Kidung Cinta Alona

Kidung Cinta Alona
Bab 12


__ADS_3

"Selamat pagi, hari ini sudah boleh pulang ya"


"Jaga kesehatan baik-baik ya mbak" tutur seorang suster yang menemani Alona selama dirumah sakit.


Jack yang tengah tertidur disebuah sofa, mendengar penjelasan itu dengan spontan bangun dari tidurnya.


"Baiklah, mari kita pulang" sambutnya dengan kedua mata yang masih sangat berat menahan kantuk.


"Akh" jerit Alona ketika jarum infus yang berasa ditangannya ditarik perlahan.


"Apa semua sudah selesai?" tanya Jack antusias.


"Nah, sekarang sudah beres. Tunggu sebentar ya, pihak administrasi telah mengurus kepulangan mbak Alona hari ini" imbuhnya memberi penjelasan.


Setelah suster tersebut meninggalkan kamar Alona, Jack terlihat mengemasi seluruh barang milik Alona saat itu.


"Kau tidak sabar untuk menyerahkan diriku padanya Jack?" ucap Alona lirih dengan mata mengiba.


Sejenak kedua tangan Jack terhenti dan mendengarkan baik-baik ucapan Alona.


"Aku hanya menjalankan tugasku" tuturnya.


"Aku yakin, tugas itu tak pernah ada di hatimu kan. Kau hanya terpaksa dengan semua ini" sahut Alona .


"Bayangkan jika aku adalah adikmu Jack, apa kau setega itu akan menyerahkan adikmu kedalam lubang hitam" tanya Alona memberikan perbandingan.


"Beruntungnya aku, kau sama sekali bukan adikku" sahut Jack santai.


Kali ini, tangannya tengah menjinjing tas milik Alona yang berisikan beberapa baju miliknya untuk dibawa dan dimasukkan ke dalam mobil.


"Tunggu diam-diam disini"


"Aku akan letakkan milikmu ini dimobil" perintah Jack pada Alona.


Ia pun berjalan ke arah mobil, dan membuka bagasi mobil itu untuk meletakkan tas milik Alona. Setelah selesai, ia kembali ke kamar Alona dan mengajaknya untuk segera pergi dari rumah sakit.


"Cepatlah, aku akan menunggumu diluar" pinta Jack pada Alona.


Tapi, panggilannya sama sekali tak mendapatkan respon dari Alona saat itu. Dengan cepat, Jack yang tengah sigap memeriksa kembali kondisi kamar Alona yang telah kosong.


"Hah"


"Dimana dia"


"Kenapa kosong" ujar Jack kebingungan.


Wajahnya mulai menegang, bersamaan dengan itu degup dadanya naik turun akibat menahan amarahnya.

__ADS_1


"Alona, Alona" teriaknya didalam seisi kamar.


Jack memeriksa seluruh ruangan satu persatu dengan baik, hingga tak ada satupun tempat yang luput dari pandangannya saat itu. Saat ini, hanya tersisa kamar mandi yang belum ia periksa.


"Ceklek, ceklek" gagang pintu kamar mandi tersebut di naik turunkan dengan cepat olehnya.


"Kenapa terkunci" terangnya.


Tanpa berlama-lama, ia pun mengeluarkan seluruh tenaganya untuk mendobrak pintu kamar mandi itu.


BRAKK


Ketika pintu kamar mandi itu telah berhasil dibuka dengan paksa. Bersamaan dengan terbukanya pintu tersebut, tubuh Alona tiba-tiba terjatuh akibat dorongan daun pintu yang begitu keras. Tapi betapa beruntungnya Alona, karena Jack yang begitu sigap menangkap tubuhnya yang hendak terjatuh dengan sempurna.


"Bruuk" bunyi tubuh Alona yang terjatuh dalam pelukan Jack.


Kejadian itu terjadi dalam hitungan menit, benar saja degup jantung Jack memuncak 10 kali lipat dari tadi. Entah mengapa , setiap kali ia bersentuhan fisik dengan Alona. Hal aneh itu selalu terjadi, sebuah perasaan yang tak pernah di anggap sama sekali oleh Jack.


"Ah, permisi. Maafkan saya, hanya ingin mengantarkan resep obat ini untuk mbak Alona" terang suster yang tiba-tiba menerobos pintu kamar yang tengah terbuka lebar.


