
King mencoba melangkahkan kakinya dan hendak mendekat pada Alona, tapi ketika kaki itu terangkat ia pun segera mengurungkannya setelah melihat Jack lebih dulu menghampiri Alona.
Siapa sangka Jack memiliki keberanian yang begitu luar biasa untuk mengatakan segalanya dihadapan Neli.
"Aku akan menikahi Alona mam!" ujarnya dengan tegas sambil mengeratkan tangannya pada tangan Alona.
Neli pun terhenti tepat pada anak tangga ke tiga , dan membalikkan badannya untuk melihat ke arah Jack dengan sempurna.
Seolah tak percaya jika yang berkata tadi adalah Jack, Neli mencoba menuruni kembali anak tangga tersebut sambil berjalan perlahan dengan wajah penuh tanda tanya.
"Katakan sekali lagi."
"APA KAU GILA ?" Sentak Neli berkelanjutan sambil mengarahkan kedua matanya kepada kedua tangan mereka.
Neli mengelilingi keduanya sambil terus berputar-putar disana, berharap bahwa Jack mampu menarik segala ucapannya.
Bukan hanya Neli, bahkan King juga sangat terkejut dengan kenyataan ini. Dunianya seakan runtuh, hati yang telah ia jaga dengan susah payah kini harus terpatahkan seketika.
"Kau diam Jack?"
"Apa ini pertanda jika memang ucapanmu adalah keseriusan!"
"Yah mam ..." sahutnya dengan nada penegasan.
Mata Alona yang sejak tadi berderai air mata tak bisa berkata apapun lagi untuk kali ini. Laki-laki yang selalu terkesan cuek pada dirinya sejak pertama kali mereka bertemu, kini dengan lantang maju untuk membela harga dirinya.
Seketika bayangan itu menghantui pikirannya dan Alona teramat merasa bersalah pada Jack.
Ia selalu mengatakan bahwa Jack hanya patuh dan tunduk kepada Neli, dan Jack tak pernah memikirkan perasaan orang lain.
*
*
*
"Baiklah Jack, jika memang ini keputusanmu aku tak bisa berkata apapun."
"Yang harus kau ingat, jika kalian sudah berpijak dirumah ini takkan pernah ada yang bisa keluar dari sini dengan mudahnya!"
"Kau bisa menikah denganya, apapun itu!"
"Tapi kalian akan menetap disini dan menghasilkan uang untukku ."
Cecar Neli bertubi-tubi, dengan nada pengancaman. Ia kecewa, bahkan juga terluka. Anak yang ia didik sedemikian rupa, dan teramat ia sayangi kini berbalik menggigit Neli .
Kini Alona pun berbalik menatap wajah Jack dan kedua bola matanya, disana ia sama sekali tak mendapati Jack tengah berbohong. Mata itu mencerminkan ketulusan, bahkan sorot matanya begitu teduh bagi siapapun yang menatapnya saat itu.
"Jack ..." panggil Alona dengan suara seraknya.
Jack menoleh dan berdehem padanya.
__ADS_1
"Terimakasih,"
"Karena telah ..." sahut Alona yang seketika terhenti diujung jari Jack.
Jarinya menempel tepat di ujung bibir Alona, dan ia pun mengatakan segalanya disana.
"Aku tidak membantumu kali ini," bisik Jack lirih sambil memegang kedua tangan Alona.
"Lalu ?"
"Tapi kali ini, aku benar-benar mencintaimu. Apakah ada balasan yang setimpal untuk seluruh perasaan ku ini padamu?"
Alona menatap wajah tulus itu dengan keheranan, matanya mencoba menerawang jauh kedalam mata Jack.
"Apa dirimu bercanda Jack?" sangkalnya sekali lagi, untuk mencoba memastikan hatinya juga.
Jack menggeleng.
Tanpa berkata lagi, Alona segera menarik tubuh Jack untuk segera ia peluk dengan erat dan menumpahkan kembali semua air matanya yang tersisa disana.
Hari itu, semua pernyataan keduanya sama-sama disaksikan oleh King dan Martha yang masih terdiam di ujung ruangan lainnya.
"Bugh bugh bugh ..." King bertubi-tubi menghantam tembok rumah itu berulang kali.
King ingin meluapkan segala emosinya yang tertahan diujung hatinya, dan tertahan diujung lisannya.
