Kisahku Dengan Sang Ustad

Kisahku Dengan Sang Ustad
Masa Indah 1


__ADS_3

Ayu melanjutkan hari harinya dengan biasa. Dalam hari Ayu berjanji tidak akan melakukan kesalahan lagi. Dia tidak akan main main dengan sekolahnya. Dia berjanji dengan teguh tidak akan mengecewakan bapaknya yang telah banting tulang membiaya sekolah. Sang bapak tidak hanya sekedar membiayai, tapi dia mendukung penuh. Hampir secara rutin bapak mengunjungi Kos Ayu. Bahkan karena seringnya dia mengenal baik pemilik kos dan teman teman Ayu. Bapak juga beberapa kali mengantar Ayu ke sekolah dan berkenalan dengan beberapa guru yang ditemuinya. Hati bapak Ayu begitu bungah ketika guru yang ditemui menjabat tangannya dengan bangga .


“ Puterinya pinter pak “ Guru Ayu.


“ Nggih “ Bapak Ayu. Matanya berbinar dan seketika langsung memeluk Ayu serta mencium keningnya. Sang bapak begitu bangga karena mampu mengantarkan puteri puterinya untuk mengejar ilmu. Dan mereka berhasil mendapatkan prestasi yang begitu membanggakan keluarga. Setiap kali dia berada di jalanan baik lagi nyopir bis, atau manjadi tukang parkir, ketika kumpul dengan temannya dia selalu menceritakan prestasi puteri puterinya. Ada yang menanggapi dengan begitu segan dan terpukau karena mereka tidak bisa seperti dia. Tapi kebanyakan dari mereka mencibir. Mereka berfikir buat apa anak perempuan sekolah tinggi tinggi toh akhirnya nanti akan mengurus keluarga paling masak di dapur. Mending uang mereka gunakan untuk mengantar anaknya di calo TKW ke luar negeri. Pulang bawa banyak uang. Membangun rumah dan membeli sawah yang luas. Orang tua tinggal kipas kipas. Itu fikir warga desa di sini.


Saat ini Ayu fokus menghadapi seleksi sekolah untuk menjadi perwakilan Olimpiade Akuntasi. Dalam periode yang sama, Ayu juga mengikuti penulisan lomba karya ilmiah dengan teman temannya satu tim KIR. Kesibukan ayu membuat dia lupa akan Ilham. Ya, Ilham memang sosok yang harus disingkirkan dari hati Ayu. Setelah kejadian itu, dalam waktu beberapa lama Ilham tidak datang ke Kos Ayu. Dan tidak ada surat lagi yang datang. Ayu acuh dan tidak gentar menghadapi. Dia bersyukur, selama menjalin hubungan dengan Ilham yang baru berumur beberapa bulan Ayu tidak pernah membiarkan Ilham melakukan hal hal yang di luar nalar. Meski bila ditelisik, Ilham berusaha untuk mendekati Ayu dan meminta lebih. Dia beberapa kali protes, karena Ayu hanya mau ditemui di depan kelas. Dan di kos pun, Ayu sering tidak mengizinkan Ilham bertandang. Setiap bertemu, Ayu akan menjaga jarak dengan Ilham. Selain belum terbiasa berdekatan dengan laki laki dengan notabene “ pacar ”, Ayu juga selalu mengolah kata kata bapak. Jaga diri dan hati hati di luar rumah sebagai wanita.


Di kelas, Ayu melatih dirinya untuk lebih lancar menyelesaikan soal akuntansi. Kepiawaiannya dalam mengolah angka membuat dia terpilih mewakili sekolah dalam lomba Olimpiade Akuntasi.  Lomba ini akan diselenggarakan di instansi keuangan yang berkedudukan di ibukota provinsi. Ayu tidak pernah bermimpi, dia akan mewakili sekolah. Dengan kegigihannya, dia justru mampu mewakili kabupaten dan akhirnya dikirim keIbukota Provinsi. Ada dua guru yang mendampingi Ayu ketika melakukan lomba di kota besar itu. Ayu tidak menyangka akan bisa menginjakkan kakinya di kota Sxxxxxxx. Kota besar dan ramai menurut Ayu yang berasal dari desa terpencil pegunungan.


Seluruh keperluan Ayu dalam menghadapi Olimpiade kali ini disediakan oleh skeolah. Mulai dari sepatu, seragam dan tas. Sekolah memberikan yang terbaik. Ayu senang dengan ini, dia bersyukur bisa memilik sepatu yang kuat. Tidak seperti sepatu yang dia miliki, adalah sepatu dia saat SMP. Tasnya pun lebih kuat dan besar. Biasanya dia pergi ke sekolah memakai tas kain yang dibelikan ibunya di pasar. Itu saja ibunya harus menyisihkan uang dari hasil jualannya. Beberapa guru mendampingi Ayu ke kota ini. Dari mulai kepala sekolah, wakil kepala sekolah, pembina Osis, guru kelas dan guru akuntansi. Guru guru memberikan motivasi kepada Ayu. Mereka berharap Ayu berusaha yang terbaik. Sang Pembina Osis yang cukup dekat dengan Ayu menenangkan Ayu yang dari kemarin hgemetaran ketakutan. Dia mengatakan bahwa Ayu tidak perlu memenangkan dan menjadi juara 1 tingkat Provinsi. Cukup berikan nilai yang bagus dalam mengerjakan. Sehingga kemampuan Ayu dalam bisang akuntansi bisa terasah. Bila hari ini tidak bisa menjadi juara, Ayu bisa menjadi juara lagi di tingkat universitas nanti.