Sambil menutup kedua matanya, dan memberikan cela sedikit di ujung jarinya, suster itu mengintip adegan romantis tersebut dari sela terkecil.


Keduanya tersadar, dan Jack dengan refleks membangunkan tubuh Alona dengan cepat.


"Maafkan kami sus" imbuhnya dengan pipi kemerahan.


Sementara Jack sibuk mencari alasan dengan meluruskan kembali bajunya yang sedikit kusut.


"Tolong minumlah obat ini sampai habis, agar tenagamu kembali pulih nantinya" jelas suster memberikan sekantong kecil yang penuh terisi obat-obatan.


"Baiklah sus" sahut Alona patuh.


Ketika dirinya hendak menyisir rambutnya didepan cermin, suster mengetahui bahwa kasa yang telah membalut tangannya dengan baik oleh plaster tengah mengeluarkan darah begitu banyak.


"Tolong kemarikan tangan anda, saya akan menggantikan kasa itu" ujarnya sembari menampilkan wajah yang tidak nyaman ketika melihat cairan darah yang mengalir deras .


"Aku sama sekali tidak merasakan sakit sus" imbuh Alona santai.


"Memang , mungkin darah ini keluar akibat genggaman tangan suami anda yang terlalu erat tadi padamu" tuturnya kembali.


"Suami?"


"Tolonglah, kami bukan pasangan suami istri sus" jelas Alona.


"Hahaha, memang seperti itu. Banyak pasangan muda yang menutupi hal itu dari khalayak publik" imbuh suster dengan tenangnya.


"Baiklah, karena semua administrasi telah di bayarkan hingga lunas. Kalian sudah boleh pulang segera"

__ADS_1


*


*


*


Kali ini keduanya sudah berada dalam mobil, dan keduanya duduk bersebelahan. Jack yang sedari tadi melihat Alona kesusahan menarik sabuk pengaman miliknya, lantas memberikan bantuan tanpa Alona meminta pada dirinya.


"Kemarikan" kata Jack.


"Ceklek" sabuk pengaman milik Alona telah melingkar sempurna.


"Terimakasih" imbuh Alona sambil berpegangan pada sabuk pengamannya.


Perjalanan pulang waktu itu, mereka tempuh cukup lama. Karena kepulangan keduanya saat itu, bersamaan dengan sebuah pawai yang tengah memadati jalanan.


Didalam pawai keagamaan itu, terlihat beberapa penduduk yang mengikuti acara tersebut dan mengakibatkan mengular hingga ke beberapa jalanan.


"Bisakah mereka melakukan satu hal yang berguna" protes Jack dengan wajah datarnya.


Melihat Jack yang tengah tak nyaman dengan situasi ini, Alona mengulurkan sebatang coklat miliknya 2 hari yang lalu dalam tasnya.


"Makanlah ini, bisa membuat hatimu lebih tenang dan gembira" tuturnya.


"Tenang, gembira" seru Jack dengan menaikkan satu bulu alisnya ke atas.


"Tentu, cobalah" pinta Alona.


Tetapi Jack tidak langsung mengambil coklat itu untuk dimakan, ia hanya memandangi sebuah coklat panjang yang berbungkus kertas merah.


"Selama ini kan kau tidak pernah keluar, dari mana kau dapatkan coklat itu?" tanya Jack curiga.


"Ini coklatku 2 hari yang lalu, aku selalu menyimpannya dalam tasku. Bisa untuk mengganjal perutku yang tengah lapar juga, disaat jam kerja" jelas Alona polos.


"Coklat kadaluwarsa itu mau kau berikan padaku, apa dirimu sengaja ingin meracuniku?" terangnya tegas.


"Ayolah, ini hanya coklat 2 hari yang lalu. Dan semua masih aman Jack" lanjut Alona.


"Tidak" tolak Jack.


Saat pemberiannya ditolak oleh Jack, Alona membuka bungkus coklat itu dan mengarahkan coklat itu ke dalam mulutnya untuk dimakan. Alona yang sangat menyukai coklat, tidak mau menyiakan jika ada sebuah coklat yang tersisa.


PLAKK


Tepisan tangan Jack mendarat sempurna dihadapan wajahnya, dengan sigap Jack menepis batang coklat yang hendak dimakan oleh Alona. Dan akibat ulahnya, coklat itu telah terjatuh disebelah mobil tepat disamping Alona.


"Jack" protes Alona dengan keras.

__ADS_1


Bersambung ♥️


__ADS_2