
Hari ini cuaca cerah matahari bersinar dengan gagahnya. Pulang sekolah, Ayu istirahat dan melamun. Pikirannya masih dipenuhi dengan kata kata Ustad Azriel. Pandangan matanya terbayang Ustad Azriel. Pernah dia membayangkan duduk bersama Ustad Azriel. Berdekatan … dekaaat sekali. Dan ternyata masuk ke dalam mimpi. Hobi Ayu sepulang sekolah adalah mendengarkan musik. Dia mendengarkan lagu sambil mengerjakan tugas sekolah dan tertidur sejenak. Karena kebiasaannya itu, Ayu cukup banyak menghafalkan lagu lagu baik pop, rock sampai dangdut. Ayu juga dikenal sebagai murid yang cerdas di sekolah. Dari tingkat dasar Ayu selalu mendapat peringkat 1. Dia pun menjadi lulusan dengan nilai terbaik dari SD.
Pukul 14.00 Ayu mulai bersiap mandi dan keperluan lain untuk berangkat ke madrasah. Ayu bergegas berangkat menghampiri Puji karena rumah mereka berdekatan hanya terpisah 3 rumah dari rumah Ayu. Puji ternyata sudah menunggunya di depan rumah sambil menenteng tas yang isinya cukup banyak. Banyak karena hari ini ada 4 pelajaran yang harus diselesaikan. Terakhir mereka menghampiri Sari yang rumahnya berdekatan dengan madrasah. Sari adalah anak dari Kyai Parji. Salah satu kyai terkenal di desa yang merupakan pengurus madrasah dan masjid di Desa. Beliau berteman dekat dengan bapaknya Ustad Azriel.
Di jalan Sari mulai berceloteh. Seperti biasanya dan yang tidak pernah lupa pembicaraannya pasti seputar Ustad Azriel. “Ji … kamu tahu nggak hari ini ada tamu dari pondok pesantren goxxxx lho. Kata abi ku gitu. Pasti mereka mau ketemu Azriel … kalau azriel ganteng kayak gitu … paling tidak teman teman sekolahnya dari pondok pesantren Gxxxxx juga ganteng pasti … aaaahhhh gak sabar aku melihatnya” suaranya manja dan renyah. Begitulah Sari bila bercerita tentang cowok ganteng. Tetiba di madrasah mereka bertiga melewati ruang kantor. Azriel terlihat sibuk dengan beberapa ustad menata meja dan kursi serta berbagai kudapan dan buah di meja untuk menyambut tamu.
“Mas Azriel…tamu tamunya jadi datang jam berapa? tamunya teman semua atau sama kyai? mereka teman sekelas mas atau ada ustad senior mas di pondok pesantren?“ cerocos Sari mendekati Azriel. Badannya melenggok kanan kiri dengan gaya khasnya. Menarik perhatian lawan jenis.
“Ada teman teman ada kyai dan juga senior”.
__ADS_1
“Jam 15.30 mereka sampai” jawab Azriel. Dia menjawab tanpa melihat Sari. Masih sibuk dengan taplak meja yang dia tarik dan tata supaya rapi. Sementara itu Ayu dan Puji hanya memperhatikan kedekatan Ustad Azriel dan Ayu. Mereka hanya diam. Sudah biasa bagi mereka berdua melihat kecentilan Sari dengan ustad-ustad di madrasah ini. Sari cukup dekat dengan mereka. Karena dia anak kyai juga. Ayu dan Puji berdiri menunggu Sari dari luar pintu kantor. Karena terlalu lamanya akhirnya Puji memancing Sari untuk keluar kantor.
( Kok dipancing to tooooor … kayak ikan ajeee … )
Puji “Saaar…ayooo sudah mau bel masuk lho. Sebentar lagi ustad Yayan masuk” kalau gak, aku duluan ya sama Ayu ”
Deg
“Dek Puji sebentar !!!” Azriel.
__ADS_1
“Boleh minta tolong kalian bantu kita menata kantor ini? … masih banyak yang harus dikerjakan. Makanan yang di plastik hasil masakan umi rodiah belum dikeluarkan semua dan belum ditata di piring. Kami masih perlu menyiapkan bahan pelajaran untuk tugas murid-murid karena hari ini kami tidak mengajar. Khusus menyambut tamu” tentu saja Puji bermaksud menolak. Tapi tidak berani. Begitu juga Ayu yang bingung menjawabnya. Sementara Sari langsung berbinar “Tentu saja bisa mas”. Sari tanpa mengajak Puji dan Ayu, dia menuju tempat beberapa bungkus makanan yang masih teronggok di meja.
“Ayo dek masuk saja“ Azriel mempersilakan Ayu dan Puji. Ayu dan Puji saling berpandangan. Saling berkata lewat pandangan. Mereka ingin sekali pergi dan kabur. Terserah mau Sari di situ membantu dan mendekati Azriel. Mereka tidak seperti itu. Bahkan mereka beberapa kali memperingatkan Sari agar tidak kecentilan dengan laki laki terutama ustad-ustad di sini. Dari pada timbul gosip yang tidak - tidak di desa. Tapi sari malah menanggapi dengan enteng. Dia malah senang bila digosipkan dengan salah satu ustad terutama ustad Azriel. Azriel menenteng beberapa bungkus plastik makanan dan diberikan kepada Puji. Dia mengisyaratkan Puji untuk menata makanan-makanan itu di piring piring yang sudah tertumpuk rapi di atas kursi belakangnya. Sementara Puji berjalan menuju tumpukan piring, Azriel mendekati Ayu. Dia mendekat.
“Tolong ambilkan beberapa vas bunga yang ada di meja kerja ku. Di san “ dia menunjuk mejanya yang ada di belakang pojok dekat jendela. Ayu merasa terbebas dari Azriel. Tanpa menunggu dia langsung bergegas menuju meja yang dimaksud Azriel. Tanpa dia sadari, Azriel mengikuti Ayu dari belakang. Saat ayu dengan cepat mengambil vas bunga, di belakangnya, Azriel berbisik. Posisi Ayu saat ini membungkuk untuk mengambil Vas bunga. Azriel berbisik di tengkuk Ayu.
“ Dek …aku tidak punya maksudapa apa dengan perkataanku tadi malam. Maaf bila kata kata ku terlalu kasar. Bukan ada maksud untuk menyinggungmu. Aku hanya tidak rela kamu dekat dengan ustad lain“.
Ayu langsung beringsut memundurkan posisinya supaya tidak terlalu berdekatan dengan Azriel. Dia lumayan risih dengan terlalu dekatnya mereka. Hanya beberapa centi badan mereka berjarak. Bahkan jilbab lumayan panjangnya Ayu bersentuhan dengan wajah Azriel yang saat itu membungkuk untuk berbisik. Posisi mereka seperti sepasang kekasih yang mau berpelukan. Ayu menundukkan pandangannya. Sementara Azriel malah mendekat. Dia tidak peduli dan melupakan bahwa sekarang di ruangan itu masih ada beberapa nyawa yang sedang sibuk menata ruangan. Bisa saja mereka melihat.
__ADS_1
(mulai berani ni si Azriel …. Ayooo ~~~~zriel dekati terus)