
adit dan juga silvi pun menunggu di depan pintu UGD menunggu dokter keluar dari ruangan itu cukup lama mereka menunggu namun belum juga ada kabar tentang keadaan satria saat ini
"sayang kamu sudah ngabarin orangtua nya satria belum ??" tanya silvi
"oh iya aku lupa, bentar ya sayang aku telfon dulu" adit pun menjauh dari silvi dan menghubungi kedua orangtua dari satria
"kring kring kring" adit mencoba menghubungi ibu satria
"hallo tan ini aku adit tan"
"iya dit ada apa tumben kamu telfon tante ??"
"iya tan ini adit mau ngabarin kalau....."
"apa dit ?? kok ngomong nya nggak di lanjutin ??" semakin penasaran dengan apa yang akan di sampaikan oleh adit
"ini tan satria kecelakaan sekarang ada di rumah sakit ****** tante segera kesini ya ?"
"apa kenapa bisa dia kecelakaan dia dit kenapa ??"
"nanti adit jelasin disini tan sekarang tante sama om segera kesini aja"
"baiklah tante sama om akan segera kesana" ibu satria menutup telfon nya
adit pun berjalan menghampiri silvi kembali dan menunggu di depan pintu UGD yang sedari tadi belum juga terbuka dan belum ada kabar soal keadaan satria sampai saat ini
tak lama kemudian dokter pun keluar dari ruang UGD lalu di hentikanlah oleh adit
"dok dok, gimana keadaan satria ??"
"maaf, mas ini siapa nya pasien ya ??"
"saya sahabat nya, gimana keadaan satria dok ??"
"saya perlu bicara dengan keluarga nya, apa mereka ada ??"
"maaf dok kedua orangtua nya satria masih dalam perjalanan kesini"
"baiklah nanti jika sudah sampai tolong sampaikan saya menunggu di ruangan saya"
"baik dok"
setelah percakapan itu karna merasa adit belum juga mendapatkan kabar dia pun masih terus mondar mandir di depan pintu UGD
dan akhirnya suster pun juga keluar dari ruangan itu lalu di cekal lah oleh adit untuk dia bisa bertanya soal keadaan satria
"sus gimana keadaan teman saya sus ??"
"maaf pak biar dokter saja yang bicara" suster meminta maaf kepada adit karna tidak bisa memberi informasi lalu pergi meninggalkan adit dan juga silvi
__ADS_1
"ihh kenapa nggak ada kabar berita sih bikin cemas aja"
cukup lama mereka menunggu kedua orangtua satria mereka menanti sambil bercampur rasa cemas yang berlebihan
tak lama kemudian kedua orangtua satria pun datang menghampiri adit dan juga silvi yang berada di depan UGD
"adit gimana keadaan nya satria ??" suara perempuan memecah keheningan
"tante, syukurlah tante sudah datang"
"gimana keadaan nya satria dit ??" tanya ayah satria
"maaf om tante aku sendiri juga belom tau soalnya dokter tidak ada kata apa apa sama aku" kata kata dari adit pun membuat kedua orang tua satria bingung dan cemas akan keadaan satria saat ini
" terus sekarang dokter ada dimana ??"
"dokter ada di ruangannya om tante, tadi juga titip pesen kalo tante sama om sudah sampai di suruh langsung ke ruangan nya"
"ok baiklah, terimakasih ya dit"
"iya sama sama om" kedua orangtua satria pun pergi meninggalkan adit dan menuju ke ruangan dokter yang menangani satria
mereka berjalan menuju ruang dokter tersebut dan setelah sampai mereka pun segera masuk dan menanyakan perihal keadaan anak nya sekarang
"permisi" ayah satria mengetuk pintu ruangan itu
"iya silahkan masuk" jawaban dari dalam terdengar
"iya silahkan duduk pak buk, maaf sebelumnya apa kalian adalah kedua orangtua satria ??"
"iya dok, dan maksud kami kesini mau menanyakan perihal keadaan anak kami dok ??"
