
Setelah rambutnya dirapikan, kini para pegawai salon tersebut beralih ke kaki Alona. Kedua kaki dan tangannya bersiap untuk melakukan perawatan.
"Eits, hentikan"
"Aku tidak mau menggunakan alat itu" tolak Alona dengan pandangan ngilu.
Serangkaian alat manicure pedicure yang telah berbaris rapi disampingnya membuat bulu kuduknya berdiri.
"Tidak apa nona, ini tidak menyakitkan" terang salah seorang pegawai.
"Tidak,tidak"
"Aku bisa lakukan untuk membersikan kukuku sendiri" elaknya terus berkelit.
"Santai saja nona, semua tidak akan terasa sakit" imbuh seorang pegawai lainnya.
Ia yang telah berdiri dibelakang Alona, menarik lembut kepala gadis yang tengah memiliki kepanikan tingkat tinggi tersebut. Setelah bersandar pada tempatnya, barulah pegawai tersebut melakukan tugasnya.
Dirinya memijit lebut kepala Alona, hingga membuat rasa nyaman pada hati gadis tersebut. Rasa panik dan ketakutan saat itu hilang seketika, saat rasa begitu nyaman perlahan menghampiri pikirannya. Dan para pegawai tersebut, melanjutkan untuk serangkaian perawatan kuku untuk Alona.
"Tapi, lihatlah. Dia memang pandai merawat semua kukunya"
"Kita tak perlu bersusah payah untuknya" terang seorang pegawai yang berada di bawah kaki Alona.
"Tentu, ini tidak akan memakan waktu lama" sahut rekan kerja wanita itu.
*
*
*
Setelah semua rangkaian untuknya telah usai, Alona yang sudah terbangun dari tidurnya terlihat begitu fresh kala itu. Jari jemarinya bterlihat begitu berkilau disana.
"Oh, hai"
"Jadi ini anak emas Neli, beruntung kamu sayang" sapa Monica sang pemilik salon serta sahabat akrab Neli.
"Tuhan, cobaan apalagi ini" gumam Alona terdiam dihadapan Monica.
Sebuah senyuman pun mengembang sempurna di kedua pipinya.
"Lihatlah, kau baru disana dan dirinya rela merogoh koceknya cukup dalam untuk semua perawatan mu ini sayang"
"Kau tahu, salonku cukup terkenal dan memiliki harga yang begitu mahal untuk semua perawatannya" terang Monica kembali.
Dirinya begitu menggebu ketika menjelaskan siapa Neli pada Alona saat itu, tapi itu tak membuat Alona merasa nyaman sedikitpun. Malah sebaliknya, ia begitu risih ketika mendengar nama Neli dipuji selangit oleh semua orang disana. Rasanya ia ingin segera pergi dari tempat itu secepatnya.
"Apakah aku sudah boleh pergi dari sini tante?" timpal Alona canggung dan lirih.
"Huuu" goda Monica sambil berseru.
__ADS_1
"Setua itukah wajahku, hingga kau memanggil tante sayang. Jangan salah, kita seumuran loh" goda Monica berkelanjutan.
Hal itu semakin membuat Alona bingung untuk menentukan sikapnya.
"Baiklah, kau sudah boleh pergi dari sini sayang. Kan semua pembayaranmu akan ditransfer oleh Neli padaku" jelasnya.
Alona yang sudah tak tahan berlama-lama disana, seketika meninggalkan meja kasir dan berlalu pergi mengajak Pillow yang sedari tadi menunggunya hingga lelah.
"Tolong maafkan aku yah mas, sejak tadi aku sudah berusaha untuk meminta mereka secepat mungkin"
"Tapi" tuturnya dengan rasa bersalah.
"Haha, tak apa mbak. Bukanya hal itu sudah biasa dilakukan oleh wanita dalam kesehariannya" sahut Pillow memberikan penjelasan yang begitu nyaman didengar.
Ketika mendengarkan hal itu, rasa bersalah dalam diri Alona seketika musnah. Dan ia berbalik tertawa melihat penuturan Pillow.
"Dia sangat cantik dan manis ketika tertawa seperti itu" ujar Jack yang sedari tadi mengawasinya dibalik sebuah majalah yang menutupi wajahnya sempurna.
Rupanya ia tak sampai hati untuk meninggalkan Alona dan Pillow begitu saja sejak kejadian tadi.
"Eh, tunggu disini sebentar ya" pinta Alona sambil berlarian.
