
kini hari pun sudah menjelang pagi aurel yang masih males malesan di kamar nya sedangkan tina dengan sang ibu sudah mulai meracik semua yang di butuhkan untuk jualan mereka berdua sibuk dengan kegiatan nya di dapur
sang ibu sembari menyiapkan sarapan untuk keluarga sedangkan tina menyiapkan semua keperluan untuk jualan nya tiba tiba ada suara pintu terbuka dan itu adalah pintu kamar aurel
"ceklek" aurel terlihat masih sempoyongan keluar kamar
"eh kakak udah bangun ya"
"iya tapi bentar ya aku mau cuci muka dulu nanti aku bantuin"
"iya kak, tapi ati ati loh kakak masih sempoyongan gitu"
"iya tak apa apa kok tenang aja"
"hemm" tina menjawab dengan singkat
aurel pun berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan muka nya dan supaya bisa terlihat segar meskipun dia masih ngantuk tapi harus dia lawan rasa kantuknya itu
tak lama kemudian aurel keluar dari kamar mandi dan langsung menyusul tina dan juga ibu nya yang sibuk di dapur menyiapkan keperluan dagangan serta menyiapkan sarapan
"bu aurel bantuin ya ??"
"nggak usah nak, kamu bantuin adik mu aja kalau mau ikut bantu bantu"
"oh gitu ya bu, ok lah"
aurel berjalan mendekati sang adik yang tengah sibuk menyiapkan keperluan untuk dagang hari ini
"hey bocil gua bantuin ya"
"iya boleh kok kak, boleh banget malah biar cepet selesai"
"iya bocil"
mereka pun dengan cekatan menyiapkan semua nya begitu kompak antara adik dan juga kakak itu sang ibu yang melihat nya pun ikut senang melihat kedua putrinya bisa akur seperti itu
sang ibu pun selesai dengan tugas nya menyiapkan sarapan untuk keluarga sedangkan tina dan juga aurel masih sibuk memnyiapkan semua nya
"anak anak yok sarapan dulu ini sudah siap loh"
"iya bu, sebentar" jawab tina
ibu pun berjalan menuju kamar nya untuk memanggil sang suami mengajak nya untuk sarapan bareng namun ternyata setelah masuk kedalam kamar ibu pun kaget dengan keadaan sang ayah
"ayah ayah kenapa ??"
"nggak kenapa napa bu hanya sedikit pusing saja kok bu"
sang ibu pun inisiatif memegang dahi suami nya untuk memastikan keadaan nya
"waduh ayah panas ayah tinggi banget, ayah sarapan dulu ya nanti terus minum obat biar ibu nyuruh tina buat belikan obat di warung untuk ayah"
"tin tina ??"
"iya bu ada apa ??" tina berada di depan pintu kamar orangtua nya
"ini ibu mau minta tolong boleh ??"
"ada apa bu ??"
"tolong belikan obat di warung buat ayah, katanya kepalanya pusing dan ibu sudah cek juga panas tolong belikan obat sakit kepala sama turun panas untuk ayah ya nak"
"baik bu tina akan belikan"
"terimakasih nak"
__ADS_1
tina pun berlari keluar dan berjalan menuju warung terdekat dari rumah nya untuk membeli obat, dan setelah dapat apa yang dia cari tina pun langsung pulang tanpa berlama lama
"bu ini obat nya"
"terimakasih ya nak"
"iya bu"
"ayah, ayah kenapa yah ??" tanya tina kepada sang ayah
"tidak apa apa nak, cuma sedikit meriang saja kok"
"ayah harus makan loh sebelum minum obat biar tina ambilin makanan nya ya yah"
"iya, terimakasih ya sayang"
"sama sama ayah"
tina berjalan menuju meja makan yang sudah banyak tersedia makanan untuk sarapan hari itu dan aurel pun sudah berada disana
"hey bocil lu ambil makanan buat siapa ??"
"ayah sakit kak dan ini makanan untuk ayah agar ayah bisa segera minum obat"
"ayah sakit ?? kenapa nggak ada ngomong sama aku sih"
"ya kan ini baru mau ngomong kak, tapi udah keduluan kakak nanya"
aurel pun berdiri dan berjalan menuju kamar sang ayah untuk melihat keadaan ayah nya itu dia terlihat begitu panik ketika mendengar sang ayah sakit
"ayah, ayah sakit ya kita ke dokter ya ayah ??"
