
Sepanjang malam Jack tergaja untuk menjaga Alona. Saat itu tepat menjelang pagi, sekitar pukul 3 Alona yang telah tertidur pulas sudah terbangun.
Betapa terkejutnya ia, saat hendak menutup pintu kamarnya melihat Jack dari dalam kamar tengah tertidur di atas kursi tanpa penyangga.
"Jack"
"Apa dia semalaman disana"
"Kenapa dia setakut itu aku bertingkah aneh dirumah ini, padahal aku telah berjanji padanya akan tetap disini untuk melunasi hutang pada wanita itu" Dialog Alona pada dirinya sendiri.
Terbesit sebuah rasa kecewa dihatinya, ia beranggapan Jack masih saja berpihak pada Neli sampai dengan detik ini. Dan hal itu membuatnya sangat tidak nyaman ketika bersama dengan Jack.
"Ceklek ceklek" Suara pintu kamar yang telah dikunci rapat-rapat oleh Alona.
*
*
*
Hari telah semakin pagi, dan dibalik jendela tubuh Jack disinari oleh cahaya mentari pagi dan membuat tubuhnya berkilauan disana.
"Ah" ujar Jack yang terbangun akibat terpantul cahaya ke arah wajahnya.
"Sudah pagi rupanya"
"Hah, kenapa pintu kamarnya ditutup"
"Tok tok tok" panik Jack.
Dirinya begitu panik ketika melihat pintu Alona saat itu tengah tertutup padahal seingat Jack, semalam penuh pintu kamar itu terbuka lebar.
"Alona" teriaknya memanggil nama Alona sekencang mungkin .
"Yah Jack" sahut Alona sambil membuka pintu dengan lirih.
Rambutnya tergerai sempurna dan setengah basah. Wajahnya terlihat begitu fresh pagi hari itu, tapi tak dapat dipungkiri bekas-bekas luka itu masih samar-samar terlihat.
Jack menarik nafas panjangnya dengan lega ketika telah melihat Alona saat itu.
"Apa kau akan mengira diriku akan lari Jack"
"Hingga sepanjang malam dirimu sibuk berjaga didepan kamarku"
"Apa itu perintah wanita itu" cecar Alona dengan segala dalih tuduhan yang tak ada buktinya.
Jack terkejut mendengar segala ucapan yang keluar dari bibir Alona pagi itu, ia tak percaya jika Alona masih akan berpikir hal itu padanya.
"Yah, aku disini hanya untuk memastikan dirimu"
"Agar tidak lari" imbuh Jack dengan lemah.
Ia pun pergi begitu saja dari hadapan Alona sambil menelan kekecewaan pagi itu, sementara Alona masih tetap pada pendiriannya.
"Gelas ini, siapa yang membuatkan ini padaku" tanya Alona sendirian didalam kamar.
"Bi Ijah yang membuatkan ramuan itu untukmu" sahut Jean dari balik punggung Alona.
Dirinya terkejut atas kehadiran Jean yang secara tiba-tiba. Belum sampai mulut Alona terbuka lebar, Jean melanjutkan ucapannya disana.
__ADS_1
"Beruntung dirimu, karena dalam titik terendah pun masih ada orang yang memperhatikan serta menjagamu sebaik mungkin" jelasnya dengan wajah datar khas seorang Jean.
Alona masih saja tak mengerti kemana arah pembicaraan Jean kala itu, ia masih terdiam dan bertanya-tanya siapa sebenarnya seseorang yang telah dibahas oleh Jean.
"Tentu Jean, setidaknya aku masih beruntung disini. Ada dirimu dan bi Ijah yang masih mau perduli denganku"
"Aku sangat berhutang budi pada kalian berdua" terang Alona.
Melihat sikap polos Alona, Jean hanya menggelengkan kepalanya sambil melipat kedua tangannya didepan dada.
"Alona Alona "
"Kemari dan turunlah" teriak Neli dari bawah tangga.
"Turunlah, dia memanggilmu" perintah Jean.
Dengan wajah yang malas, Alona berjalan untuk menghampiri Neli.
"Yah mam" ucapnya dengan mengembangkan senyum dua jarinya.
Meski Alona begitu kesal dan teramat jengkel pada Neli, ia sanggup menutup rapat kecewa itu dengan baik.
"Ambilah ini"
"Dan segera pergilah bersama Jack hari ini untuk berbelanja di mall" imbuh Neli memberikan beberapa jumlah uang.
