
Saat ini Ayu sedang perjalanan menuju kota dengan pamannya. Sengaja dia tidak memberi kabar kepada Azriel tentang kepindahannya. Selain karena ancaman dari sang bapak, Ayu juga ingin menenangkan diri terlebih dahulu. Dia masih bingung dengan semua ini. Dia ingin jeda dan berfikir lebih tenang untuk masalah ini.
“Yu …. Yu …. Ayu … “ berkali kali Puji memanggil Ayu yang sedang diboncengkan motor pamannya. Sebenarnya Ayu mendengar, tapi dia tidak berani menoleh. Dia menutup area wajahnya, agar tidak diketahui orang orang apa yang terjadi dengan wajahnya akibat tamparan dan pukulan dari bapak.
“Ayu .... itu kenapa? kenapa wajahnya ditutupi ya? kok kelihatannya matanya tadi merah dan dia sempat melirikku. kenapa dia gak menoleh sama sekali?“ Puji bermonolog sendiri. Dia memanggil Ayu untuk menyampaikan kabar yang baru dia dengar tentang rencana pernikahan Azriel 4 bulan ke depan.
“Nduk Pujiiii ….Kamu tahu gak kalau Ayu tadi wajahnya “bengep“ semua, kayak jatuh dari motor atau kayak habis dipukul. Pada bengkak semua. Matanya merah dan bibirnya kayak berdarah“ salah satu tetangga mendekati Puji.
“Masak sih bu? saya malah gak tahu” Puji
“Lho kamu kan temennya. Sahabatnya. Kok malah gak tahu to nduuuk“ .
Azriel mondar mandir di kamarnya, dia berusaha menghubungi Ayu. Berkali kali dia memencet tombol warna hijau. Dia perlu mengklarifikasi kabar keadaan Ayu dari Puji dan orang orang di sekelilingnya. Namun, yang diharapkan tidak menanggapi.
__ADS_1
“Dek mas khawatir dengan keadaanmu dek. Ada apa lagi dengan mu? kenapa kamu tidak mengatakan jika kamu dipukul bapakmu karena mas dek. Apa kamu baik baik saja sayang ? mas ke kosmu sekarang ya?“ pesan terakhir Azriel dari sekian puluh pesan yang dia kirim untuk kekasih hatinya, Ayu.
Sampai di kota, Ayu ternyata tidak ada di Kos. Dan barang barangnya pun tidak ada. Pemilik kos mengatakan bahwa Ayu pindah kos, sementara Azriel bingung karena tidak ada jejak dari teman Ayu, semua berangkat sekolah. Azriel tetap berusaha menghubungi HP Ayu. Dan akhirnya ….
“Alhamdulillah dek … kamu di mana sayang …? kenapa barang barang kamu tidak ada semua? kata ibu kos kamu pindah? pindah ke mana? mas ke sana?“ Azriel tidak sabar.
“Aku …mas bisa kita bicara? tolong dengarkan Ayu. Mulai sekarang mas harus fokus dengan keluarga mas. Mas Azriel satu satunya anak Kyai, jadi harapan dan tumpuan keluarga. Turuti kata orang tua mas. Jangan kecewakan mereka. Tolong jalani ini dengan ikhlas. Jadilah anak yang berbakti mas “ Ayu berusaha tenang.
“Mas dengar. Ayu tidak bisa ketemu dengan mas. Karena bapak melarang. Dan Ayu sekarang sudah tidak kos. Kita hanya bisa bicara lewat HP. Aku takut bila mas memaksa bertemu, bapak akan kelewat batas mas. Tolong Ayu“ Ayu tidak mau ketemu dengan Azriel bukan karena dia takut kena pukul bapaknya lagi, tapi justru dia takut jika Azriel yang kena hantaman bapaknya yang temperamen.
