Kidung Cinta Alona

Kidung Cinta Alona
Bab 11


__ADS_3

Pagi hari itu, tepat dikediaman rumah Alona beberapa penagih hutang telah mengunjungi rumahnya.


"Dok dok dok" suara pintu digebrak dengan kasar oleh mereka.


"Yah, tunggu sebentar" sahut Candra dari dalam rumah.


Ceklek


Candra membukakan pintu rumah itu dengan secepat mungkin, agar mereka berhenti menggedornya dengan keras.


"Maaf, sepagi ini anda sekalian ingin mencari siapa dirumah ini?" tanya Candra yang kemudian mengenakan kacamata miliknya.


"Mana dia?" sahut seorang lelaki berkepala plontos berkumis tebal.


Dengan mengenakan kalung rantai, serta aksesoris pendukung lainnya menegaskan bahwa dirinya adalah seorang preman.


"Dia"


"Siapa dia?" sahut Candra bingung.


"Mas mas, siapa?" panggil Tiwi dari dalam kamar.


Mendengar istrinya, Candra sama sekali tak menghiraukannya.


"Mana gadis itu hah" tanya lelaki berkepala plontos itu sekali lagi dengan tatap mata yang tajam.


"Siapa nama gadis itu, aku lupa" bisik lirih lelaki itu kepada teman yang berada disampingnya.


"Alona bos" sahutnya dengan lirih dan berbisik.


"Yah, mana Alona" teriaknya sambil menatap ke arah seluruh ruangan itu dengan perlahan.


Kali ini, Tiwi yang baru saja keluar membetulkan rambutnya yang tergerai dengan seutas pita.


"Ah, itu dia"


"Hei, kemari kau" panggil lelaki itu dengan sombong.


Candra masih terdiam melihat ulahnya.


"Aku?" tanya Tiwi keheranan.


Dirinya sama sekali tidak merasa kenal dengan kedua pria tersebut.


"Iya, siapa lagi memangnya" timpal preman itu jauh lebih garang.


Tiwi berjalan dengan santainya saat itu, karena ia sama sekali tak merasa mengenali mereka semua.


"Cepat bayar hutangmu" pintanya dengan kasar.


"Hutang?"


"Apa aku tidak salah mendengarnya"


"Seumur-umur, aku tidak pernah berhutang. Apa kau tidak tahu siapa bapakku" bentak balik Tiwi dengan melingkarkan kedua tangannya ke pinggang.


"Ini kan yang hutang bapak kau, kenapa nadamu lebih tinggi rupanya dariku" bentak balik sang penagih hutang.


"Makin kurang ajar kau rupanya, bapakku tanahnya berhektar-hektar disebut berhutang"

__ADS_1


"Cih" maki Tiwi kesal.


Sementara Candra yang mengetahui kesalahpahaman ini hanya tertawa kecil, siapa yang tak mengenali istrinya. Seorang Tiwi takkan pernah pantang mundur jika salah seorang menghina ke dua orang tuanya sedikitpun.


"Bos bos" panggil seorang anak buah dibalik tubuhnya.


"Ish, diam mulutmu"


"Kurang ajar betul gadis ini" terangnya semakin marah.


"Tapi bos"


"DIAM!" bentaknya.


"Gadis-gadis, dari mana kau lihat aku masih gadis hah. Anakku sudah satu, dan dia telah gadis" imbuh Tiwi bangga.


"Hah, anak?" sahut lelaki berkepala plontos keheranan.


Gadis yang tengah menjadi incarannya sama sekali belum berkeluarga. Ia pun mulai menengok ke arah anak buahnya untuk memastikannya sekali lagi.


"Bos, kita salah target" keluh anak buahnya.


"Lihat foto ini" sahutnya kembali.


"Bodoh sekali kalian ini, dari tadi aku buang-buang tenaga dengan wanita ini" terangnya sangat kesal.


"Aku sudah" ujar anak buahnya yang terpotong oleh elakan lelaki berkepala plontos tersebut.


"Sudah diamlah"


*


*


*


"Ck, kalau begitu panggil gadis itu kemari" decaknya.


"Siapa itu, si Alona. cepat panggil dia kemari" pintanya dengan kesal.


"Alona?"


"Dia mencarinya mas, kenapa dari tadi kau diam saja" protes Tiwi.


"Tak ada tak ada" timpal Tiwi pada lelaki tersebut dengan mengayunkan tangannya ke udara.


"Disini alamatnya sudah benar disini, lantas kalian ini siapa rupanya" tanyanya.


