
BRAKK
Suara pintu mobil ditutup Jack dengan tergesa-gesa.
Ia segera menarik tubuh Alona yang terkulai lemas untuk dibopong kedalam rumah sakit.
"Suster, suster, dokter"
"Cepatlah, aku membutuhkan bantuan kalian" teriaknya panik sepanjang lorong.
Mendengar teriakan Jack, salah seorang perawat segera meresponnya dengan cepat. Mereka kemudian mendorong tubuh Alona ke dalam sebuah ruangan, kali ini Alona tengah berada dirumah sakit yang sama dengan sang ibu.
"Tolong tenanglah pak, pasien akan segera kami tangani" ucap suster.
"Baiklah" sahut Jack sembari mengusap keningnya yang berkeringat dingin.
Beberapa waktu kemudian, Jack yang tersadar akan tingkahnya mulai mengatur nafasnya dengan baik.
"Huft, ayolah Jack ada apa dengan dirimu ini?" gumam Jack dengan mengepalkan kedua tangannya.
Sedangkan didalam ruangan, Alona terlihat dipasangkan sebuah alat bantu oksigen untuk dirinya. Di bawah alam sadarnya, Alona kini tengah bertemu dengan ayah dan ibunya.
"Ayah"
"Ibu, kenapa ibu disini bersama ayah. Bukankah ibu sedang dirawat?" tanya Alona kebingungan dengan apa yang tengah ia saksikan.
"Lantas, kamu sendiri sedang apa disini sayang?" tanya Mirna.
"Aa aku tak tahu Bu" jawab Alona bingung.
"Kembalilah nak, tempatmu bukan disini" ujar ayahnya yang mengenakan pakaian serba putih sama dengan sang ibu.
"Tidak, jangan katakan hal itu padaku. Aku tidak ingin meninggalkan kalian ayah ibu" sahut Alona dengan tangisan.
Alona menangis dengan isak tangis berkepanjangan saat itu, melihat hal itu ayah dan ibunya mencoba lebih dekat pada dirinya saat itu. Keduanya mengusap kepala Alona dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Dengarkan ibu sayang, Alona masih belum waktunya berada ditempat ini. Jalanmu masih panjang nak, selesaikan tugasmu dengan baik disana" pesan Mirna.
"Tapi, ibu seharusnya juga tidak disini kan?"
"Lalu kenapa disini Bu" cela Alona dengan sedih.
"Apa Alona lupa, jika Alona belum menjenguk ibu sama sekali. Semenjak Alona pergi, ibu sudah tidak bisa lagi melewati segalanya dengan mudah. Maafkan kami ya sayang ,sudah membuat hidup Alona sengsara" Lanjut Mirna.
Hanya dalam hitungan menit, keduanya perlahan pergi dan menghilang begitu saja dari pandangan Alona disebuah tempat yang asing dan putih. Secara bersamaan, ia pun kembali sadar sembari tersengal mengatur nafasnya dengan baik.
"Haaaah" Alona tersadar.
"Suster cepat berikan itu padaku" perintah dokter pada seorang perawat yang tengah menemaninya.
Menggunakan cahaya lampu kecil, dokter itu mengecek kedua bola mata Alona dengan baik. Ia ingin memastikan semua berjalan dengan baik.
__ADS_1
"Baguslah, dia bisa melewatinya. Dan kini telah kembali sadar" tutur dokter Priawan.
"Rasanya aku tak asing melihat gadis ini, bukankah dia adalah anak dari pasien kita yang berada diruangan intensif itu?" tanya Priawan pada perawat.
"Maafkan saya dok, saya lupa dengan wajah ibu ini" sahutnya lembut dibalik sebuah masker dan baju medisnya.
"Baiklah, atau mungkin aku salah orang" timpal Priawan.
Ketika Priawan membalikkan punggungnya dan hendak meninggalkan ruangan tersebut, Alona tiba-tiba menarik tangannya dengan kondisi ke dua mata yang mencoba terbangun dari tidurnya.
"Dok, bagaimana keadaan ibu saya?" tanya Alona dibalik alat bantu oksigen yang menempel diwajahnya.
Sontak Priawan terkejut mendengar suara Alona dibalik punggungnya.
"Ah, ibu?"
"Apa kau sudah bisa mengenaliku?" tanya Priawan padanya.
"Tentu aku mengingatmu dengan baik dok, anda yang merawat ibuku bukan?" terang Alona terbata-bata.
