
Ayu memeluk Azriel dari belakang. Dia memeluk dengan lembut dan membenamkan kepalanya di punggung Azriel yang kokoh. Azriel terkesiap merasakan pelukan Ayu yang tiba-tiba ketika dia mempersilahkan Ayu masuk. Setelah beberapa detik, dia mengurai tangan Ayu dari perutnya. Namun lepas dari pelukan Azriel, Ayu dengan cepat mencium bibir Azriel sekilas ketika dia membalikkan badannya. Azriel membelalakkan matanya melihat tingkah Ayu.
“Jangan menguji kesabaranku dek” Azriel.
Di meja kebesarannya, Azriel sibuk memeriksa dan menandatangani tumpukan dokumen, perusahaannya semakin mengangkasa karena kepercayaan hampir seluruh sekolah dan perguruan tinggi dalam pengadaan buku pembelajaran. Perusahaan Azriel juga mempunyai toko buku megah di seluruh pelosok tanah air. Keseriusan dan kecermatan Azriel menjadikan perusahaan ini semakin berkembang pesat.
“Zriel…ngopi yuk di café sebelah!” Dion yang biasa memanggil nama Azriel tanpa embel-embel kebesaran ketika berdua, mengajak temannya itu untuk break sebentar. Dion adalah teman Leon dan Azriel.
“Sebentar on, masih banyak yang harus deadline. Tunggu sebentar!” Azriel menjawab tanpa melihat sabahat sekaligus asistennya itu.
“O ya, kemarin malam minggu kamu jadi antar Ayu ke resepsi temannya?” Dion bertanya.
“Heeeemmm…” sahut Azriel.
“Ayu cerita gak sama kamu…soal Lia yang titip sesuatu setelah meninggal. Kayaknya isinya Handphone di amplop coklat. Gak tahu buat apa. Sempat-sempatnya juga Lia titip buat Ayu ya” cerocos Dion.
“Titipan apa maksud kamu? titipnya ke kamu?” Azriel mengalihkan pandangan ke Dion. Cukup heran.
“Iya. Gak cerita?” tanya Dion balik. Azriel menggeleng lemas.
Jujur saja dia cukup pusing dengan segala tingkah laku dan celoteh Ayu akhir-akhir ini. Ayu, hampir menyerupai Lia. Mulai centil, suka merayu dan berani ke Azriel. Dengan sekuat tenaga Azriel melawan hasrat yang mendera ketika Ayu bertingkah. Beda dengan ketika Lia menggoda, Azriel justru geli dan melihatnya sebagai hal yang lucu menghibur. Tapi dengan Ayu. Azriel jatuh bangun untuk mengatasi nafsu kegilaannya. Oleh karena itu, dia berusaha untuk menghindar ketika Ayu mengajaknya bertemu terutama di tempat sepi hanya berdua.
__ADS_1
“Hahahaaaa…kamu kenapa lemas gitu? Ayu jual mahal atau jaga jarak sama kamu?” tanya Dion sambil mengedipkan mata. Azriel menghentikan sejenak pekerjaannya dan menghirup nafas sambil memejamkan mata bersandar di kursi mewahnya.
“Bukannya menjaga jarak, ini malah nempel terus” batin Azriel. Dia mengigat bagaimana dia hampir saja “memakan” Ayu karena hampir runtuh pertahanannya. Tapi tidak mungkin hal ini diceritakan sama Dion kan.
“Pusing aku sama dek Ayu. Dia kenapaaa… ya kok jadi gitu?” Azriel memijat pelipisnya.
“Nikahin langsung aja bro. Kelamaan ditilep orang itu ntar bunga desa. Atau kalau lu gak mau gue juga siap nikung. Semakin lama semakin aduhai tu cewek…” celoteh Dion sambil manggut-manggut.
“Keluar kamu dari sini ! sebelum kaki itu hilang !!!” bentak Azriel. Mereka memang sering begitu ketiga berdua.
“ Santai brooo…santai. Paling ntar dek Ayu juga milih Gue. Hahahaaa “ Dion kabur sebelum ada buku atau sepatu melayang ke kepalanya.
Azriel menunggu di parkiran dinas. Ini karena Ayu selalu memintanya menunggu di mobil, jangan masuk ruangan. Mungkin dia malu dengan teman-temannya yang akan terus menggoda. Tidak berapa lama, mereka sampai di basement sebuah mall. Mereka akan makan siang di sana sesuai permintaan Ayu. Namun ketika Ayu mau turun mobil, Azriel menarik tangannya.
“Dek sebentar. mas pengen ngomong” Azriel menarik tangan Ayu, lembut.
“Di dalam saja sekalian ya mas” jawab Ayu.