"Ada apa denganmu, hentikan king ..."
"LEPASKAN!" bentak King dengan kerasnya.
Bahkan dengan tidak sadar, King membuat tubuh Martha hingga tersentak ke lantai. Ia pun tak perduli dan berlalu begitu saja. King juga melintas dihadapan Alona dan juga Jack dengan diam seribu bahasa.
"King ..." sapa Alona lirih.
Melihat itu, Jack mengeratkan tangannya pada pundak Alona. Dan seketika ia tersadar bahwa tengah ada Jack yang berada disampingnya kini.
Keesokan harinya .
Ijab qobul itupun terjadi, dan pernikahan kilat tengah mereka selesaikan hari itu juga.
Senyum merekah diwajah Jack begitu nyata terpampang, dengan mengenakan peci bewarna hitam dan setelan kemeja putih dan celana hitam Jack terlihat begitu tampan.
Pernikahan itu hanya mereka jalani berdua, beserta Neli dan Jean yang turut menjadi saksi disana.
Tak ada pendampingan kedua orang tua dari kedua belah pihak pengantin , tapi acara berlangsung begitu khidmat .
Flashback Alona, satu jam sebelum acara dimulai.
"Apa ini Alona, kalian mencurangi ku!" protes Jean yang tengah merias dirinya di rumah Neli.
"Harusnya akulah orang pertama yang mengetahui segalanya."
__ADS_1
Jean memprotes keras hubungan yang terjadi diantara keduanya yang begitu mendadak. Karena Alona sejak tadi hanya terdiam, Jean lantas memutar kursi rias milik Alona sambil melipat kedua tangannya dihadapan Alona.
"Katakan, apa dia telah ..." goda Jean .
"Tidak." pungkasnya.
"Dia begitu baik Jean, bahkan mungkin perasaan itu hanya ia buat-buat untuk menyelamatkan ku saja." terang Alona.
"Kau tau Jean, meskipun pekerjaan kita dianggap orang lain hina bahkan tak jarang pula kita diremehkan. Tapi kita tetap berhak menjaga harga diri kita bukan?"
Ceritanya sambil berderai air mata, karena memang malam itu Alona sama sekali tak mengiyakan perasaan Jack dengan sebuah jawaban.
Tangan terampil Jean seketika mengangkat sebuah tisu untuk menyeka air mata Alona yang sudah membasahi kedua pipinya. Jean melirik jam tangan hitam yang melingkar di tangannya dan kembali membenarkan riasan Alona dengan cepat.
"Jangan menangis, atau usahaku akan sia-sia belaka nanti." ejek Jean sambil terus memoles riasan.
"Satu hal yang harus kau pahami benar-benar dalam hatimu Alona."
"Jika seorang lelaki tengah mengatakan hal itu dengan lantang, terutama didepan orang lain. Maka sudah dipastikan ia takkan pernah main-main dengan ucapannya itu!" tegas Jean.
Sambil menata gaun putih Alona yang menjuntai panjang tapi terkesan simpel dan elegan.
*
*
*
Alona pun meraih tangan Jack untuk di ciumnya pertama kali.
"Nyonya Jack?" godanya dibalik tangan Alona yang tengah tertunduk meraih tangannya.
Penghulu itupun mengulurkan dua buku nikah untuk keduanya .
"Jonathan Prawira," eja Alona sambil menyipitkan kedua matanya memandang Jack .
"Jadi ini namamu yang sebenarnya?" timpal Alona kembali dengan penuh teliti menatap sebuah buku kecil bewarna hijau.
"Tak begitu buruk bukan, untuk mendampingi seorang wanita yang bernama Alona Wilhelmina?" ejeknya kembali.
Setelah asyik menggoda satu dengan yang lain, kini Jean berdiri dan menggoda keduanya.
"Tadi sebelum keluar dia udah nangis Jack!"
sambil bersandar dipundak Alona.
"Tolong jaga dia sebaik mungkin, aku takkan pernah meragukan dirimu!" pungkas Jean .
Kini keduanya telah resmi menjadi sepasang suami istri, tapi bukan berati masalah akan selesai sampai disini.
Keduanya akan mengalami ujian berat berikutnya selama berada dirumah bordir milik Neli.
__ADS_1
Bersambung ❤️