"Kami, paman dan bibinya. Dan aku tegaskan sekali lagi, masalah hutang piutang jangan kalian sangkutkan kami untuk hal itu. Pergilah dari sini, dan cari anak itu sendiri" ujar Tiwi.


"Oh, tidak bisa. Kalau begitu serahkan saja rumah ini pada kami cepat" pinta lelaki itu dengan lantang.


"Mau kusiram kalian dengan air comberan, berani kalian mengusik rumah ini. Langkahi dulu kakiku, rumah ini sudah kami beli dan bukan lagi menjadi rumah Alona"


"PAHAM!" ujarnya.


Mendapati murka Tiwi, para penagih hutang itu menciut nyalinya dan memutuskan untuk segera pergi meninggalkan rumah Alona.


"Kau memang selalu bisa diandalkan untuk hal ini sayang" tutur Candra dengan senyum bangga.

__ADS_1


"Ih, kau saja yang lemah mas. Mereka semua hanya badan saja yang besar, tapi otak ciut" maki Tiwi pada beberapa orang tersebut.


Ditempat berbeda, Alona yang berusaha untuk memulihkan keadaannya kembali tengah beraktifitas kecil didalam kamarnya.


Sambil berjalan, ia membawa selang infusnya berkeliling kamar beberapa menit lamanya. Tetapi, belum lama ia berjalan kepalanya masih terasa berdenyut dan berputar-putar.


"Malam mbak Alona" sapa seorang perawat.


Dibalik perawat itu berdiri Jack yang tengah memantau segala situasi saat itu.


"Tolong, berbaring lah saja saat ini agar kondisimu lebih baik" perintah suster tersebut.


"Tapi aku ingin segera pulang sus, aku rindu rumahku" pinta Alona sambil berbinar-binar matanya.


Mendengar alasan Alona, Jack terkejut betapa lihainya gadis itu memberikan sebuah alasan atau berkelit pada kenyataan yang sebenarnya.


"Semua pasien mengeluhkan hal yang sama dengan dirimu"


"Jadi menurutlah, supaya bisa cepat pulang" pinta suster tersebut.


Setelah selesai mengecek keseluruhan, kali ini suster tersebut memasang sebuah kantong vitamin. Dan dengan cekatan ia memperbaiki jalur aliran infus ditangan Alona .


"Akh" rintih Alona.


"Sakit ya, tapi kayak digigit semut kan" hibur suster tersebut dengan tawa.


Sakit itu rasanya cukup berdenyut dan ngilu bagi Alona.


Alona hanya tersenyum ketika suster tersebut mengalihkan dari rasa sakitnya.


"Beruntung sekali, kekasih mbak Alona sigap menjaga disini" ujar suster tersebut sembari meninggalkan ruangan dengan mendorong meja yang berisikan beberapa kantong vitamin.


"Hah, dia adalah orang yang kesekian kali beranggapan seperti itu" gerutu Jack sambil mengusap wajahnya kasar.


"Maafkan aku" pinta Alona .


Ditengah komunikasi mereka berdua, saat itu ponsel Jack berdering dari balik saku celananya.


☎️ "Jack, apa kau mau pulang terlebih dahulu" ujar Neli memberikan pilihan.


☎️ "Nggak perlu mam, biar Jack saja yang akan berjaga disini" sahutnya.


☎️ "Apa kau tidak perlu mengganti bajumu Jack" sekali lagi Neli mempertanyakan kepentingannya.


☎️ "Tidak perlu mam"


☎️ "Baiklah, terimakasih sayang" jelas Neli penuh kasih sayang, bagi Neli Jack sudah seperti anak kandungnya sendiri.


"Pulanglah Jack, aku berjanji tidak akan lari dari sini" pinta Alona.


"Apa kau bercanda?, aku tidak akan pernah mudah mempercayai siapapun" imbuh Jack dengan tegas.


"Aku tahu, kau hanya mempercayai wanita itu saja" sahut Alona kembali.


Betapa kesalnya Jack, ketika seorang telah berani menilai dirinya dari satu sudut pandang saja. Tapi, hal itu bukanlah yang pertama kali ia dengar dari mulut Alona saja. Bahkan beberapa orang lainnya juga menganggap hal yang sama seperti Alona.


"Kau dengar apa yang suster tadi katakan, istirahat yang cukup jangan berkeliaran seperti itu"


"Apa kau mengerti" tuturnya geram.

__ADS_1


Bersambung ♥️


__ADS_2