"Untuk apa mam?"
"Aku tidak begitu suka masuk kedalam tempat seperti itu" jelasnya ingin berkelit dari perintah Neli.
"Pergilah, dan belilah beberapa baju untukmu"
"Tapi mam" sahut Alona yang terhenti seketika.
"Aku tidak mau mendengar penolakanmu lagi, segera bersiap karena mereka akan menunggumu diluar" jelas Neli dengan mengangkat telapak tangannya diudara.
Wajahnya kembali masam ketika berbalik membelakangi Neli disana, dan Alona segera naik untuk kembali bersiap.
"Ck, gadis bodoh" sarkas Sarah dengan geram.
"Mami menyuruhnya untuk berbelanja, dan dia menolaknya"
"Apa dia waras?, wanita mana yang tak suka berbelanja" jelasnya dengan nada sinis.
"Bilang saja kau iri padanya" timpal Yola dari anak tangga yang sudah bersiap untuk menjumpai tamunya hari ini.
Make up nya begitu tebal, dan membuat warna kulitnya terlihat tak merata dengan sempurna.
"Jangan memulainya, ini masih terlalu pagi"
"Menjauhlah dariku, karena parfum mu membuat hidungku terasa sangat sakit "
"Aroma itu seperti membuat otakku berhenti dan rasanya ingin bertemu dengan ajalku" tutur Sarah dengan tatap mata jijiknya.
"SIALAN"
"Aku membelinya dengan harga yang cukup mahal, hidung mu saja yang primitif" terang Yola yang berjalan meninggalkannya.
Mendengar hinaan Yola, Jean tertawa sepuas mungkin untuk Sarah.
__ADS_1
"Berhentilah Jean, ini sama sekali tidak lucu" pintanya kesal.
"Oke oke" ucap Jean sambil tertawa lepas dan terus menekan perut serta menutup mulutnya yang sedari tadi tertawa terbahak-bahak.
Bugh
Sarah melemparkan handuk setengah basah miliknya ke arah wajah Jean, karena masih saja terus tertawa.
"Iyuuw" goda Jean dengan melemparkan handuk itu ke lantai.
Sedangkan disaat yang bersamaan, Alona telah turun dari tangga dan bersiap untuk segera berangkat .
"Hei, apakah kau memang setomboy itu" sapa Jean sambil menilai penampilannya.
Jean memperhatikan sejak awal dirinya datang hingga saat ini, Alona asyik memakai setelah kaos dan celana jeans saja.
"Begitulah" imbuh Alona dengan senyum kecil.
"Aku sangat nyaman dengan penampilan ku ini Jean" terangnya begitu gembira.
"Apa boleh buat, pergilah mereka pasti sudah bersiap untukmu" tutur Jean.
*
*
*
"Pagi mbak" sapa Pillow di halaman rumah yang sudah bersiap disamping mobil.
"Eh, mas" Alona terkejut.
"Hari ini saya yang akan mengantarkan mbak Alona" terang Pillow dengan senyum menyeringai.
"Bukankah wanita itu berkata jika Jack yang akan menemaniku hari ini"
"Kemana dia" gumam Alona.
"Aku tahu, pasti cari Jack ya" goda Pillow .
"Tidak" kelit Alona.
"Kalau begitu mari berangkat mbak, sebelum hari mulai siang" ajak Pillow.
Sedangkan dibalik jendela rumah Neli, Jack tengah mengawasi keduanya dari kejauhan. Hari itu, ia memang terluka dengan ucapan Alona sehingga dia memutuskan untuk tidak mengantar dirinya.
Selama perjalanan, Alona terus melamun sepanjang jalan. Tak dapat Alona pungkiri, bahwa otaknya terus memikirkan Jack sejak tadi. Sangat berbeda saat dirinya bersama Jack, Alona saat ini lebih memilih untuk duduk di bangku penumpang.
"Kita sampai mbak" tutur Pillow sambil melihat ke arah kaca.
"Oh, baiklah. Terimakasih mas"
"Mari kita masuk" ajak Pillow.
Keduanya bersamaan menuruni mobil dan segera memasuki kawasan mall.
Ketika hendak masuk kedalam sebuah salon langganan Neli, tiba-tiba saja pundak Alona ditepuk oleh seseorang dari samping. Melihat hal itu, Pillow yang berada dibalik punggung Alona tengah bersiaga mengambil sikap.
Bersambung ♥️
__ADS_1