Kidung Cinta Alona

Kidung Cinta Alona
Bab 31


__ADS_3

Dan ketika Jack tengah sadar akan kehadiran Alona dari kejauhan, ia pun berlalu begitu saja dari hadapan King.


"Apa kamu yang akan pergi bersamaku hari ini?" tanya Alona yang baru saja tiba di depan halaman.


"Tentu, masuklah nona." seru Jack menggoda Alona.


Seketika senyum manis merekah di bibirnya.


Merekapun meninggalkan rumah Neli saat itu, dan sepanjang perjalanan mereka berdua menghabiskan waktu penuh dengan canda tawa.


"Sudah King, dirimu sangat konyol." terang Alona sambil terbahak-bahak dan memegangi perutnya.


"Aku konyol saat bersama denganmu Alona." gumam King sambil memandang wajah cantik Alona dari spion.


Kali ini keduanya tiba disebuah butik langganan Neli yang memiliki kwalitas terbaik dalam segi bahan ataupun pengerjaannya.


"Silahkan nona." sambut seorang pegawai.


"Oh, sudah datang rupanya!"


"Cantik sekali ..." terang pemilik butik tersebut.


Dia adalah laki-laki yang berumur hampir 45 tahun, berkacamata serta memakai make up tipis diwajahnya setiap hari. Serta terdapat sebuah syal yang melingkar di lehernya. Yah dia adalah Audrey , sapaan akrabnya Rey.


Alona pun tersenyum ketika dirinya mendapatkan pujian dari Audrey.


"Perkenalkan namaku Audrey, cukup panggil aku Rey saja sayang." tuturnya sambil mengulurkan tangannya.


"Alona ..."


"Dan aku King." sahut King secara spontan memperkenalkan dirinya juga.


Melihat aksi King yang terlampau percaya diri, membuat Alona kembali tertawa kecil dan terus menahan tawa itu sepersekian detik.


"Pemuda yang sangat tampan, tapi sayang kelasnya jauh dibawah standart!" nilai Audrey dengan sombongnya.


Audrey terkenal begitu sangat sombong, bahkan ia tak pandai dalam menjaga sikap ataupun tutur kata ketika tengah berjumpa dengan orang yang baru saja ia kenal.


Maka tak heran jika butiknya tersebut sangat sepi, dan mayoritas dikunjungi oleh para sahabatnya saja disana.


King hanya tersenyum ketika mendengar hal buruk yang telah terucap dari bibir Audrey.


"Sudah, jangan dihiraukan orang sepertinya." bisik Alona dibalik telapak tangannya yang menghadap ke arah King.


*


*


*


"Mbak, kemarin aku baru saja melihatnya dengan harga diskon. Dan baru selang sehari harganya sudah kembali normal?" ujar seorang pengunjung butik kepada karyawan Audrey.


Melihat tingkah sang customer, Audrey pun dibuat geram dan segera menghampirinya.


"Bu, sekiranya tak ada uang untuk membeli barang-barang dibutik ini jangan kesini yah. Saya kasihan, sudah jauh-jauh datang kesini cuma buat lihat-lihat doang."

__ADS_1


"Yang ada ntar mupeng karena duit nggak cukup say!" hardik Audrey berkelanjutan.


"Anda siapa ya, lancang sekali berbicara seperti itu pada saya!" tanyanya dengan geram.


Wanita setengah baya yang berpenampilan seperti seorang istri pejabat itu sangat murka ketika Audrey berucap tak sopan.


"Saya pemilik butik ini, kalau anda tidak senang silahkan pergi dari sini." sentak Audrey.


"Sangat tidak sopan!" ucapnya sambil berjalan keluar meninggalkan toko tersebut.


"Percuma lah nenteng tas branded kesana kemari kalau isinya cuman uang koin, miris lihat orang miskin berlagak kaya!" hardik Audrey.


"Ehem, katakan padaku sayang baju seperti apa yang kau inginkan. Aku memiliki beberapa koleksi terbaik untuk gadis seusiamu."


"Neli sudah memintaku untuk memilihkannya untukmu!" terang Audrey semangat.


Mereka lantas menuju ke sudut paling ujung ditempat itu , disana berjejer dengan rapi gaun-gaun cantik yang memiliki warna pastel.


"Ku rasa ini cocok untukmu!" jelas Audrey yang mengambil satu buah baju lalu ditempelkan pada dada Alona.


"Kau menyukainya?" imbuh Audrey.