"Jadi benar, kau gadis itu"
"Kemana saja kau nak, kemarin kami berusaha mencari keberadaan dirimu dengan menelpon dan mendatangi rumahmu. Tapi usaha kami tak membuahkan hasil sedikitpun" ujar Priawan sedih.
Dari tatapan mata yang masih remang dan belum terlihat jelas, Alona dengan sadar mendengar suara Priawan begitu bergetar ketika terhenti di kalimat ibunya.
"Ada apa dengan ibuku dok?"
"Ia telah meninggal dunia tadi malam nak, maafkan kami" terangnya pilu.
"Tidak, tidak mungkin kan dok?" sahut Alona tak percaya.
Air matanya kali ini membasahi wajahnya dengan cepat, dan saat ini adalah sebuah kenyataan yang tengah ia rasakan.
"Yah, maafkan kami" imbuh Priawan.
"Lantas dimana ibuku dok?"
Tanya Alona dengan mengayunkan tangan Priawan disana.
"Saat kami pergi ke rumah kalian, kami bertemu dengan paman dan bibimu disana. Dan saat itu juga, merekalah yang mengurus segalanya untuk ibumu diwaktu terakhirnya" ujar Priawan mengenang almarhumah Mirna.
Tangisnya semakin menjadi saat itu, dan reflek tangan Alona mencabut alat bantu oksigen miliknya dan berteriak sekencang mungkin.
"Ibuuuuuuuu" teriak Alona memenuhi seisi ruangan.
"Tenanglah nak, tenangkan dirimu" pinta Priawan mencoba memberi ketenangan.
Perawat yang sejak tadi berdiri tak jauh dari keduanya juga sigap untuk membantu Alona disana, perawat itu mencoba memasangkan kembali alat bantu oksigenya kembali.
Tapi, Alona melakukan pemberontakan seketika.
__ADS_1
"Panggil saja keluarganya diluar sus, aku berharap mereka dapat memenangkan dirinya saat ini" perintah Priawan.
"Baik dok" sahut perawat wanita tersebut.
*
*
*
"Keluarga nona Alona" panggilnya dibalik masker putih miliknya.
Jack yang sudah menunggu dengan hati gelisah, berdiri seketika.
"Yah, saya. Bagaimana keadaannya sus?" tanya Jack.
"Mari silahkan masuk pak, pasien membutuhkan anda" terangnya singkat.
"Hah?, membutuhkan ku. Ada apa denganya" gumam Jack.
Terpaksa ia mengikuti permintaan suster tersebut dan memasuki ruangan Alona.
"Anda suaminya?" tanya Priawan.
"Hah, bukan dok bukan saya" elak Jack dengan wajah terkejut.
"Tolong temani dia saat ini, hatinya begitu terpukul ketika mengetahui ibunya telah tiada" tutur Priawan.
Jack kemudian iba melihat kondisi Alona saat ini, ia membayangkan jika perasaan gadis itu sangat berantakan dan penuh emosional.
Ia menatap Alona dengan lekat, dalam tatapan mata Jack saat ini Alona begitu miris dengan segala kondisinya.
"Hei, aku tak tahu harus berbicara apa denganmu"
"Tapi tolonglah, aku sangat mengerti tentang semua perasaan mu hari ini" tegas Jack yang berada disampingnya.
Mendengar suara Jack, Alona menatap wajah Jack dengan lesu. Alona yang semula terlengkup dengan tangannya diatas tempat tidur, kini beralih memandang lelaki dihadapannya.
Dengan cepat Alona menarik kaos Jack dan memeluknya erat-erat. Tanpa bersuara, ia hanya menumpahkan seluruh derai air matanya disana.
Tak ada maksud apapun dari lubuk hatinya yang paling dalam, Alona hanya membutuhkan ketenangan saat ini tanpa harus dimengerti.
Perlahan tangan kaku Jack menyentuh kepalanya dengan penuh keraguan, tapi hal itu tetap ia lakukan meski canggung dibuatnya.
"Tenanglah" pinta Jack lembut.
Makin kuat pula tangisan Alona dibalik kaos hitam Jack , baju tipis Jack pun basah akibat air mata Alona yang tumpah disana.
"Aku kehilangan ibuku, aku kehilangan separuh hidupku" erangnya dengan wajah kemerahan.
"Aku mengerti , sangat mengerti itu"
__ADS_1
Bersambung ♥️