"nggak usah sayang, mungkin ayah hanya kecapek.an saja kok nanti buat istirahat juga sembuh"
"tapi yah aku khawatir sama keadaan ayah"
"ayah ini sarapan nya" tina memotong pembicaraan aurel dengan ayah nya
"sini nak biar ibu yang nyuapin ayah mu, kalian berdua kalau ada kegiatan lain di lanjut aja"
"bu apa kita nggak usah jualan saja untuk hari ini ??" tanya tina kepada ibunya
"kalian kalau mau jualan nggak apa apa kok nak ayah juga nggak kenapa napa" sahut ayah
"tapi ayah kan lagi sakit ?"
"ayah istirahat juga sembuh kok" jawab ayah
aurel dan tina pun keluar dari kamar mereka melanjutkan untuk sarapan sedangkan ibu bersama ayah di kamar untuk merawat nya
"kak kita sarapan dulu ya nanti kita yang jualan ya kak ??"
"ok nggak masalah kok"
"ih baik banget sih ini kakak gua"
"dari dulu kali"
"heleh" jawab tina dengan singkat
mereka pun sarapan bareng dan setelah selesai mereka langsung bersiap untuk jualan karna memang kegiatan di rumah adalah jualan membantu orang tua serta berusaha untuk bisa bangkit dan menyejahterahkan keluarga
"kak aku duluan ya buat siapin jualan"
"ok nanti gua nyusul ini bentar lagi selesai koc"
__ADS_1
"ok deh gua tunggu lu"
"dasar adek bangs*t, punya adek gini amat ya hahha" meskipun sedikit kesal dengan sang adik aurel tetap saja menyayangi nya
"untung adek gua cuma satu kalau banyak ampu dah pasti bikin pusing ini kepala"
aurel berjalan keluar rumah untuk membantu tina yang sedang bersiap disana menyiapkan dagangan untuk jualan hari ini
"woy"
"kurang ajar lu kak ngagetin aja"
"haha, kaget ya ? ya sorry"
"udah sih bantuin sini ngapa"
"iya dah gua bantuin tapi di gaji ya ??" aurel tersenyum
"ogah gua ngegaji lu"
"dasar adek pelit, sama kakak nya aja pelit"
"bodo amat"
mereka terlihat begitu hangat meskipun dalam bahasa nya terlihat tidak akur namun itulah bahasa antara saudara meskipun terlihat acuh namun saling menyayangi satu sama lain
"oh iya kak, emang kakak nggak ada kuliah lagi apa kok di rumah lama banget ??"
"emang nggak boleh gua di rumah ??"
"iya boleh sih malah gua juga seneng lu di rumah, tapi kan bukan nya lu kuliah ??"
"gua ambil cuti selama beberapa bulan jadi gua bisa di rumah lama bisa abisin waktu gua buat orangtua sekaligus adek gua satu satu nya"
"ciee kakak gua"
"apa ??"
"nggak dah nggak, terus kost.an lu gimana ??"
"kan udah gua bayar sampai gua lulus kuliah jadi tenang deh"
"oh gitu toh, bagus lah kalau gitu"
"oh iya ada yang mau gua tanyain nih sama lu boleh nggak ??"
"mau nanya apa sih kelihatan nya penting ??"
"penting banget malah"
"emang apaan ??"
"ntar malam gua ajak keluar mau nggak ?? biar enak gitu ngobrol nya kalau di rumah takut ayah ibu denger"
"ok tapi di tlaktir ya kak ??"
"ok deh"
mereka pun selesai menyiapkan semua keperluan jualan mereka duduk di kursi yang ada dan menunggu pembeli datang namun karna tina mendapatkan pesanan yang begitu banyak akhirnya dia pun menyerahkan jualan rumah untuk di pegang sang kakak
sementara tina menyiapkan segala keperluan untuk memenuhi pesanan itu cukup banyak pesanan yang masuk dengan berbagai macam jajanan pasar
Bersambungg....
hay gaes dukung terus karya ku ya supaya aku bisa menyelesaikan karya ku ini dengan baik dan rapi .. jangan lupa like dan coment di setiap episode episode nya ya dan jangan lupa pula buat vote novel ku ya gaes . 😊
__ADS_1
Terimakasih semua
salam dari aku tinok 😊😊😘