sekali lagi tanpa gentar.
"Jack, kau benar-benar membelaku?. Atau semua ini hanya kau lakukan untuk mami mu itu" gumam Alona dengan kesedihan.
"Aku akan mengingat peristiwa ini. Dan aku akan mengingat wajah kalian berdua dengan baik di otakku, akan aku temukan kalian bertiga meski dilubang buaya sekalipun" Cecar Broto bertubi-tubi.
Melihat kepergian Broto, Jack memberikan jawabannya dengan lantang.
"Aku menunggumu" teriaknya sekeras mungkin.
"Jack, kenapa kau disini. Bukankah kau tidak bisa mengantarkan diriku hari ini" jelas Alona tanpa basa-basi terlebih dahulu.
"Dasar aneh" imbuh Alona melihat kepergiannya.
"Begitulah Jack, dia pemuda yang sangat baik" terang Pillow memuji rekan kerjanya.
"Dia temanmu, dan kau bisa mengatakan hal baik itu padanya" sahut Alona kesal.
Pillow pun ikut tersenyum melihat sikap Alona yang tak kunjung mengenali Jack dengan baik.
*
*
*
"Tolong rapikan saja rambutku" pinta Alona pada seorang pegawai salon tersebut.
"Baiklah, duduklah nona. Kapster kami akan segera menghampiri dirimu" jelas kasir salon tersebut.
"Hm" Sahut Alona dengan nada sumbang.
__ADS_1
Setelah dua menit kemudian, seorang kapster telah menghampiri dirinya. Perempuan itu tengah melebarkan sebuah kain panjang dihadapan Alona untuk ia kenakan menutup dada hingga punggung bagian belakang Alona.
Tanpa bertanya, kapster tersebut langsung memangkas rambut Alona seketika.
"Kress" suara gunting bergesekan satu dengan yang lain disana.
"Eh, tunggu. Aku belum memintamu untuk menentukan model apa yang aku inginkan bukan?" protes Alona.
Saat ini, rambutnya telah memiliki panjang yang tak rata. Bisa dibilang , rambutnya panjang sebelah.
Tanpa perlu berkata lebih banyak lagi, kapster tersebut menunjuk sebuah ponsel dihadapan Alona. Rupanya, itu adalah isi pesan singkat Neli yang berisikan segala perintah untuk merubah penampilan Alona.
"Ya Tuhan, hingga penampilanku pun wanita itu yang menentukannya"
"Mengesalkan" gerutu Alona dengan kesal.
"Apa nona sudah paham" timpal kapster tersebut dengan ramah.
"Yah, lakukan sesukamu atas kehendaknya" sahut Alona lebih kesal dan bermuram durja.
Kapster tersebut hanya tertawa ketika melihat wajah muram Alona didepan cermin yang cukup lebar dan besar.
"Anda begitu beruntung nona, dapat bertemu dengan wanita baik hati tersebut" imbuhnya sambil terus memangkas rambut panjang Alona dengan model yang telah ditentukan oleh Neli.
"Beruntung kau bilang?" sahut Alona terkejut mendengar ucapan gadis yang memiliki usia tak jauh berbeda darinya.
"Tentu, setiap kali ia kesini. Kami para pegawai disini selalu mendapatkan tips darinya. Dan sering pula, ia menjatah kami makan siang setiap minggunya" jelasnya gamblang.
"Jadi itu definisi orang baik menurut dirimu?" timpal Alona dengan wajah datar.
"Kalian semua sudah tertipu dengan wajah keibuannya. Termasuk juga diriku, jika waktu dapat diputar kembali aku tak pernah menginginkan pertemuan itu terjadi" gumam Alona.
"Apalagi aku mendengar darinya, jika kau dijadikan anak angkat olehnya. Maka sudah pasti, ia akan memenuhi segalanya dengan baik untukmu kan" terangnya dengan santainya.
"Uhukkk uhukkk" Alona terbatuk dengan hebat ketika mendengar semua pujian atas Neli disana.
"Ah, nona apa anda baik-baik saja"
"Tolong maafkan aku, jika pelayananku kurang memuaskan"
"Ambil air ini, dan segera minumlah" jelas gadis itu ketakutan.
"Terimakasih"
"Lanjutkan saja pekerjaanmu dengan baik, aku memang seperti ini orangnya. Tak bisa mendengar perkataan yang terlalu banyak dalam kurun waktu yang singkat" jelasnya sambil memijit pelipisnya.
"Itu sangat memuakkan bagiku" imbuhnya kembali dengan kesal.
__ADS_1
"Baiklah, aku tidak akan mengulanginya lagi nona. Tolong maafkan aku dan jangan laporkan hal ini kepadanya" pinta gadis itu memelas .
Bersambung ♥️