Sebuah gaun yang tak terlampau ramai jika dipandang, tapi berkesan mewah. Gaun itu berwarna sage, dan memiliki manik kecil di bagian dadanya dan sebuah tali disetiap pundaknya untuk membentuk sebuah pita.


"Yah, ini sangat bagus ." terang Alona.


"Maka ambilah, dia sudah memilihmu untuk menjadi tuanya." sambung Audrey dengan enteng.


Tapi Alona sangat terkejut ketika ia melihat harga baju tersebut, sebuah nominal yang cukup besar hanya untuk sebuah baju.


"Jangan heran untuk harganya, begitulah jika baju sekelas butik!" jelasnya melangit.


"Hanya 3 juta saja, itu hal kecil bukan untuk seorang anak didik Neli?" jelasnya lebih menyindir.


"Baiklah, tolong berikan itu padaku. Aku akan membayarnya." terang Alona.


"Hei, cepat layani dia." teriak Audrey kepada seorang karyawannya.


Saat Alona telah melakukan semua pembayaran, kini dirinya beralih memanggil King yang telah menunggu dirinya disebuah kursi panjang depan butik tersebut.


"Mari kita pulang." ajak Alona.


Setelah memasuki mobil, King yang sudah sangat gusar dengan sejumlah pertanyaan memberanikan dirinya untuk bertanya pada Alona.


"Sebelumnya aku ingin minta maaf padamu." jelasnya dengan nada gugup.


"Iya?" sahut Alona.


"Dirimu bekerja sebagai apa dirumah itu?" tanya King dengan gemetar diujung suaranya.


Alih-alih marah mendengar pertanyaan King, Alona justru terlihat lebih santai menanggapinya. Ia paham, karena King adalah orang baru dirumah Neli.


"Katakan, pekerjaan apa yang pantas menurutmu untuk diriku?" tanya Alona balik.


"Mungkin bisa saja dirimu adalah tangan kanan mami Neli." imbuhnya memberikan contoh.

__ADS_1


"Bisa juga, tapi bukan!" serunya.


"Tidak mungkin jika seorang asisten rumah tangga kan, dirimu tak pantas di bidang itu ." ucapnya.


"Lalu?" Alona menggiring terus opini yang tengah menyelimuti pikiran King.


King terdiam sembari menatap jalanan yang kebetulan sangat padat hari itu.


"Lalu ..." tiru King dengan perlahan.


"Ikuti saja pikiranmu untuk menilai ku King. Lagi pula, pekerjaan apa yang pantas untukku ditempat seperti itu." timpalnya .


Masih dengan perasaan yang begitu terkejut, King masih tak percaya jika apa yang telah dipikirkannya adalah sebuah kenyataan.


"Hal apa yang membuatmu memilih jalan ini ?" tanya King.


"Ibuku ..." sahut Alona tanpa melanjutkannya kembali sambil menyeka air matanya.


Mendengar apa yang telah terucap dari bibir Alona, King memutuskan untuk tidak melanjutkannya kembali. Dirinya sudah cukup paham apa yang kini di emban oleh Alona.


Mungkin ia sama sekali tak ingin berada dalam posisi ini, tapi waktu dan keadaan lah yang memaksanya untuk menggelutinya.


"Maafkan aku karena sudah membuatmu sedih." imbuh King sambil memberikan sekotak tisu.


"Tak apa, jika aku menjadi dirimu. Aku pasti akan menanyakan hal yang sama bukan?" timpal Alona dibalik tangisnya.


"Tentu, kau tahu bukan itu adalah sikap setiap manusia."


"Kepo." ujar King dengan mengeja.


Hanya selang beberapa detik, Alona kembali tersenyum akibat ucapan King yang polos.


"Oh ya, menepilah di depan halte itu." pinta Alona dengan menunjuk.


Ia pun segera menuruni mobil dan berjalan ke arah halte. Setibanya disana, Alona sudah menemukan apa yang tengah ia cari.


"Hai sayang, apa masih ingat denganku?" sapanya lembut.


Di balik terpaan angin lembut, membuat sebagian wajahnya ditutupi rambut-rambut halusnya.


Gadis cilik itupun mencoba mengingat kembali wajah Alona yang sudah terlihat sempurna.


"Kakak ..." teriaknya gembira.


Bersambung ❤️


...****************...


...Jangan lupa mampir kesini juga yuk❤️...


...



...

__ADS_1


__ADS_2