Karena melihat seseorang dari kejauhan, Alona berlari untuk mengikuti kemana arah keduanya berjalan saat itu.
Disisi yang berbeda, sontak Jack yang refleks mengikuti Alona segera bangkit dari duduknya dengan terus menutupi wajahnya dengan topi.
"Jack,Jack"
"Tunggu, tante" teriak Alona sambil terengah-engah mengejar keduanya.
Merasa mengenal sosok suara tersebut, Tiwi mencoba memalingkan pandangannya untuk mencari arah suara tersebut disekitarnya.
"Aku disini tante" imbuhnya sekali lagi sambil mengatur nafas.
"Hah!"
"Alona" teriak Tiwi terkejut.
Tiwi saat itu tengah menikmati waktu senggangnya untuk menghabiskan waktu berdua saja dengan sang putri Amira untuk berjalan-jalan didalam mall.
"Iya tante ini aku" timpal Alona lembut sambil memegang tangan Tiwi.
Sedangkan Amira yang berdiri disamping ibunya, hanya fokus pada penampilan Alona sekujur tubuh dengan pandangan takjub.
Alona sama sekali tak pernah melupakan kata-kata mendiang sang ibu, ataupun ajaran Mirna.
Flashback Alona.
"Ingatlah nak, posisi paman dan tantemu sama seperti ibu dan ayah. Dia memang bukan ibu yang melahirkan kamu, dan dia memang bukan tangan yang kuat untuk selalu berada disisimu selama 24 jam. Tapi kedudukan keduanya adalah sama seperti ibu dan ayah"
"Anggaplah mereka sebagai pengganti kita berdua kelak, hormati mereka dan sayangi mereka sebagaimana kau menyayangi kami" wejangan Mirna pada sang putri semenjak kecil.
__ADS_1
Terbukti hal itu selalu dipegang teguh oleh Alona hingga saat ini.
"Ma, coba lihat. Dia begitu cantik dengan seluruh penampilannya" bisik Amira dengan pandangan mata yang mengamati.
"DIAMLAH" sahut Tiwi dengan kesal sambil menggesekkan kedua rahang giginya saat itu.
"Katakan padaku, dimana saat ini dirimu tinggal" tanya Tiwi dengan gaya belagunya .
Sambil memeriksa kondisi sekitar, Alona memutar pandangannya disetiap sudut mall tersebut. Dan ketika ia memutuskan untuk berkata jujur, benar saja Jack selalu datang tepat pada waktunya.
"Dia bersamaku" sahutnya.
Alona yang sudah bersiap untuk berkata jujur, terpaksa harus menelan mentah-mentah seluruh perkataan yang akan ia sampaikan pada tantenya saat itu.
"Hah, kamu siapa?" tanya Tiwi kebingungan.
"WOW"
"KEREN, SANGAT KEREN" tutur amira dengan wajah melongo .
Seketika Tiwi mengusap wajah sang putri dari pandangannya dan memintanya untuk segera sadar.
"Siapa dia Alona?" tanya Tiwi kembali pada sang keponakan.
"Di dia" jelas Alona sedikit ragu.
"Aku adalah calon suaminya" tegas Jack dengan santai.
Sembari membuka topi yang tengah ia kenakan, Jack memberikan senyuman termanisnya disana.
"Aaaaaah, ma. Dia semanis itu" rengek Amira sambil memukul pundak sang ibu dengan perlahan ketika mendapati wajah tampan Jack.
"AMIRA" teriak Tiwi lirih dengan geram dan kesal.
Sementara Alona hanya menyaksikan pertengkaran ibu dan anak yang tengah berlangsung sejak tadi .
"Rupanya kau ingin menikah tanpa sepengetahuan kami?"
"Iya?" cecar Tiwi dengan wajah garangnya.
Alona masih saja terpaku dan terdiam disana.
"Tidak tante, rencananya kami akan segera memberikan kabar pada kalian. Tapi maafkan kami yang masih terlalu sibuk belakangan ini" jelas Jack sembari meraih jemari Alona untuk memulai sebuah sandiwara.
"Apapun itu, aku tidak membenarkan hal itu untuk terjadi"
" Dia masih punya keluarga yang bertanggung jawab atas dirinya" cecar Tiwi kembali.
"Tenanglah, aku akan menjaga keponakan anda sebaik mungkin" imbuh Jack santun .
Bersambung ♥️
__ADS_1