
Gadis itu bernama Permata Ayu. Gadis dari desa yang lumayan jauh dari kota. Ayu biasa dipanggil dan sering terdengar di telinga warga. Parasnya yang ayu menjadikan dia primadona di sana. Rambutnya lembut dengan warna kecoklatan, kulitnya putih bersih, hidungnya tidak terlalu mancung tapi pas, wajahnya cantik mempesona. Dan yang bikin tak terlupakan adalah tubuhnya yang semampai aduhai. Ayu berasal dari keluarga yang sangat sangat sederhana. Bapaknya adalah laki-laki serabutan yang mempunyai jiwa kuat dan keras. Lebih sering menjadi tukang parkir jalan, makelar mobil, motor, jasa penjualan rumah dan kadang tukang tagih utang yang menakutkan. Hidupnya yang dijalan menjadikan dia keras dan jauh dari kata sopan. Orang desa mengacuhkan dan merendahkan. Mereka hanya takut ketika berpapasan di depan karena takut terkena hantaman fisik. Tapi jiwanya lembut melemah ketika masuk rumah. Dia mempunyai 3 putri yang cantik dan unik. Semua mempunyai karakter berbeda. Yang pertama Ayu, kedua Ati dan Ketiga Uma. Ayu terkenal karena kecantikan dan ketenarannya sebagai bunga desa. Ati terkenal karena kecerdasannya di Sekolah dan Uma terkenal karena keramahannya dan sosialnya dengan teman dan warga desa.
Ayu saat ini kelas 2 SMP. Meski bapaknya tidak sekolah hanya mengenyam SD 1 Tahun dan bisa membaca ala kadarnya karena ditempa jalanan, tapi tekatnya untuk menyekolahkan anaknya luar biasa. Inilah yang menjadi cibiran warga desa. Warga di sini lebih menghargai orang yang mempunyai titel keagamaan tinggi karena lulusan pondok, dengan julukan pak haji dan pak ustad. Kekayaan berupa rumah lebar dan sawah berhektar-hektar adalah andalan mereka. Mereka lebih memilih menyekolahkan anaknya ke pondok pesantren dan setelah itu mengabdi untuk melanjutkan nama besar keluarganya atau menjadi TKI di luar negeri. Pulang membawa uang segobrak. Berbeda dengan bapak ayu. Dia ingin manjadikan anak anaknya anak yang kerja di ruang ber AC dan pintar. Tekatnya menjadikan anak-anaknya anak yang cerdas dan tidak gampang dibodohi oleh orang seperti dia. Sore itu ayu berjalan pelan menuju sekolah Madrasahnya bersama teman-temannya, Puji dan Sari.
“ Yu … bajumu bagus banget. Jahit di mana yu ? ” Sari yang suka iri.
“ Mbak Narti biasa … kain tak beli di pasar ” Ayu.
“ oooooo…” Sari
( memang Ayu sore ini memakai baju dress panjang sampai tumit dan lengan panjang. Atasannya adalah cardigan yang menempel pada dress dengan perpaduan warna biru dan bunga-bunga bercorak. Menjadikan dia semakin cantik dan anggun ). Sepanjang jalan menjadikan Ayu perhatian terutama kaum Adam. Mereka tidak
menyadari, saling ngobrol dan bercanda di jalan.
Di samping gardu Listrik ada sesosok yang berdiri serius menatap diam. Matanya tajam dan menyala laksana elang. Rahangnya tegas. Dan wajahnya rupawan. Dia adalah Azriel. Sang calon ustad di madrasah. Dia hanya membantu bapaknya yang menjadi kyai terkenal di desa. Umurnya 2 tahun lebih tua dari Ayu.
“ Zriel…dipanggil Kyai. Masuk ke kantor ” Salim berseru. Azriel mengangguk tanpa menyahut. Lalu berjalan ke kantor madrasah yang lumayan jauh.
__ADS_1
“ Nang … nanti kamu gantikan ustad Yayan di kelas 6 putri ya. Sementara wae ”. Kyai bertitah.
“ Ya. Bisa. Sementara ya pak ”. Azriel. Kyai mengangguk-ngangguk.