“Tolong mas Azriel jalani ini. Ikut kata orang tua mas. Berbaktilah dengan orang tua. Mungkin kita tidak berjodoh mas. Orang tua adalah pilihan terbaik. Belum tentu apa yang kita perjuangkan baik untuk kita. Tapi orang tua kita pasti tahu yang terbaik untuk kita. Ikhlaskan Ayu. Hubungan kita sampai di sini. Sebelum sampai menyakiti lebih jauh. Maaf“ Ayu bergetar mengatakan keputusannya kepada Azriel. Dia membohongi hati yang saat ini sakit, perih rasanya.
“Begitu ya keputusanmu. Sampai sebatas itu saja usaha dek Ayu untuk hubungan kita. Dan mas sekarang tahu … ternyata perasaan dek Ayu hanya sebatas itu. Mungkin mas yang terlalu banyak berharap“ Azriel berlinang air mata. Tubuh kekar dan tampilan yang selalu cool sudah runtuh. Dia tidak bisa berfikir jernih untuk hal ini. Mendengar kata kata Azriel, Ayu diseberang sana terasa lemas. Dia tidak mempunyai daya lagi untuk menopang tubuhnya, ada rasa sakit yang benar benar sakit, ketika dia mendengar kata kata yang jelas menunjukkan hati Azriel yang sangat kecewa dengannya. Ingin sekali dia mengatakan perasaan yang sesungguhnya, perasaan tidak mau berpisah, perasaan tidak akan menyerah dengan rasa cinta yang mendalam.
__ADS_1
“Mas minta maaf dek. Mungkin mas selama ini terlalu memaksa dek Ayu. Hingga dek Ayu … mungkin terpaksa“ Azriel tercekat ketika mengatakannya.
“Mas … Ayu“ Ayu menahan tangisnya dengan meremas ujung bantal yang menjadi tumpuannya.
“Mudah mudahan dek Ayu lulus dengan nilai baik dan bisa melanjutkan pendidikan paling tinggi yang dicitakan. Mas berdoa kamu bisa menjadi perempuan hebat dek. Dan mas yakin kamu bisa. Bila suatu saat dek Ayu butuh tempat bersandar mas selalu ada buat dek Ayu. Mas akan selalu siap mendekapmu. Apapun keadaanmu. InsyALLAH“ kata kata terakhir Azriel sukses membuat hati Azriel mati rasa. Runtuh sudah pertahanannya. Dia mengakhiri panggilan dengan sang penguasa hatinya, dengan hati yang sangat pedih.
Sama halnya dengan Ayu. Tangisan Ayu tak terbendung. Hingga orang yang mendengarnya akan bisa merasakan penderitaan Ayu. Paman dan bibi Ayu, ikut mengelus dada dan berpegangan tangan saling menguatkan mendengar tangisan ponakan mereka. Mereka berdoa, berikan jodoh yang terbaik untuk Ayu. Aamiin. Dua hari Ayu tidak berangkat sekolah dengan alasan sakit. Dan memang dia sakit secara fisik dan psikis. Hari pertama kali Ayu meausk sekolah setelah sakit, dia jalani seperti biasa. Bahkan tidak terlihat terjaid apa apa. Dengan teguh Ayu menghapus nomor Azriel dari ponselnya. Dan Ayu mengganti nomor kontaknya. Ini adalah keputusan Ayu setelah ada paksaan dari bapaknya.
Tunggu dulu Thoooor … lupa ya. Kalau itu HP pemberian Azriel ??? lho lho lho… katanya mau dikembalikan kok gak jadi? Hadeeh … ya udah deh. Ayu gak ngembalikan HP karena
memang tidak punya uang dan ini menjadi benda terakhir yang akan dia simpan untuk mengingat Azriel. Azriel yang selalu mengisi relung hatinya, Azriel yang selalu menemaninya, Azriel yang menjadi penguatnya.
“ Aku akan menjadi perempuan hebat mas. Aku janji. Akan aku buktikan, suatu saat aku akan pantas disandingkan dengan mu. Dan mereka yang memandangku rendah akan memandangku bangga. Aku janji. Bissmillah “.
__ADS_1