
Saat itu, hari hampir mulai gelap dan senja hampir tenggelam. Masih tetap memilih untuk berdiam diri dikamar, Alona sepertinya enggan untuk keluar kamar hari itu. Sedangkan, diruang bawah beberapa orang begitu sibuk menata segala sesuatunya untuk menyambut kedatangan jenazah Jack .
Tak ada dari mereka seorangpun yang sanggup memberitahukan pada Alona hari itu, mereka tak ingin jika Alona sampai mendengarnya dan jatuh pingsan sama seperti Neli.
Kebanyakan dari mereka, memikirkan nasib bayi malang itu jika ibunya harus mengetahui segalanya hari itu juga.
Pillow berserta King dan teman pria lainnya, sudah bersiap untuk menyambut kedatangan mobil jenazah di depan pintu. Mereka terlihat berdiri berjejer disana dengan pakaian senada, sementara para wanita sibuk menenangkan Neli di sudut ruang tengah.
Suara mobil ambulance mulai terdengar jelas memasuki rumah Neli, dan itu membuat Alona begitu terkejut. Ia yang sedang menyusui bayinya, tiba-tiba saja bangkit untuk mengintip mobil itu dari balkon kamarnya.
"Ada apa ini ..."
"Kenapa dibawah begitu ramai, dan mobil itu ...!" gumamnya seorang diri.
Wanita itu belum menyadari, jika yang berada dalam mobil ambulance tersebut adalah suaminya. Ia pun segera bergegas turun untuk menjumpai yang lainnya dibawah.
Tak ada perasaan yang aneh sebelumnya , bahkan Alona sama sekali tak memiliki firasat buruk apapun.
Flashback Alona.
"Aku berjanji kepadamu, aku akan meminta pada Tuhan jika hanya maut yang dapat memisahkanku dari mu. Dan aku juga akan memintanya dengan khusus untukmu, agar selepas kepergian ku Alona ku takkan pernah merasakan kesedihan begitu dalam untukku."
Sebuah janji yang diucapkan oleh Jack padanya selepas akad terjadi.
__ADS_1
*
*
*
Masih dengan wajah yang bingung, Alona menuruni anak tangga satu persatu dengan keraguan.
Setelah yang lainnya menyadari kehadiran Alona, Jean pun bergegas untuk membantunya turun dan memberikan kursi khusus tepat disebelah peti jenazah Jack.
Masih tak percaya dengan perlakuan Jean, Alona bingung dibuatnya sambil terus menatap peti yang belum terbuka sedikitpun.
Hingga terdengar lirih suara Sarah berbisik pada Neli yang sejak tadi memejamkan matanya disana . "Mam, Jack datang."
Tiba-tiba saja Neli telah bangun dari tidurnya dan berteriak histeris kembali sambil memeluk peti Jack dengan tangisan yang tak terbendung lagi.
"Jack ..."
"Oh Jack ..." serunya berulang kali sambil terus memukul peti coklat tersebut.
Kedua bola mata Alona terbuka lebar, bahkan sejenak nafasnya seperti berhenti mengalir kedalam otaknya.
"Jack?" ucapnya lirih .
__ADS_1
Jean mendekat dan mengambil bayi kecil itu dari pelukannya.
"Itu Jack sayang, suamimu." bisik Jean lembut sambil menahan getir di ujung bibirnya.
"Tidak, tidak mungkin Jean !" sahut Alona tak kalah getirnya.
Hati yang sejak tadi tak merasakan apapun, seketika merasakan duka yang mendalam. Seakan tak percaya jika itu Jack, Alona lantas membuka peti itu dengan menariknya perlahan.
Yah, sebuah pemandangan yang tak pernah ia impikan sebelumnya. Bahkan ia juga takkan pernah mau mendapati hal ini . Telah terbaring dan terbujur kaku raga Jack disana, dengan senyum yang mengembang diwajahnya ia seakan ingin menyapa istri tercintanya itu dengan perpisahan yang begitu manis.
Wajahnya tak lagi mengalirkan darah , sekarang telah berubah menjadi pucat pasih dan putih bersih. Jack yang selalu membuat hari Alona begitu banyak di isi dengan tawa riang kini mendadak menjadi sunyi dan senyap.
Memori itupun kembali berputar dalam ingatannya, betapa Jack sebagai suami tak pernah meninggalkan dirinya sedetikpun . Meski dalam kondisi tersulitnya, ia selalu berusaha untuk selalu ada bagi Alona.
"Jack ..." panggil Alona sambil terus mengusap pipinya perlahan.
Air mata pertama Alona menetes dan terjatuh tepat dipipi Jack.
"Apa kau marah dengan semua perkataan ku tadi, hingga saat ini kau terus terdiam padaku Jack?"
"Ayo bangun dan lihatlah aku!" ujarnya yang berupaya untuk membangunkan Jack kembali.
Tapi, suaminya itu tak lagi bicara. Dan menanggapi suara istrinya tersebut.
__ADS_1
Bersambung ❤️