“Sebentar saja” Azriel mencegah Ayu yang mau turun. Ayu tersenyum manis. Azriel membalas senyum itu, dengan tatapan terpana akan kecantikan Ayu.
“ Besok Sabtu…pulang bareng yuk dek” Azriel mendekati Ayu dan menyelipkan helaian rambut yang keluar ke belakang telinga dengan mesra.
__ADS_1
“Maksudnya? pulang ke mana?” tanya Ayu. Karena Azriel di kota ini ada beberapa rumah dan apartemen.
“Ya ke rumah kamu. Ke rumah orang tua kita” sahut Azriel.
“Kenapa harus bareng? tumben? Mas Azriel ada waktu pulang, katanya pekerjaan banyak…kan mas….?” kilah Ayu. Sebelum Ayu melanjutkan ocehannya, Azriel menutup mulut manis itu dengan jari.
“Ssssssst…dengerin mas dulu. Kita pulang bareng. Mas mau ketemu sama orang tua dek Ayu. Mas pengen kita cepet nikah dek. Mas gak kuat!” deru nafas Azriel mulai beda. Dia menjawabdengan menautkan kening. Mereka sangat dekat. (Ternyata Azriel terhasut omongan Dion, permisah. Dia takut Ayu diculik orang. Hahahaaaa) Ayu tersenyum. Dalam hatinya “Kesempatan ini ….. untuk menguji (lagi)”.
Ayu mendekatkan dadanya ke dada Azriel. Tubuh mereka benar benar dekat. Bahkan Ayu memeluk mesra dengan posisi yang sangat menggoda. Ayu memberanikan diri untuk melangkah. Dia menjilat telinga sebelah kanan Azriel dengan posisi yang benar-benar menantang. Dia kaget ketika tiba-tiba Azriel menarik cepat tubuhnya dan membenamkan bibir tebalnya ke bibir tipis Ayu. Azriel mencium Ayu dengan deru nafas meracau. Dia *****
bibir Ayu dan mengabsen setiap inci dalamnya. Ayu tak mau kalah. Dia membalas ciuman itu dengan panas. Dia sudah bertekat untuk mendekatkan diri ke Azriel, agar tidak ada dan tidak akan sempat ada wanita lain yang mendekati Azriel.
Ayu ******* bibir Azriel dan melayani keinginan laki-laki itu. Bahkan tanpa aba-aba Ayu membuka 3 kancing kemeja Azriel dan membelai mesra dada bidang itu. Azriel semakin tidak terkendali. Dia angkat satu kaki Ayu. dinaikkannya kaki itu ke pangkuannya. Rok yang tadinya rapi disibakkan mencari sesuatu yang lembut dan mulus. Ayu benar-benar membuat gila. Semakin lama, dua insan ini semakin tidak terkendali. Baju seragam Ayu sudah terbuka memperlihatkan branya. Azriel pun jasnya sudah entah kemana, dan kemejanya yang rapi sudah compang-camping. Azriel menjilat seluruh bagian leher Ayu. Dia menyesap dan mendesah keras menikmati ini. Ayu mulai berani membuka sabuk Azriel dan memasukkan tangannya ke sana. Ayu membelai lembut daging panjang yang sudah kokoh tegak berdiri dari tadi. Sentuhan Ayu membuat semakin menegang dan membesar seperti siap menyemburkan isinya yang melimpah.
Azriel mancabut keras tangan Ayu dari dalam celananya. Dia mendorong Ayu hingga terbentur kaca pintu mobil. Sementara dia menjauh dan memejamkan matanya bersandar di kursi kemudi. Dia meracau dan mengatur nafasnya yang memburu. Tangannya menggenggam erat samping kanan kiri kursi. Ada sesuatu yang menyiksanya. Ayu bingung dengan situasi ini. Ini terlalu tiba-tiba. Azriel mendorongnya menjauh dengan keras tadi. Apa dia melakukan sesuatu yang tidak disukai Azriel??? Pikir Ayu.
“Maaaasss….mas Azriel baik-baik saja?” pelan-pelan Ayu bertanya, ada ketakutan. Karena Azriel terlihat menahan kesakitan. Azriel menatap Ayu dengan senyum.
“Dengar…sayang. Mas mohon jangan lakukan ini lagi ke mas. Tolong jaga batasan kita dek. Mas akan segera melamarmu dan minggu depan kita menikah. Semua mas yang akan menyiapkan. Tinggal selangkah lagi, mas tidak akan melepaskanmu” tantang Azriel dengan sorot mata memuja.
OOOOOO… tidak semudah itu ferguso ! Kamu harus nangis dulu untuk mendapatkan Ayu. Tunggu ujian dari Author Zriellll…sabaaaar. xixixiixixii
__ADS_1