Kisahku Dengan Sang Ustad

Kisahku Dengan Sang Ustad
Putus?


__ADS_3

Tidak ada kata-kata yang diucapkan Ayu. Dia sudah tidak mampu lagi berucap. Hanya lari dari pemandangan yang mengiris hati.


Setelah meminta Lia untuk kembali ke apartemen, Azriel mengejar Ayu. Dia melajukan pelan mobil mengelilingi taman apartemen yang luas. Azriel yakin, Ayu maish di sekitar lingkungan apartemen.


“Dek tunggu. Dengarkan dulu penjelasan mas” Azriel. Ayu menepis kasar dan berjalan cepat.


“Mas mohon dengarkan dulu penjelasan mas…dek. Ini tidak seperti yang kamu lihat” Azriel mendekap Ayu, menghalangi Ayu.


“Lepaskan aku. Apalagi yang akan dijelaskan. Semua sudah di depan mata. Kamu sengaja” Ayu berusaha melepaskan diri.


“Sengaja bagaimana, aku tidak ada hubungan yang kamu tuduhkan sama Lia. Aku hanya cinta sama kamu dek. Tidak ada yang lain”Azriel menjelaskan dengan sungguh-sungguh dan lantang. Suasana taman cukup sepi, bila ada yang lewat pun mereka lebih ke acuh, karena tidak saling mengenal.


“Tidak ada hubungan? mas bilang tidak ada? kamu kira aku bodoh mas? dan aku tuli, tidak mendengar yang dikatakan dia tadi?” jawab Ayu dengan menantang.


“Lia hanya bercanda dek. Dia memang seperti itu. Dia hanya menguji kamu dek. Tidak ada maksud yang lain. Dia…” kilah Azriel.


“Cukup. Dari tadi kamu membela dia terus. Semua orang di perusahaanmu tahu, kalian ada skandal. Dan semua orang membicarakanmu. Apa kamu kira semua orang bohong? dan sekarang kamu membela dia terus. Cukup. Kalau kamu ingin bersama dia, lanjutkan. Tinggalkan aku” mata Ayu berkobar-kobar.


“Jangan pernah kamu katakan itu lagi. Aku tidak pernah punya maksud meninggalkanmu dari dulu, sekarang dan sampai kapanpun. Kamu yang dulu meminta kita pisah dan sekarang pun kamu juga minta itu lagi? AKU TIDAK AKAN MELEPASKANMU. Pegang itu” Azriel berusaha meyakinkan Ayu.


“Aku tidak sudi bersama laki-laki menjijikan seperti kamu. Tidak punya batasan dengan perempuan. Aku bukan mereka. Dan tidak akan pernah menjadi seperti mereka yang bisa kamu perlakukan seenaknya. Kamu sama dengan laki laki lain, tidak cukup dengan satu. Mana pendidikan agamamu, mana akhlakmu? kamu sudah gila” nafas Ayu terengah karena marah.

__ADS_1


“Aku gila karena kamu !!!” jawab Azriel dengan keras.


“Aku mengalami semua ini karena kamu. Aku rela menikah dengan Sari karena kamu. Kamu melepasku. Kamu minta aku menikah dengannya dan berjanji setia menungguku. Aku melawan perintah orang tuaku untuk menggauli istriku, aku menentang semua kewajiban dan menutup hatiku hingga dia tidak tahan dan meminta cerai dariku, itu semua karena kamu. Aku tersiksa dan pergi ke Kairo untuk sekolah berharap bisa melupakanmu, tapi apa …. tidak semudah itu. Aku bagai mayat hidup di sana tanpa kamu, dan aku kembali mengejarmu di sini. Ternyata kamu berbohong, kamu menciptakan drama kalau kamu sudah menikah dan hamil dengan teman kuliah. Semua warga desa dan orang tuaku yang mulai merestui hubungan kita mereka menolak lagi” keluh Azriel.


“Dan kamu tahu, aku ke sini mencari kebenaran itu. Ternyata kamu menyadari kedatanganku, dan kamu pura-pura bersama pria itu, segitunya kamu menyakitiku. Rela berbohong besar. Apa artinya aku bagimu? kamu tidak menganggapku sama sekali dengan semua perjuangan cintaku. Aku seperti orang gila dan pergi melanjutkan S3. Aku bertekad melupakanmu, berjuang untuk bisa mandiri tanpa serupiahpun bantuan dari orang tua. Aku bertemu dengan orang-orang baik dan membantuku hingga seperti sekarang. Aku kerja siang malam berharap bisa mengobati luka hatiku, Lia lah yang membantuku. Dia melakukan berbagai cara agar aku tidak menjadi pribadi yang keras. Dia membantuku selalu tersenyum. Tapi takdir berkata lain, kamu hadir kembali…dan nyatanya di hatiku yang paling dalam masih ada kamu dan selalu ada kamu. Kamu…” Azriel mencengkeram kedua lengan Ayu.


