
Hiiiks…hiiiiiiiks….hiiiiiiiiiiiikkkkkksss
Sayu-sayup terdengar suara orang menangis di taman. Semakin lama semakin jelas terdengar. Keingintahuan Azriel membawa dia menyusuri sudut taman. Dan dia menemukan seseorang yang sedang tertunduk membungkuk memeluk kedua kaki sambil menangis. Seorang perempuan menangis di atas kursi taman dengan suara menyayat hati…dan perempuan itu seperti Azriel kenal……
“Dia seperti….?” batin Azriel.
“Astaghfirulloh……” Azriel terkaget ketika melihat dan memastikan bahwa tangan perempuan itu mengalirkan darah pada nadinya, sementara tangannya memegang pisau kecil.
“Nona…apa yang nona lakukan” dengan sigap Azriel menarik tangan perempuan itu dan membuang pisau yang digenggam dengan erat. Dia meronta.
“Lepaskan aku…hiks.hikkkssss” perempuan itu berteriak histeris. Dan mendorong Azriel.
“Dianaaaa???” sentak Azriel.
“Apa yang kamu lakukan? tanganmu terluka. Darah kamu keluar banyak Din!” Azriel memaksa menarik tangan Diana. Meski meronta, kekuatan Azriel jauh lebih dibandingkan dengannya. Azriel mendekap Diana dan memberikan pertolongan untuk menghentikan darah yang mengalir. Dengan bersusah payah Azriel menekan pergelangan nadi Diana dan menutup dengan sapu tangan yang dibawa, tapi nihil. Darah yang keluar begitu banyak. Karena ketegangan dan kesakitan yang dialami, akhirnya gadis cantik itu tak sadarkan diri.
Inilah hari yang tidak mendukung untuk hubungan Ayu dan Azriel. Sudah jatuh, tertimpa tangga kiasan yang pas untuk mereka. Karena tanpa disadari, Ayu sedang melihat apa yang terjadi dengan Azriel dan Diana di taman. Ayu memandang dari atas balkon. Penat pikiran yang dirasa, Ayu keluar balkon kamar untuk menghirup udara segar. Namun apa yang di dapat, dari balkon atas lantai 5 itu, dia melihat Azriel mendekati seorang wanita dan terlihat berpelukan.
“Haaaahhh…mas Azriel. Cobaan apalagi ini…? apa benar kita tidak jodoh? siapa wanita itu mas?” Ayu tercekat tenggorokannya bahkan serasa hilang nafas melihat pandangan yang dia lihat. Memang dia tidak bisa mendengar percakapan Azriel dan wanita itu, tapi dia bisa melihat bila Azriel mendekati, memeluk dan menggendong wanita itu entah mau ke mana.
“Apa kamu juga pesan kamar yang lain seperti dulu saat punya apartemen lain untuk mbak Lia? apa selama 5 hari ini kalian berhubungan mas? ya Allah…..” Ayu merintih menahan sesak di dada.
Hari sudah sangat larut. Pukul 00.30 am waktu Den Haag saat itu. Ayu dengan gelisah menunggu Azriel. Namun tidak ada tanda-tanda suaminya menghubungi keberadaannya atau pulang. Nomor kontak Azriel juga terlihat offline. Ayu enggan untuk menghubungi suaminya, karena pertengkaran mereka akhir-akhir ini.
“Kamu ke manaaaa? aku tidak akan memaafkan kamu kalau kamu berani berhubungan dengan wanita lain. Tidak akan” gereget Ayu menggenggam tangannya. Dia mondar mandir dengan pikiran kalut. Hingga pukul 02.00 am Azriel tidak pulang.
“Dari mana?” tanya Ayu seketika Azriel masuk pintu di pagi hari.
“Ada urusan penting” jawab Azriel pelan karena lelah.
“Urusan penting sampai tidak pulang?” cerocos Ayu. Azriel diam saja menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Ayu menggenggam tangan menahan emosi.
Drrrttt…drrrtt……drrrrrrrrrrttt.
__ADS_1
(Hp Azriel berbunyi). Dengan penuh penasaran Ayu mengangkat.
“Zriel…Maaf aku baru buka pesanmu. Kamu Ketemu Diana? Aku tahu kamu bisa menjaganya. Kamu sangat sayang sama dia. Tiketmu pulang sudah aku pesan untuk 3 hari ke depan. Kamu jaga Diana dulu. Dia lebih penting. Aku tutup. Ada meeting dengan klien” Dion.
“Diana? sayang? siapa dia?” Ayu bermonolog dan semakin gerah.
“Siapa yang telepon?” Azriel menengadahkan tangannya untuk meminta HP dari tangan Ayu.
“Dion” Ayu memberikan HP itu dengan menghentakkan tangannya. Dan berlalu menuju koper yang sudah disiapkan pagi ini. Ayu membuka almari dan menata baju-baju ke dalam koper.
