
“Katakan…siapa ayah dia? apakah Edward?” tanya Azriel pelan. Dia tidak kuasa bertanya seperti itu kepada Diana yang saat ini baru tersadar.
Diana menunduk. Cukup lama dia terdiam. Ayu yang melihat ada sorot berbeda dari Azriel dan Diana yang menghindari pandangan intimidasi itu, berudaha mencerna apa yang terjadi. Dia masih belum faham dengan semua.
“Eh mbak Ayu…katakan gimana bulan madunya? kalian sudah berapa hari di sini?” Diana tidak menjawab pertanyaan Azriel dan malah menggenggam tangan Ayu dengan senyuman merekah.
“Baik”mAyu menjawab dengan melirik Azriel. Ada kemarahan di mata Azriel yang masih memandang tajam Diana.
“Katakan mbak… apa mas Azriel masih tidur dengan celana panjang dan kemeja lengkap? apa dia kalau mandi masih suka lupa bawa handuk? hahahahaa” tawa Diana renyah terdengar di kamar. Dia kegirangan mengingat apa yang menjadi kebiasaan Azriel. Namun tidak dengan Ayu. Dengan pertanyaan Diana justru Ayu laksana mendapat tusukan tajam. Karena dia sebagai istri tidak memeprhatikan hal itu. Wanita lainlah yang mengetahui dengan rinci. Sakit kah Ayu? hanya dia yang tahu .. itulah ekspresi sulit ditebak dia.
“Heeeemmm…maaf mbak. Saya tahu karena dulu saya satu rumah dengan mas Azriel. Mas Azriel sudah menganggap saya seperti adiknya. Dia selalu mengantar jemput saya ke kampus selagi Dion tidak ada. Jadi saya tahu sedikit keperibadian mas Azriel” terang Diana yang kikuk melihat ekspresi Ayu mendengar kelakarnya tentang kepribadian Azriel yang cukup intim itu. Diana tertunduk.
“Kamu belum menjawab pertanyaanku Din” Azriel.
“Aku…bisa kita bicara empat mata sebentar. Aku… “ lirih Diana masih dengan tertunduk.
Ayu yang melihat gelagat keengganan Diana akan kehadirannya, merasa tersingkir.
__ADS_1
“Aku,keluar dulu mau…” Ayu berdiri dan menyingkir dari dua insan itu. Tapi tiba-tiba tangannya dipegang kuat oleh Azriel.
“Jangan pergi…” Azriel memegang lembut tangan itu. Dia menuntun Ayu untuk mendekat dan duduk di sampingnya seperti semula.
“Katakan saja. Dia sekarang istriku. Dia berhak tahu apa yang aku tahu” dengan tegas Azriel mengatakan itu sama Diana.
Diana masih tertunduk. Beberapa detik terdengar suara isakan tangis. Diana menangis dengan tertunduk dalam. Ayu merasa tidak enak. Dia anggap dirinya mengganggu dan membuat Diana menangis. Ditariknya tangan yang masih dalam genggaman suaminya itu, tapi dasar Azriel semakin ditarik semakin erat pegangannya. Berbagai upaya dilakukan Ayu untuk melepaskan tangan itu. Sudah melotot tajammke arah suaminya, dipukul pelan tangan Azriel hingga keras sampai mencubit cubit tangan itu tapi tetap tidak dilepas. Azriel malah senyum senyum dan merasa terhibur dengan tingkah istrinya itu.
“Iiiiihhh…lepasin” suara lirih Ayu mencubit cubit tangan Azriel. Meminta untuk dilepas.
“Cium dulu…” Azriel memonyongkan bibirnya ke Ayu.
Halooo… apa kabar Diana yang sedang menangis? dua sejoli itu malah asyiik pacaran.
“Bila anak ini memang tidak diterima, biar kau saja yang merawat dia. Dia tidak bersalah. Aku akan melahirkan dan menjaga dia tanpa siapapun. Aku pasti bisa” gumaman Diana berhasil memecah kesibukan Ayu dan Azriel yang sibuk saling cubit-cubitan. Semua terdiam dengan kata-kata Diana.
“Kamu istirahat dulu…Dion besok datang. Dia ambil penerbangan malam ini. Janji sama aku kamu harus menceritakan semua sama Dion. Jangan ambil resiko. Kamu tidak sendiri Din. Masih ada aku dan Dion”
__ADS_1
Diana memandang Azriel dengan tatapan sendu. Dengan pelan dipegangnya telapak tangan Azriel yang lain. Dia pegang erat dengan kedua tangannya. Azriel hanya memandang. Ayu terkejut, ada perempuan lain yang memegang tangan suaminya sementara dia memegang tangan yang lain.
“Dia hanya mau Ayah seperti kamu mas…hanya kamu yang bisa menjadi Ayahnya” titah Diana dengan mata berbinar penuh lekat ke Azriel.
Azriel dan Ayu tercekat mendengar kalimat itu. Namun bukan Azriel namanya, bila tidak bisa menguasai keadaan menghadapi orang. Dia hanya akan bertekuk lutut ketika berhadapan dengan bunga hatinya, Ayu.
“Jangan bicara lagi. Kamu pulihkan kesehatan kamu dulu. Dan tolong renungkan perbuatanmu. Tentang kehamilanmu dan tentang usaha bunuh dirimu. Apa kamu bisa lolos dari keadilan di akhirat nanti. Jangan buat masalah lagi” sahut Azriel dengan sabar.
“Maaf…” tertunduk lagi gadis cantik nan kalem itu. Dia hanya bisa menangis tertahan dengan isakan.
“Jaga kesehatanmu…kamu harus sehat demi anakmu” nasehat Azriel diiringi belaian lembut di kepala Diana yang tertutup hijab. Diana terpejam menikmati belain lembut nan menenangkan itu. Serasa ada kesejukan dan ketenangan hakiki ketika Azriel menyentuhnya. Sementara Azriel menatap lekat Diana dengan penuh kasihn sayang. Dimana Ayu, sang istri? Ayu memandang dengan mata berkaca.
“Seberapa dekat mereka sebelumnya, ada cinta dan kasih sayang diantara tatapan mereka. Apa aku justru yang menjadi benalu dalam hubungan mereka? Cobaan apa lagi ini? kuatkan aku ya Allah” Ayu berperang batin.
Azriel menggandeng Ayu keluar ruangan Diana. Sepanjang menuju pintu keluar melewati koridor panjang, mereka tidak berbicara sedikitpun. Bahkan di lift pun, hanya ada kebisuan. Azriel bahkan memejamkan mata dan menghembuskan nafas beberapa kali.
Sementara di ruang perawatan, Diana masih menangis pilu.
__ADS_1
“Hanya kamu mas…yang akan menjadi Ayah dari anakku. Hanya kamu mas Azriel….hiks..hiks…hiks”