Kisahku Dengan Sang Ustad

Kisahku Dengan Sang Ustad
Kemarahan Dion


__ADS_3

Azriel menggandeng Ayu keluar ruangan Diana. Sepanjang menuju pintu keluar melewati koridor panjang, mereka tidak berbicara sedikitpun. Bahkan di lift pun, hanya ada kebisuan. Azriel bahkan memejamkan mata dan menghembuskan nafas beberapa kali.


Sementara di ruang perawatan, Diana masih menangis pilu.


“Hanya kamu mas…yang akan menjadi Ayah dari anakku. Hanya kamu mas Azriel….hiks..hiks…hiks” Diana menangis tersedu. Namun ditangannya dia memagang sebuah foto yang akhirnya dipeluk dalam. Sebuah foto seorang laki-laki. Dipandanginya foto itu dengan mengusap lembut. Terakhir dia mencium lama.


“Aku kangen kamu sayang….” seolah berhadapan dengan sang pria itu, dia berbicara mengutarakan kasih sayang terdalamnya.


Kangen? bukankah dia baru saja ketemu Azriel, kalau itu memang foto Azriel? Atau jangan-jangan…foto itu bukan Azriel? siapa laki-laki di foto itu?


Di mobil, Azriel menenggelamkan kepala di stir mobil. Sepertinya dia memikirkan sesuatu yang berat.


“Aku bingung sayang…kenapa Diana tidak memberitahuku dengan siapa dia hamil…” pertanyaan ambigu Azriel membuat Ayu melihat suaminya itu.


“Padahal selama ini dia satu-satunya orang yang tidak pernah menyimpan rahasia denganku. Hampir tiap hari dia cerita semua yang terjadi dan dari dulu memang dia selalu terbuka. Berbeda dengan Dion, Leon apalagi Lia. beberapa hal tidak mereka ceritakan kepadaku. Tapi Diana…dia selalu menjawab semua pertanyaanku dan selalu berbagi cerita denganku. Tidak ada rahasia” Azriel mengepal tangannya untuk menyangga kepala yang cukup pusing. Pusing karena Diana dan pusing karena hasrat yang tadi pagi juga belum tertuntaskan ya Zriel?


“Kapan terakhir mas ketemu dengan dia?” pertanyaan polos itu meluncur dari bibir manis Ayu.


“Lumayan. Mungkin tiga bulan lalu waktu aku ke Perancis untuk tender…” jawab Azriel.


“Dan kata dokter, Diana hamil berapa bulan?” tanya Ayu tanpa memandang Azriel.


“Dua bulan jalan tiga bulan” Azriel memandang istrinya dengan seksama. Dia ingin tahu kearah mana pembicaraan sang istri. Apa yang ingin dia tahu?

__ADS_1


Ayu menunduk mendengar jawaban Azriel.


“Waktu di Prancis kalian tinggal bersama?” masih menunduk. Azriel terperangahmmendengar pertanyaan dari Ayu. Namun dia masih berusaha menahan, menyelami.


“Iya. Kami satu hotel. Dia minta satu kamar sama aku ….karena memang terbiasa seperti itu. Tapi kami…”


“Jalan…kita pulang” melihat ke arah luar tanpa melihat Azriel.


“Dek dengar…kita harus bicara tentang ini. Jangan ada lagi yang kita sembunyikan apapun itu!” ucap Azriel menghentikan keinginan Ayu.


“Apa lagi yang kamu sembunyikan dariku? selain perlakuan keluargamu ke keluargaku. Ada lagi wanita lain yang kamu sembunyikan…selain Lia, Diana siapa lagi?” jawab Lia.


“Okey…kamu tanya apa sekarang? aku akan jawab semua. Dan aku jamin tidak ada kebohongan dari mas!” tegas Azriel ke istrinya yang mulai mengungkit masalah lalu.


Derap langkah tergesa-gesa seseorang terdengar cukup nyaring dari koridor rumah sakit. Laki-laki tampan bertubuh kekar atletis membawa ransel di punggung dengan jaket bertengger di bahu. Suara pintu terbuka membuat kaget Diana yang sedang melamun.


“Dion…” hentak Diana melihat kembarannya datang tergesa ke kamar.


Greep


Dion memeluk Diana dengan penuh kasih sayang. Didekapnya tubuh berbalut hijab panjang itu erat. Tidak ada suara. Mereka berpelukan seperti puluhan tahun tidak bertemu. Padahal hampir tiap ke Eropa, Dion selalu menyempatkan diri untuk menjemput dan tinggal bersama adiknya itu.


“Katakan…kenapa kamu lakukan ini Din, ada apa? kenapa kamu tidak cerita sama aku? kamu ada masalah apa?” Dion membobardir Diana dengan pertanyaan yang dari tadi bersemayam di otaknya.

__ADS_1


“Kamu tidak perlu melakukan tindakan gila seperti ini Din” lanjut Dion yang tahu dari Azriel bahwa adik kembarannya itu mencoba menyayat urat nadinya.


Tidak ada satu patah kata pun yang diucapkan Diana. Dia semakin memeluk erat Dion. Mencari perlindungan. Dion diam.


“Mungkin Diana butuh waktu untuk cerita” pikir Dion.


Di meja perawat jaga, Dion menyempatkan diri untuk mendaftarkan nomor handphonenya sebagai keluarga menggantikan Azriel. Dia akan mengambil penuh perawatan Diana. Dia tidak mau merepotkan sahabatnya itu. Sudah terlampau banyak yang diberi Azriel ke dia dan keluarga satu-satunya dia, Diana.


Triiiiingggg…tringggggg….tringgggg…


Dion mengambil Hand phone yang dia letakkan di nakas kamar. Setelah mandi dan menyisir rambut tebalnya di kamar hotel yang telah di pesan, dia berencana menemui Azriel.


“Halooo dengan Tuan Dion?” suara dari seberang.


“Iya saya”


“Kami dari rumah sakit pak…kami mau mengabarkan tentang kondisi nona Diana” sahut kembali suara dari seberang.


“Kondisi kehamilan nona Diana cukup serius, beberapa kali mengalami kontraksi dan dokter menyarankan adanya pemeriksaan lebih lanjut untuk menyelamatkan banyinya. Dokter meminta ketemu dengan Tuan”


“Apaaaaaaaaaaa???.....hamiiiiiiilllll????” Dion tersentak. Dia baru mengetahui hal ini. Azriel? dia tidak memberitahukan apa-apa tentang kehamilan Diana.


“Aku tahu dengan siapa kamu hamil Din. Jangan sebut namaku. Bila aku tidak bisa menghajar laki-laki itu” kemarahan Dion menyala. Segera dia sambar jaket dan pistolnya. Rahangnya mengeras dan matanya merah memancarkan kemarahan yang ~~~~teramat dalam.

__ADS_1


__ADS_2