"oh, baiklah saya jelaskan ya pak buk sebentar saya ambil hasil ronsen dan CT scan nya"
"semoga keadaan satria tidak ada yang serius ya yah"
"semoga bu" mereka terlihat cemas sekali
"baiklah buk pak ini adalah hasil pemeriksaan dari anak bapak dan juga ibu, disini terlihat ada pembengkakan di otak karna kerasnya benturan itu"
"jadi gimana dok ?? anak kami nggak kenapa napa kan dok ??" tanya sang ibu dengan cemas
"kemungkinan besar anak ibu dan juga bapak akan mengalami amesia/hilang ingatan"
"tapi bisa sembuhkan dok ??"
"bisa tapi harus di bantu untuk mendapatkan ingatannya kembali secara perlahan"
"baik dok kami akan berusaha untuk mengingatkan nya dengan apa yang dia lupakan, kalau begitu terimakasih dok" kedua orang tua satria pun beranjak dari duduk nya dan ijin keluar dari ruangan dokter
__ADS_1
"sama sama pak buk, semoga satria bisa lekas pulih"
"aamiin"
mereka pun keluar dengan wajah yang begitu sangat amat muram, mereka menuju dan menghampiri adit dan juga silvi yang masih menunggu di ruang tunggu
"adit" panggil ibu dari satria
"iya tante, gimana tan keadaan satria ?? baik baik saja kan ??"
"satria mengalami amesia (hilang ingatan) karna benturan yang sangat keras di kepala nya"
"oh tuhan, semoga satria bisa lekas sembuh ya tante adit juga ikut sedih dengan keadaan nya satria sekarang"
"oh iya tante mau nanya sama kamu"
"iya tan boleh silahkan mau nanya apa ??"
"kenapa satria bisa kecelakaan ada masalah apa memang nya ??"
"maaf tan soal itu adit juga nggak tau soalnya satria juga nggak ngomong apa apa ke adit, malah yang tau pertama soal satria kecelakaan itu silvi tan tunangan adit"
"baiklah, silvi tante boleh tanya ??"
"boleh tan dan silvi bakal jelasin kok soal kecelakaan nya satria"
"coba kamu jelasin ke tante kenapa bisa seperti ini ??"
"maaf ya tan sebelumnya, tadi aku kan ke kost nya tina tapi aku nggak nemuin dia dan aku nanya ke adit katanya tina sudah ngundurin diri dari coffe shop .. entah bagaimana aku pun punya fikiran untuk kerumah tina kalau memang dia udah nggak kerja lagi pasti dia kan pulang ke rumah jadi aku inisiatif buat kesana buat nyusul tina"
"oh pasti ini gara gara anak itu tante memang nggak suka dengan dia tante juga yang nyuruh dia buat putus sama satria"
"maaf tan boleh di lanjut nggak cerita nya ??"
"lanjutin aja vi"
" pas di jalan aku liat mobil satria di lampu merah dan waktu sudah jalan dia kok ambil arah purwodadi jadi aku ikutin tuh mobil satria kan juga searah sama daerah nya tina dan di jalan satria bawa mobil nggak seperti biasa nya dia ngebut banget dan pas di jalan ******* datanglah truck bermuatan dari arah berlawanan dan akhirnya terjadilah insiden itu, aku pun cepet cepet buat ngabarin adit buat datang kesini dan aku juga yang bawa satria ke rumah sakit untuk segera dapat pertolongan"
"sudah jelas ini salahnya gadis itu, dasar gadis nggak guna"
"bu jangan nyalahin orang lain ya, kan belum tentu itu karna dia juga"
"belum tentu apa nya sih yah sudah jelas dia yang udah bikin satria seperti ini"
karna tidak ingin memperpanjang masalah dan berdebat dengan istrinya sang ayah pun mengalah dan memilih diam agar sang istri tidak terus menyalahkan orang lain
Bersambungg....
hay gaes dukung terus karya ku ya supaya aku bisa menyelesaikan karya ku ini dengan baik dan rapi .. jangan lupa like dan coment di setiap episode episode nya ya dan jangan lupa pula buat vote novel ku ya gaes . 😊
__ADS_1
Terimakasih semua
salam dari aku tinok 😊😊😘