
"Aku tidak mau tahu, tamu itu meminta uangnya untuk dikembalikan secepat mungkin. Apa aku gila, harus membayarnya kembali?"
"Cih, jangan harap!"
"Kau harus tanggung kerugian itu sendiri Alona!"
Masih dengan segala kengototannya, Neli bersikeras agar Alona yang menutup semua kerugian yang ia dapati.
"Aku yang akan bayar seluruh uang itu !" sambung King .
Dengan penuh ketegasan, King menjanjikan sejumlah uang yang telah Broto bayar kepada dirinya. Neli pun berbalik memberikan sebuah tepukan tangan berulang kali bagi sang pahlawan kesiangan baru milik Alona.
"Kau memang gadis hebat!"
"Pelet apa yang kau pakai, hingga banyak lelaki bertekuk lutut dihadapanmu hah?"
"Tapi itu tak masalah bagiku, jika itu menguntungkan kenapa tidak!"
"Kau telah menunjukkan jati dirimu yang sesungguhnya sayang!"
Seketika Neli membuang wajah Alona yang tengah ia angkat dengan bangganya.
Tangan Jack kembali mencengkram sekuat mungkin disana, lagi-lagi ia tak dapat berbuat banyak untuk istri yang baru saja dipersuntingnya hari ini.
*
*
*
Malam pertama.
Kini keduanya terasa asing didalam kamar, bahkan Jack masih duduk terdiam di ujung ranjang miliknya. Sedangkan Alona bersiap untuk membersihkan dirinya didalam kamar mandi.
Tiba-tiba saja ponsel Alona berdering berulang kali disebuah meja kecil yang tak berada jauh dari meja rias.
__ADS_1
"Alona." panggil Jack lirih.
Pemuda itu berusaha membenarkan panggilannya berulangkali dengan menggerutu tak jelas.
"Sayang,"
"Beb."
"Arrggh!"
"Panggil saja semaumu Jack!" protes kesal Jack terhadap dirinya sendiri.
Ia pun memutuskan untuk mengetuk pintu kamar mandi dan memanggil nama Alona disana. Tapi sayangnya, gemericik air dibalik pintu itu tak dapat membuatnya mendengar jelas ucapan Jack.
"Aku tak dapat mendengarmu dengan baik Jack!" teriaknya dengan keras.
"Ck." Jack berdecak sembari memegangi ponsel istrinya dan terus memandangi sebuah nomor tanpa nama tersemat disana.
Setelah usai, ponsel tersebut berdering kembali hingga membuat Jack kesal. Dan membuatnya berteriak kembali.
"Angkat saja!" teriakan kembali Alona tak kala kerasnya dari Jack , setelah ia mendapati Samad suara suaminya.
Dengan menarik nafasnya sekuat mungkin, Jack berusaha mengatur suaranya agar tetap terlihat tenang.
☎️"Katakan ada apa menelponnya?" sahut Jack diujung teleponnya.
☎️"Siapa kau beraninya membentak ku?"
Suara pria dengan nada serak tengah Jack dapati diujung sana.
☎️"Mana wanita itu, ia sama sekali belum membayar hutang-hutangnya padaku sekalipun!"
☎️"Yah hutang, hutang ayahnya masih belum selesai denganku!"
☎️"Bilang padanya, aku tak bisa memberikan waktu banyak lagi ."
__ADS_1
Imbuhnya seketika dan mematikan panggilan telepon tersebut.
Alona yang telah usai membersihkan dirinya, kini keluar dari kamar mandi hanya terbalut seutas handuk putih yang memiliki panjang minim. Rambutnya yang basah tergerai sempurna.
Ia melihat bahwa wajah Jack tengah masam disana, suami yang ia nikahi dengan cara kilat hanya duduk mematung.
Alona pun mendekati Jack dengan kain yang begitu minim membalut tubuhnya, ia berjalan perlahan dan kini tepat dihadapan suaminya. Aroma dari sabun dan shampoo yang keluar dibalik tubuh Alona, seketika menyeruak jauh kedalam pikiran Jack .
Pemuda itu terlihat menatap satu persatu lekukan tubuh sang istri yang hampir tak memiliki jarak lagi dengannya. Dari ujung rambut sampai terhenti tepat didada Alona.
"Jangan pasang wajah mesum begitu!"
Ujar Alona yang seketika membubarkan seluruh lamunan terindah Jack.
"Padahal aku suaminya." gerutu Jack sambil mengayunkan kakinya ditepi ranjang.
"Jack, aku masih bisa mendengarmu dengan jelas disini." jelas Alona yang tengah memeriksa ponsel miliknya. Yang sama sekali tak menghiraukan kicauan sang suami.
Wanita itu terus menggulirkan jemarinya untuk memeriksa nomor baru yang tersemat disana.
"Siapa dia?"
"Dia, siapa?" tiru Jack dengan membalikkan ucapan Alona.
"Jack..." seru Alona dengan melingkarkan kedua tangannya ke atas pinggang untuk memprotes.
"Biasa, masalah uang."
"Para algojo itu selalu mengejarmu dimanapun."
"Dan sialnya aku!" Jack menarik sudut bulu alisnya naik ke atas sambil melepaskan sepatu miliknya.
Alona masih menatap keheranan.
"Sebagai suami mu, aku sama sekali tak punya daya dalam hal itu. Aku selalu kalah dengan materi bukan?" jelasnya semakin rinci dihadapan Alona.
__ADS_1
Bersambung ❤️