“Kita tidak jadi pulang hari ini. Kita pulang 3 hari lagi” Azriel. Ayu sama sekali tidak menggubris perkataan suaminya. Dia merapikan semua baju.
“Dek…” Azriel meraih tangan istrinya untuk menghentikan aktivitas itu. Tapi Ayu menepis.
“Kamu saja yang di sini. Aku pulang hari ini !” Ayu.
“Ada yang penting dan mendesak untuk aku tinggal di sini. Kamu masih ada cuti seminggu lagi kan?” Azriel.
“O ya…yang penting dan mendesak? menjaga wanita yang kamu temui tadi malam? kamu bawa kemana wanita itu…kamu pesankan kamar?” jawab Ayu menantang.
“Belum cukup kamu membuat kesalahpahaman dulu tentang mbak Lia dan sekarang ada wanita lain lagi?” Ayu
“Apa maksud kamu? aku tadi malam….” Azriel terhentak Ayu mengetahui lebih dulu tentang kejadian tadi malam.
“Kamu tadi malam ketemu wanita yang bernama Diana?” Ayu
“Jawab!!!” bentak Ayu melihat Azriel yang terdiam karena kaget.
“Iyaaa” Azriel menjawab dengan mantap.
“ Kamu tadi malam memeluk dia kan?” Ayu.
“Iyaaa” Azriel terpancing.
__ADS_1
“Kamu membawa dia pergi dari taman?” Ayu
“Yaaaa” jawab Azriel.
“Kamu sayang sama dia?” Ayu.
“Yaaaa” jawab Azriel lagi.
PLAAAAAAKKK
Suara tamparan keras Ayu ke pipi Azriel. Azriel kaget dengan ini. Juga Ayu. Dia tak sadar hingga hilang kendali. Azriel memejamkan mata. Ayu menetralkan nafasnya yang terengah karena emosi. Dengan cepat Ayu menyambar Koper dan menuju pintu.
“Aku tidak menginzinkan kamu keluar” suara Azriel lirih.
“Aku tetap pulang sekarang. Dengan atau tanpa izinmu” tegas Ayu.
Bug
Ayu jatuh ke ranjang, dengan satu kali tarikan tangan Azriel. Azriel menindih istrinya. Ayu yang sangat emosi memukul-mukul suaminya itu sampai kelelahan. Azriel diam menerima semua perlakuan tersebut. Dia hanya memandang wajah Ayu yang sudah dibasahi air mata. Dia tidak tega, dia pernah berjanji untuk selalu membahagiakan Ayu. Tapi apa yang dia lakukan sekarang, dia yang telah membuat wanita yang sangat dicintainya itu menangis terluka.
“Dengar sayang, Diana adalah adik kembar Dion” Azriel berusaha menenangkan istrinya.
“Aku tidak peduli siapa dia!” jawab Ayu dengan tatapan mata menyala.
“Dion sahabatku. Dan Diana juga sudah dekat dengan aku sejak kecil” sahut Azriel heran dengan jawaban Ayu, seharusnya Ayu dapat menahan emosinya karena wanita malam itu adalah adik Dion. Dion adalah sahabatnya. Dan Ayu juga mengenal Dion dengan baik. Bukan seperti yang dia tuduhkan ke Azriel.
“Kalau sudah dekat, ambil saja dia. Dia bisa menyenangkanmu kan tadi malam. Kalian bersama kan sepanjang malam?” tuduh Ayu.
“Kami tidak ada hubungan apa-apa. Dan aku membawanya dia pergi karena…” belum selesai Azriel bicara, Ayu sudah menyela.
“ Kamu membawa dia pergi ke kamar. Dan kamu tidak pulang semalam. Laki-laki bersama wanita berdua semalam di kamar apa yang dilakukan. Dan kamu tidak perlu menjelaskan kalian ada hubungan atau tidak. Aku melihat sendiri kamu memeluknya lama. Dan menggendongnya. Itu yang kamu sebut tidak ada hubungan apa-apa?” bentak Ayu.
“Tolong dengarkan aku…Diana hamil dan dia mencoba bunuh diri. Aku membawanya ke rumah sakit. Dan sampai sekarang dia belum sadar!” Azriel berusaha mengerem emosinya, mencoba menjelaskan dengan pelan-pelan dengan menahan nafas.
__ADS_1
“Aku tidak peduli ! dia hamil anak kamu kan ? kalau dia hamil kenapa kamu tidak bertanggung jawab dan menikahi dia?” Ayu nangis dan berteriak. Apalagi mendengar wanita yang dipeluk Azriel sedang hamil.
“Yaaaa…! aku akan bertanggung jawab dan menikahi dia! Puas kamu!” Azriel.