“Ya benar. Aku selalu menyakitimu dan aku tidak pernah menepati janjiku. Aku selalu mengindar darimu dan berbohong. Karena AKU SUDAH TIDAK CINTA SAMA KAMU. Kamu tidak pernah ada di hatiku dan tidak akan pernah ada. Lia lah yang terbaik untukmu. Dia yang selalu mengobati lukamu kan, dan aku yang selalu membuat luka di hatimu. Aku tidak pernah membuat dirimu bahagia?” butiran air mata menetes deras di pipi Ayu. Tidak dia tahan, karena memang tidak bisa. Terlalu menyakitkan.


“Dan sekarang, lepaskan aku. Aku hanya bisa menyakitimu. Pilihlah Lia yang selalu menyenangkan buatmu. Hubungan kita cukup sampai di sini. Semoga kamu bahagia, maaf karena aku kamu mengalami semua ini. Maaaf…“Ayu tersedu sedu mengatakannya. Azriel mengepalkan tangan dan wajahnya memerah menahan kemarahan. Dia kecewa, sangat kecewa dengan kata kata yang Ayu ucapkan.


“Sudah malam, aku antar kamu pulang”Azriel menahan kata kata yang akan keluar. Kata kata yang mungkin akan menambah tangisan Ayu.


“Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri” Ayu meninggalkan Azriel yang menundukkan kepala. Dua insan yang saat ini hanya bisa saling menyakiti. Ayu berjalan menuju tepi jalan, kebetulan ada taksi yang menurunkan penumpang. Saat Ayu masuk taksi, dia melihat Azriel sedang dipeluk oleh seorang perempuan. Lia, lagi lagi dia yang ada diantara hubungan Ayu dan Azriel. Dilihat, Lia mendekap Azriel dan menepuk nepuk punggung Azriel dengan sayang.


“Jalan pak…ke Jalan Yudistira” pinta Ayu ke pengemudi taksi.


Sudah dua hari, Ayu dan Azriel tidak berkomunikasi. Ini karena Ayu tidak menanggapi panggilan maupun pesan-pesan Azriel. Ayu menyibukkan diri dengan persiapan untuk berangkat ke kota Makasar karena dinasnya kembali mendapatkan proyek pembangunan sekolah khusus berbasis teknologi untuk para disabilitas. Sementara Azriel berusaha sabar dengan mengikuti kemauan Ayu untuk diam terlebih dahulu. Mungkin Ayu butuh waktu.


Pagi ini seperti biasa, Ayu berangkat ke kantor berjalan kaki. Dia nempuh perjalanan sekitar 500 meter menuju kantor setiap hari. Dan bagi Ayu ini jarak yang sangat dekat, cukup jalan kaki. Di trotoar menuju kantor, ada seseorang yang mencekal tangannya. Dia Azriel. Laki-laki yang dua hari ini dia hindari.


“Tunggu dek…kita perlu bicara” pinta Azriel. Ayu tidak menjawab hanya melepas tangannya.

__ADS_1


“Maaf saya sibuk…tidak ada waktu dan tidak ada yang perlu dibicarakan lagi Pak Azriel. Permisi…” kilah Ayu. Azriel mengejar Ayu dengan langkah cepat.


“Aku mohon dek…kita harus bicara. Kamu harus dengar penjelasanku. Tidak ada yang berubah dari hubungan kita. Kita masih bersama sampai kapanpun” kata Azriel dengan lembut.


“Saya benar-benar tidak ada waktu Pak Azriel. Saya buru-buru menyiapkan banyak hal” Ayu lari meninggalkan Azriel saat dia lengah.  Azriel tidak menyerah dia tetap memasuki pagar kantor Ayu berharap bisa meminta ijin untuk mengajak keluar Ayu. Kebetulan saat itu, Azriel melihat Kepala Bidang di parkiran keluar dari mobil. Azriel mendekati.


“Assalamualaikum bu, maaf bisa mengganggu sebentar?” tanya Azriel dengan sopan.


“Iya mas Azriel…gimana mas? jawab kepala bidang.


“Mohon maaf apa dek Ayu hari ini banyak tugas bu? bila tidak, saya mohon ijin untuk mengajak keluar sebentar” pinta Azriel.


“Lho mas Azriel belum tahu ya, mbak Ayu hari ini kan mau berangkat ke Makasar. Tugas acara dari pusat mas, pesawatnya jam 10.45 kalau tidak salah. Sepertinya dia menyiapkan berkas berkas yang harus dibawa ke sana. Kemarin sore lembur. Dan tadi malam dia telepon saya masih ada beberapa yang perlu tanda tangan saya berkasnya. Mungkin mbak Ayu siapkan itu pagi ini. Tapi bila mas Azriel mau bertemu saya mintanya mbak Ayu keluar” jawab kepala bidang.


“Tidak perlu bu. Nanti saya akan telepon dek Ayu. Makasih banyak ya bu. Mohon maaf mengganggu” jawab Azriel dan undur diri.


“Halo Dion. Cari jadwal penerbangan ke Makasar hari ini an. Ayu Wibisono jam 10.45. Kamu atur supaya aku bisa ambil penerbangan yang sama dengan dia. Usahakan aku bisa sama dia” titah Azriel ke Asistennya, Dion.



__ADS_1


![](contribute/fiction/4513651/episode-images/1651996831874.jpg)


__ADS_2