__ADS_1


Ayu berusaha sekuat tenaga, dalam pikirannya selalu melihat sang bapak. Dia membayangkan bagaimana bapaknya saat ini yang berkeja keras. Kadang bapaknya dicerca warga karena menjadi penagih hutang yang bengis. Mereka mengecap bapaknya “ preman “. Ayu tidak tega melihat dunia kelam yang dijalani bapaknya. Maka dia bertekat untuk menjadi yang terbaik. Berprestasi dan menjadi berhasil sehingga bisa meminta bapaknya untuk berhenti bekerja dari pekerjaan yang menaruhkan nyawa. Itu tekat Ayu.


Akhirnya Ayu menjadi juara 2 Olimpiade Akuntansi. Semua guru menyambut gembira perolehan prestasi Ayu. Mereka bangga karena kabupaten mereka bisa memperoleh 3 besar. Karena selama ini hanya masuk semi final. Kegembiraan Ayu bertambah ketika dia memperoleh uang pembinaan. Ayu bersyukur dengan uang sebanyak itu, dia kan memberikan sebagian untuk guru dan sekolah. Baru akan dia tabung. Perjalanan pulang ke kabupaten, rombongan lomba Ayu berhenti di salah satu masjid untuk melaksanakan sholat Ashar. Ayu yang saat sedang berhalangan, menunggu di pelataran masjid sambil meminum es teh kesukaannya.


“ Nikmatnya “ lirih Ayu dengan memejamkan mata dan menarik nafas pelan. Ayu menikmati segala yang dicapainya hari ini. Pandangan matanya berhenti ketiga menubruk sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. 2 insan laki laki dan perempuan ini memasuki pelataran masjid menggunakan motor besar. Sang perempuan memeluk posesif dari belakang. Mereka berhenti di parkiran tidak jauh dari Ayu. Mereka adalah Ilham dan Tia. Menggunakan baju santai.


“ Apa tia tidak sekolah “ pikir Ayu. Ayu tidak mau kehilangan kesempatan ini, dia mendekati sepasang kekasih yang sedang bercengkerama mesra di parkiran. Situasi halaman masjid sepi. Karena orang orang melaksanakan sholat jamaah.


“ Dek Ayu “ Ilham berkata dengan berjingkat karena kagetnya. Ayu tersenyum melihat respon 2 orang ini. Kenapa harus sekaget itu? Seperti maling yang ketahuan saat beraksi saja. Ayu sudah menata hatinya. Dia siap sekarang.


“ Mas Ilham dan Tia sudah lama kenal ? semoga jodoh ya. Ayu doakan kalian bahagia. “ Seloroh Ayu dengan lembut dan senyum. Ilham mencekal lengan Ayu ketika ayu berlalu menuju mobil. Ayu melepas dengan keras.

__ADS_1


“ Maaf dek. Aku memilih Tia karena dia lebih bisa memahami diriku dan selalu ada ketika aku butuh dia. Mas harap kita masih bisa berteman dek “ Ilham berucap lirih. Terdapat sedikit penyesalan di kata katanya. Tapi siapa tahu itu hanya penyesalan sementara seorang laki laki seperti ini.


Ayu hanya menanggapi dengan tersenyum. Dia berlalu dengan tatapan sedikit mengabaikan keberadaan mereka. Dia anggap mereka bukan orang yang harus ada di dalam hidup Ayu. Mereka tidak pantas. Ilham sudah berakhir di sini. Sampai tempat kos, hari menjelang malam. Suasana kos riuh menyambut Ayu yang menjadi juara. Mereka


bergembira. Ayu disambut di gang masuk teman temannya. Tapi yang membuat Ayu heran adalah adanya Puji yang terlihat cemas di depan pintu kos. Darah Ayu seketika habis melihat Puji. Pikiran Ayu tertuju dengan keluarganya di sana. Ada apakah? Apa yang terjadi dengan keluarganya di sana? Kenapa Puji ke sini? Ya ALLAH tolong jangan berikan berita yang tidak baik di hari bahagianya ini. Berikan kesempatan Ayu untuk menyampaikan kepada bapaknya kabar gembira prestasinya.


Wajah Ayu pucat pasi. Dia menghampiri Puji. Dipegangnya kedua lengan Puji. Dia pandang dengan tatapan melas. “ Jangan… jangan… kaatkan apapun yang menyedihkan untuk keluarganya…. Tolong “ tatapan mata Ayu mengatakan demikian.


Puji membalas tangan Ayu. Ia pun memegangnya dengan penuh haru. Ada rasa sedih dan penyesalan di mata Puji.


“ Yu … maafkan aku. Ustad Ilham memaksa ke sini. Dia ingin ketemu dengan mu. Dia menunggumu dari tadi siang sampai petang ini. Aku bingung memberi kabar padamu. Kamu tidak ada HP. Maaf yu “ Puji

__ADS_1


__ADS_2