Azriel adalah anak semata wayang sang Kyai. Kyai merupakan ulama besar di Desa, dia mempunyai mushola yang didirikan di tanah dan hasil uang keluarganya yang kaya raya. Kyai mengampu Masjid terbesar di Desa. Dan semua orang menghormatinya. Azriel menjadi pemuda idaman.karena anak satu satunya kyai. Azriel dengan mantap menuju ruang kelas 6 Putri.
“ Assalamualaikum wr wb ” Azriel.
“ Walaikumsalam wr wb tadz ” semua murid madrasah putri menjawab. Mereka kaget karena sang Ustad Yayan yang biasanya mengampu mereka tetiba diganti oleh ustad Azriel yang menawan. Hati mereka bersorak. Lepas dari Ustad Yayan yang sedikit keras dan perawakan yang kurang enak dipandang.
Azriel mulai berjalan ke arah papan tulis dan menuliskan beberapa ayat suci Al Quran untuk dibedah sesuai tajwidnya masing-masing. Dia membalikkan badan memandang lurus ke kelas. Ada satu hal yang sepertinya dicari Azriel. Pandangannya beredar dan berhenti pada sosok anggun di kursi nomor 3 dari belakang bersebelahan jendela. Gadis itu adalah Ayu. Ayu tidak tahu bila dirinya menjadi perhatian Azriel. Meski hanya beberapa detik. Dia fokus mencorat coret bukunya. Satu senyum terbit di bibir Azriel.
Satu setengah jam berlalu. Pelajaran tajwid hari ini terasa berbeda karena murid putri yang bersemangat dan berbinar menatap sang ustad di depan kelas. Sesekali ustad berkeliling mengitari murid-murid putrinya. Dan berhenti di samping Ayu beberapa detik sambil memejamkan matanya. Dia lebih senang memandang dari kelas belakang untuk memperhatikan Ayu dengan punggungnya.
“ Sudah jelas penjelasanku dek? ” Azriel bertanya kepada Puji teman sebangku Ayu. Dia ambil buku tulis hasil jawaban Puji. Ini otomatis sangat dekat dengan Ayu dan tangan mereka hampir bersentuhan ketika Azriel mengambil buku Puji yang menempel dengan buku Ayu. Azriel tenang berada di hadapan 2 muridnya ini. Tetap coll justru membuat murid-murid putri pada deg-degan panas dingin dan iri untuk didekati Azriel.
Ayu diam menatap badan Azriel di depannya. Wangi parfum Azriel menyeruak di hidungnya. Harum wangi woodynya bikin hati meleleh. Ayu hanya bisa menahan nafas entah rasa apa. Dia lebih takut berdekatan dengan Azriel dibanding dikoreksi jawabannya dan salah sehingga dihukum.
__ADS_1
Tanpa sadar buku tulisnya pun tidak terlepas dari koreksi Azriel. Azriel mengangkat buku tulis Ayu dan membaca hasil jawabannya. Seketika Ayu seolah berhenti detak jantungnya. Dekat sekali hingga tangan Ayu menyentuh koko depan Azriel dari ujung bangku.
“ Dek Ayu yaaa? ” Azriel.
“ Ya ” Ayu.
“ Nanti malam ngaji di mushola dek ? ” Azriel.
“ Ya ” Ayu.
“ Kalau ngaji nanti malam buku tulis ini dibawa tak ajari tajwid. Habis ngaji rutin. Habis Isya. Mau ? ”. Azriel.
“ Ya ”. Ayu.
Ayu tertunduk malu. Hantinya seakan runtuh deg-degan tak karuan. Takut, senang dan bingung bercampur aduk. Dia sudang membayangkan bagaimana nanti habis Isya dia akan di dril khusus tentang Tajwid dengan Ustad Azriel. Takut kelihatan bodohnya. Takut kelihatan jerawatnya bila duduk di depan langsung. Takut salah pakai baju dan tidak menarik. Semua bercampur. Azriel meletakkan buku tulis Ayu pelan. Dan senyum lembut menghiasi wajah Azriel. Ketika dia bisa menatap wajah cantik Ayu dari dekat apalagi saat tangan mereka hampir bersentuhan di bangku. Dunia melayang bagai dihempas ke langit ketujuh.
“ Oh Indahnyaaaaa …. ” (batin Azriel). Nanti malam aku bisa berdekatan dengan bidadariku. Batinnya lagi. Wooooooowww….
__ADS_1