
Masih dengan hati yang terluka dan begitu sakit, Jack lebih memilih untuk meninggalkan istri dan anaknya dikamar. Ia memilih untuk menghindar sejenak saat itu, karena tak ingin melanjutkan perdebatan yang takkan pernah berujung.
"Jack, tolong jangan bawah mobil itu pergi !" teriak Pillow yang baru saja usai mengelap bersih mobil sedan hitam yang akan dipakai oleh Neli sebentar lagi.
"Akh, sial Jack. Aku pasti akan dimarahi bos!" gerutu Pillow sambil melempar sebuah kanebo basah di atas tangannya .
Benar saja, Neli yang sudah siap untuk pergi hari itu tiba-tiba keluar dari balik pintu. "Mana mobilnya?"
Pillow begitu bingung harus menjawab apa kali ini, sementara mata Neli sudah terbuka sangat lebar dihadapannya.
"Jack membawanya pergi untuk di isi bahan bakar bos!" serunya yang masih membela Jack dengan kepala tertunduk.
"Baiklah , aku akan menunggunya didalam." timpal Neli yang mereda seketika mendengar nama Jack diucapkan oleh Pillow.
Dengan membuang nafasnya , ia terasa lega setelah bisa menghentikan amarah Neli.
"Selamat..." imbuhnya sambil terus mengusap dadanya berulang kali.
*
*
__ADS_1
*
Di lain tempat, Jack yang kini tengah mengendarai mobil sedan dijalan raya memacunya secepat kilat. Bahkan dalam diamnya, ia masih saja terus memikirkan semua perkataan Alona.
Kata-kata menyakitkan itu terus terngiang memenuhi seluruh isi kepalanya tiada henti.
Pemuda yang dulunya dikenal paling dingin bahkan begitu sulit perasaannya ditembus oleh para wanita, kini telah luluh oleh Alona. Hatinya yang dulu beku, kini menjadi lebih sensitif jika bersinggungan dengan istrinya.
"Kau bodoh Jack, kau bodoh!" teriaknya didalam mobil dengan terus memukuli wajahnya berulang kali.
Ada rasa depresi dan rasa putus asa saat ini yang tengah ia rasakan. Semuanya berkecamuk menjadi satu disana.
Hingga Jack pun tak bisa lagi mengontrol emosinya disana, ia memacu kecepatan mobilnya diatas rata-rata dan menerobos lampu merah tengah kota.
Dan salah satu dari korban tersebut adalah mobil Jack, hantaman dari badan container yang begitu besar hingga melaju begitu cepat membuat Jack tak bisa menghindari kecelakaan tragis itu.
Mobil Jack bahkan sempat terseret jauh tak terkendali olehnya, dan berakhir disebuah badan truk lainnya yang tengah terparkir ditepi jalan. Mobil sedan itu terlihat ringsek tak tersisa, bahkan mengeluarkan kepulan asap yang begitu pekat dari dalam mobil .
Tak terdengar lagi suara Jack disana, dan hanya tersisa sebuah badan mobil yang mengenaskan.
"Astaga ... cepat tolong pria itu disana!" teriak seorang bapak-bapak pemilik toko kelontong tepi jalan.
__ADS_1
Ia sudah memperhatikan kaca depan mobil tersebut, bahwa terlihat dengan jelas ada seorang korban lelaki didalamnya.
Para pejalan kaki pun turut membantu warga sekitar untuk mengambil Jack dari badan mobil yang ringsek. Karena jika mereka sampai menunggu pertolongan dari polisi datang, kemungkinan Jack akan semakin parah didalamnya.
"Cepat buka, buka sabuknya!" teriak samar-samar lelaki paruh baya yang dari awal memperhatikan Jack.
Saat itu, tubuhnya telah berhasil dikeluarkan dari dalam mobil. Kondisinya begitu mengenaskan, kepalanya penuh dengan kucuran darah. Bahkan lengan tangan Jack hampir terputus . Dan kini dia telah tak bernyawa disana. Selang satu satu jam kemudian, jenazah Jack pun dibawah menuju rumah sakit dengan ambulance.
*
*
*
"Apa!"
"Tidak , tidak mungkin pak!" teriak Neli histeris begitu mengetahui kabar itu dari polisi.
Wanita yang selama ini menyayangi Jack bertahun-tahun, merasa kehilangan yang begitu mendalam dengan kepergian Jack.
Disaat bersamaan, Jean dan Sarah yang baru saja hendak menemui dirinya begitu bingung bagaimana cara menenangkan hati Neli yang berulang kali berteriak histeris.
__ADS_1
"Kita harus beri tahu wanita itu juga Jean!" imbuh Sarah dengan bingung.
Bersambung ❤️